Xi Perintahkan Militer China Percepat Adopsi AI dan Drone: Sinyal Perlombaan Senjata Teknologi
Baca dalam 60 detik
- Presiden Xi Jinping menekankan integrasi AI dan sistem otonom dalam modernisasi militer China, menandakan prioritas strategis di tengah perlombaan teknologi global.
- Instruksi ini muncul menjelang peringatan 100 tahun PLA pada 2027, dengan target pembangunan kekuatan tempur modern yang signifikan.
- Langkah China ini berpotensi memicu kekhawatiran di kawasan Indo-Pasifik, termasuk Indonesia, tentang keseimbangan kekuatan militer dan keamanan regional.

Presiden China, Xi Jinping, secara eksplisit memerintahkan militer untuk mempercepat adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) dan sistem kendali otonom dalam pertahanan. Arahan ini disampaikan dalam sesi studi Politbiro pada Kamis sore, menandakan bahwa modernisasi militer kini bertumpu pada inovasi teknologi sebagai ujung tombak kekuatan tempur.
Langkah ini bukan sekadar wacana. Xi menegaskan pentingnya integrasi antara industri militer dan sipil sebagai "jalan yang diperlukan" untuk membangun tentara modern. Ia juga menggarisbawahi perlunya penguatan indoktrinasi politik di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), seraya mendorong pemberantasan korupsi dan pengawasan ketat terhadap proyek-proyek besar. Ini menunjukkan bahwa transformasi teknologi berjalan seiring dengan upaya konsolidasi internal.
Perintah Xi datang di saat yang krusial. PLA akan merayakan seratus tahun berdirinya pada 2027, tahun yang ia targetkan sebagai momentum pembuktian kemajuan signifikan dalam membangun kekuatan tempur modern. Meskipun operasi sehari-hari militer tampak tidak terganggu oleh kampanye anti-korupsi yang meluas, fokus pada teknologi tinggi justru semakin menguat.
China baru-baru ini memamerkan kemampuan serangan balik keduanya dengan uji coba rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam ke Samudra Pasifik. Selain itu, citra satelit komersial mengindikasikan percepatan pembangunan kapal selam, dengan dua tipe baru yang diluncurkan tahun ini di galangan kapal Jiangnan dan Huludao. Ini adalah sinyal nyata bahwa China tidak hanya berbicara soal teknologi, tetapi juga mewujudkannya dalam kapabilitas militer.
Fokus pada AI dan sistem otonom ini sejalan dengan tren global. Militer di seluruh dunia berlomba mengembangkan drone dan teknologi AI untuk medan perang modern. Beijing meyakini bahwa perang masa depan akan digerakkan oleh intelijen, pasukan elit, dan operasi gabungan. Untuk itu, China memperdalam integrasi militer-sipil, sebuah strategi yang memungkinkan perusahaan teknologi sipil berkontribusi pada inovasi pertahanan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara yang berada di kawasan Indo-Pasifik, Indonesia perlu mencermati keseimbangan kekuatan yang berubah. Meningkatnya kapabilitas militer China, terutama dalam teknologi otonom dan AI, dapat memicu ketegangan regional dan mendorong negara-negara tetangga untuk memperkuat pertahanan mereka. Indonesia, dengan kebijakan bebas-aktifnya, harus cermat dalam menjaga netralitas sambil memastikan keamanan nasionalnya tetap terjaga.
Para analis memperkirakan bahwa perlombaan teknologi militer ini akan semakin intensif dalam beberapa tahun ke depan. Pertanyaannya, bagaimana Indonesia akan merespons? Apakah akan meningkatkan investasi dalam teknologi pertahanan sendiri, atau justru mencari keseimbangan melalui diplomasi dan kerja sama regional? Jawabannya akan menentukan posisi Indonesia dalam peta kekuatan global yang semakin kompleks.



