Belajar dari Jepang: 25 Siswa SMA Diajak Pecahkan Masalah Sosial Lewat Kamp Inkuiri
Baca dalam 60 detik
- Kamp musim panas di Kitakyushu, Jepang, akan melatih 25 siswa SMA untuk merancang solusi atas isu lingkungan dan revitalisasi daerah.
- Program ini menggabungkan pendekatan inkuiri dengan keterlibatan langsung komunitas, termasuk kunjungan ke sekolah yang ditutup.
- Inisiatif ini menjadi contoh bagaimana pendidikan berbasis proyek dapat menjembatani pengetahuan dan aksi nyata, relevan untuk ditiru di Indonesia.

Sebanyak 25 siswa sekolah menengah atas di Kitakyushu, Jepang barat daya, akan mengikuti kamp musim panas selama lima hari pada awal Agustus untuk merancang solusi atas berbagai persoalan sosial, mulai dari kerusakan lingkungan hingga upaya menghidupkan kembali daerah tertinggal. Program ini digagas oleh asosiasi umum "SDGs by people with disabilities" yang berbasis di Distrik Moji, dengan dukungan penuh dari Pusat Kyushu Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA).
Kamp ini bukan sekadar pelatihan biasa. Para peserta akan dibagi ke dalam lima kelompok dan diberikan target spesifik di bawah tema seperti "kesejahteraan komunitas" dan "koeksistensi". Mereka akan berdiskusi intensif dengan pendampingan dari mahasiswa universitas setempat, pemilik usaha, staf JICA, dan pihak terkait lainnya. Ada pula sesi kerja lapangan di sebuah sekolah yang sudah ditutup yang kini dijadikan basis operasional asosiasi. Di hari terakhir, setiap kelompok wajib mempresentasikan proposal solusi yang kemudian akan diuji coba dalam kegiatan nyata pada liburan musim dingin dan semi.
Yang menarik, program ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan aksi. Nozomi Akiyoshi, guru dari SMA Swasta Koryo di Distrik Wakamatsu yang menggagas ide ini, menyoroti bahwa banyak siswa memiliki wawasan luas tetapi kesulitan menerjemahkannya menjadi langkah konkret. "Isu regional tentang 'koeksistensi' itu luas, mencakup lingkungan, manusia, dan hewan. Lewat program ini, saya ingin melahirkan pribadi yang dibutuhkan komunitas," ujarnya dalam pertemuan persiapan pada pertengahan Juni lalu.
Taizo Ichiyanagi, direktur perwakilan asosiasi yang berusia 51 tahun, memperkenalkan sejumlah inisiatif yang sudah berjalan, termasuk bisnis budi daya salmon berbasis darat yang memanfaatkan gedung sekolah yang ditutup tersebut. Menurutnya, pengalaman nyata itu akan menjadi sumber inspirasi besar bagi para siswa. "Upaya-upaya itu akan memberikan petunjuk dan inspirasi utama bagi mereka," kata Ichiyanagi.
- 25 siswa SMA dari Kitakyushu berpartisipasi dalam kamp 5 hari pada awal Agustus.
- Program digagas asosiasi "SDGs by people with disabilities" dan berpusat di JICA Kyushu.
- Lima kelompok dengan tema seperti "kesejahteraan komunitas" dan "koeksistensi".
- Rencana tindak lanjut: uji coba solusi di sekolah tertutup pada liburan musim dingin dan semi.
Bagi Indonesia, model pendidikan inkuiri seperti ini menawarkan pelajaran berharga. Di tengah kurikulum Merdeka yang mendorong pembelajaran berbasis proyek, pendekatan yang menautkan siswa dengan persoalan nyata di sekitarnya dapat memperkuat relevansi pendidikan. Kolaborasi lintas sektor—antara sekolah, pemerintah, dunia usaha, dan organisasi masyarakat—menjadi kunci yang sering kali masih timpang di banyak daerah.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah inisiatif serupa dapat diadaptasi secara lebih luas di Jepang dan negara lain, termasuk Indonesia. Keberhasilan kamp ini tidak hanya diukur dari proposal yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana para siswa mampu menjadi agen perubahan di komunitasnya masing-masing. Jika terbukti efektif, model ini bisa menjadi rujukan bagi kebijakan pendidikan yang lebih berorientasi pada pemecahan masalah nyata.



