Duka Nepal: Nirmal Purja dan Sembilan Pendaki Tewas Tertimbun Longsor di Broad Peak
Baca dalam 60 detik
- Ekspedisi Broad Peak yang menewaskan Nirmal Purja dan sembilan pendaki lain memicu duka mendalam di Nepal dan dunia pendakian.
- Purja, ikon pendakian asal Nepal-Inggris, dikenal setelah memecahkan rekor mendaki 14 puncak tertinggi dunia dalam enam bulan.
- Tragedi ini menyoroti risiko besar pendakian gunung dan kontribusi para pemandu Nepal yang sering menjadi tulang punggung ekspedisi.

Nepal berduka. Nirmal Purja, pendaki legendaris asal Nepal-Inggris, bersama sembilan rekannya dipastikan tewas setelah tertimbun longsoran salju di Broad Peak, Pakistan, pekan lalu. Kabar ini memicu gelombang belasungkawa dari berbagai penjuru dunia, sekaligus menyoroti risiko ekstrem yang dihadapi para pendaki gunung tertinggi di dunia.
Purja, yang akrab disapa Nims, bukan nama asing di dunia pendakian. Ia dikenal luas setelah memecahkan rekor dunia dengan menaklukkan 14 puncak tertinggi di dunia dalam waktu enam bulan dan enam hari pada 2019. Prestasi itu mengangkat namanya ke panggung internasional, terlebih setelah kisahnya diabadikan dalam film dokumenter Netflix pada 2021. Namun, di balik ketenarannya, ia juga menjadi sorotan karena sejumlah tuduhan pelecehan seksual yang dilayangkan dua wanita, meski ia membantahnya melalui pengacara.
Ekspedisi yang membawa Purja dan sembilan pendaki lainโenam di antaranya warga Nepalโterjebak longsor pada Kamis lalu di ketinggian 8.047 meter. Broad Peak dikenal sebagai salah satu gunung paling menantang di dunia, dengan tingkat kematian yang tinggi sejak pendakian pertama pada 1957. Tim yang dipimpin Purja terdiri dari pendaki dari Amerika Serikat, China, Oman, dan Pakistan, serta sejumlah nama besar komunitas pendakian Nepal.
Di antara korban lainnya, ada Pur Bahadur Gurung, yang akrab disapa Yukta, pendaki yang telah mencapai puncak Everest sepuluh kali. Ia juga merupakan bagian dari tim yang menemukan sepatu berusia seabad milik Andrew Irvine, pendaki Inggris yang hilang bersama George Mallory pada 1924. Ada pula Kili Pemba Sherpa, yang ikut dalam ekspedisi bersejarah menaklukkan K2 pada musim dingin 2021, bersama Purja dan tim yang seluruhnya pendaki Nepal.
Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyampaikan belasungkawa dan menyebut keberanian serta dedikasi Purja akan selalu menginspirasi. Di kampung halaman Purja, Sekolah Small Heaven di Chitwan, para siswa dan guru menggelar doa bersama. Sarbagya Paudel, salah satu siswa, mengatakan keberanian Purja menjadi teladan bagi sekolah dan kebanggaan bagi Nepal. Teman sekolahnya, Bahadur Panta, mengaku berdoa tanpa tidur setelah mendengar kabar hilangnya Purja, berharap keajaiban terjadi, meski akhirnya takdir berkata lain.
Kepergian Purja dan rekan-rekannya meninggalkan duka mendalam, terutama bagi keluarga dan komunitas pendakian Nepal. Kamal Purja, kakak kandungnya, menulis di Facebook bahwa ia kehilangan separuh dunianya, namun bangga dengan pencapaian sang adik. "Warisanmu akan hidup selamanya," tulisnya. Ungkapan serupa juga disampaikan rekan pendaki lain, yang menyebut Himalaya kehilangan putra terbaiknya.
Di Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan tingginya minat masyarakat terhadap pendakian gunung, seiring dengan semakin populernya olahraga ini di kalangan anak muda. Namun, kecelakaan seperti ini menegaskan bahwa pendakian gunung ekstrem bukan sekadar petualangan, melainkan aktivitas berisiko tinggi yang menuntut persiapan matang dan penghormatan terhadap alam. Bagi para pendaki Indonesia yang bercita-cita menaklukkan puncak-puncak dunia, kisah Purja adalah bukti bahwa keberanian harus diimbangi dengan kewaspadaan dan penghargaan terhadap nyawa.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah tragedi ini mengubah cara dunia memandang pendakian gunung, atau justru semakin mengukuhkan status para pendaki sebagai pahlawan modern yang rela mempertaruhkan segalanya demi menaklukkan puncak?



