Grosso Dipecat Fiorentina, Karier Kepelatihan Italia Kembali Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Fabio Grosso kehilangan kursi pelatih Fiorentina setelah tiga kekalahan beruntun di Serie A, hanya berselang tiga bulan sejak ditunjuk.
- Pemecatan ini membuka kembali polemik di balik pemilihan pelatih Timnas Italia yang sempat melibatkan nama Grosso, Pirlo, dan De Rossi.
- Keputusan FIGC dan dinamika politik internal disebut-sebut menjadi faktor yang menghambat regenerasi kursi pelatih Italia.

Kabar mengejutkan datang dari Serie A: Fabio Grosso resmi berhenti sebagai pelatih Fiorentina setelah hanya tiga bulan menjabat. Kekalahan beruntun yang dialami La Viola menjadi pemicu utama, sekaligus membuka kembali luka lama soal bagaimana Italia memilih arsitek tim nasionalnya.
Grosso, yang musim lalu sukses membawa Sassuolo bertahan di Serie A, dianggap sebagai salah satu pelatih muda paling menjanjikan di Italia. Kepercayaan Fabio Paratici untuk menukangi Fiorentina sempat dianggap langkah tepat. Namun, tiga kekalahan beruntun membuat manajemen klub mengambil keputusan tegas: memulangkan Paolo Vanoli, yang justru baru ditinggalkan tiga bulan lalu.
Di balik karier Grosso yang kini menanjak, namanya sempat mencuat dalam bursa pelatih Timnas Italia. Paolo Maldini, yang sempat menjabat direktur teknis FIGC pada Juli lalu, tercatat memasukkan Grosso dalam daftar kandidat bersama Andrea Pirlo dan Daniele De Rossi. Namun, proses seleksi yang alot justru berakhir dengan kekacauan politik dan mundurnya Maldini.
Maldini, yang dikenal sebagai legenda AC Milan, mengawali tugasnya dengan pendekatan ambisius. Ia sempat membidik Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola, sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada Pirlo. Namun, rencana tersebut gagal total setelah muncul skandal politik terkait peran Pirlo sebagai duta merek perusahaan taruhan asal Rusia. FIGC, yang saat itu dipimpin Giovanni Malagรฒ, akhirnya mengambil alih kendali dan menunjuk Roberto Mancini sebagai pelatih, dengan Claudio Ranieri sebagai direktur teknis.
Maldini dan penasihatnya, Leonardo, menilai bahwa skandal tersebut hanyalah dalih untuk membatasi ruang gerak mereka. Mereka menginginkan proyek jangka panjang dengan pelatih muda yang memiliki ikatan historis dengan tim nasional, seperti Grosso atau De Rossi. Namun, karena keduanya masih terikat kontrak dengan klub Serie A, FIGC tidak bisa menghubungi mereka secara langsungโsebuah aturan yang disepakati bersama presiden klub.
โKami menginginkan pelatih muda yang memiliki sejarah di tim nasional. Ada tiga nama (selain Pirlo), yaitu Daniele De Rossi dan Fabio Grosso,โ ujar Maldini beberapa waktu lalu.
Keputusan FIGC untuk memilih Mancini, yang notabene pelatih senior, dianggap oleh sebagian pengamat sebagai langkah aman di tengah tekanan politik. Namun, hal ini justru memicu kritik, terutama setelah kegagalan Italia di Piala Dunia 2022 dan awal yang kurang meyakinkan di kualifikasi Euro 2024. Banyak yang menilai bahwa Italia butuh sosok muda yang segar, bukan kembali ke wajah-wajah lama.
Bagi Indonesia, dinamika ini menarik untuk dicermati. Sepak bola nasional juga tengah berupaya mencari keseimbangan antara pelatih berpengalaman dan regenerasi. Kasus Grosso menunjukkan bahwa karier kepelatihan bisa berubah drastis dalam hitungan bulan, dan keputusan federasi sering kali dipengaruhi oleh faktor di luar lapangan. Pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya stabilitas dan visi jangka panjang dalam membangun sebuah tim, baik di level klub maupun nasional.
Kini, dengan Grosso yang menganggur, pertanyaan besarnya adalah: akankah ia segera mendapatkan pekerjaan baru, atau justru menjadi kandidat kuat untuk menukangi tim nasional di masa depan? Sementara itu, Fiorentina harus segera bangkit dari keterpurukan, dan Vanoli dituntut untuk membuktikan bahwa kepulangannya bukan sekadar solusi darurat. Apakah keputusan Fiorentina ini akan membawa perubahan positif, atau justru menjerumuskan klub ke dalam krisis yang lebih dalam? Hanya waktu yang bisa menjawab.



