Gempa Kumamoto: Lima Pekerja Migran Vietnam Jadi Pahlawan Selamatkan Nenek 90 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Lima pemuda asal Vietnam yang bekerja di pertanian brokoli di Yatsushiro, Kumamoto, berhasil mengevakuasi seorang lansia dari reruntuhan rumahnya pasca gempa berkekuatan 6+ skala intensitas Jepang.
- Aksi heroik ini terjadi pada 28 Juli lalu, di mana para pekerja migran tersebut bahu-membahu dengan warga setempat menggunakan gergaji untuk memotong puing-puing dan mengeluarkan korban dalam 30 menit.
- Insiden ini menyoroti peran penting pekerja migran di Jepang, sekaligus menjadi pengingat akan kerentanan mereka saat bencana, terutama setelah satu rekan senegaranya tewas di pabrik terdekat.

Lima pemuda asal Vietnam yang tengah bekerja di sebuah pertanian brokoli di Kota Yatsushiro, Prefektur Kumamoto, Jepang, menjadi sorotan setelah bertindak cepat menyelamatkan seorang nenek berusia 90-an dari reruntuhan rumahnya yang ambruk akibat gempa bumi dahsyat. Peristiwa yang terjadi pada 28 Juli lalu itu tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menjadi simbol solidaritas lintas negara di tengah musibah.
Kelima pekerja migran yang memiliki status residensi "specified skilled worker" itu tinggal di distrik Kozenjimachi dan telah berada di Jepang antara satu hingga empat tahun. Saat gempa berkekuatan upper 6 pada skala intensitas seismik 7 poin Jepang mengguncang, mereka tengah tertidur setelah menyelesaikan shift kerja dari pagi buta. Guncangan keras itu membangunkan mereka, dan saat melihat ke luar, mereka mendapati rumah di sebelah telah hancur parah.
Tanpa ragu, salah satu dari mereka berteriak, "Nenek di dalam rumah!" Sang nenek yang tinggal seorang diri memang dikenal akrab dengan para pekerja migran itu, kerap menyapa mereka setiap hari. Bersama putri sang nenek yang bergegas datang, mereka berupaya mencari celah di antara puing-puing. Dua orang di antaranya merangkak mendekati lubang dan memanggil-manggil, "Nenek, nenek," hingga mendapat respons lemah dari dalam.
Warga sekitar pun ikut berkumpul. Dengan sebuah gergaji yang dipinjam dari rumah tetangga, mereka bergantian memotong kayu-kayu yang menghimpit. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk akhirnya mengeluarkan sang nenek yang menderita patah kaki namun masih sadar. "Setiap hari saat saya pergi bekerja, beliau selalu menyapa dengan ramah. Saya menganggapnya seperti nenek sendiri. Saya benar-benar bersyukur beliau selamat," ujar Le Huy Tuan, 25 tahun, salah satu penyelamat, seperti dikutip dari Mainichi Shimbun.
Kazunori Nishida, 75 tahun, tetangga yang ikut membantu, mengaku tiba tepat saat korban dikeluarkan. "Karena kelima pemuda itu bertindak cepat, beliau bisa selamat. Ini sungguh luar biasa," katanya dengan lega. Namun, di balik aksi heroik tersebut, para pekerja migran ini juga tengah menghadapi kesulitan. Rumah mereka sendiri rusak parah, dengan perabotan berserakan. Mereka terpaksa tidur di mobil dan kontainer di area tempat kerja, serta kekurangan air minum.
Di kota tetangga Kosa, duka mendalam menyelimuti komunitas Vietnam. Seorang pemagang teknis asal Vietnam berusia 20-an tewas tertimpa reruntuhan pabrik, dan pemakamannya digelar pada 1 Agustus. "Gempa ini benar-benar menakutkan. Sebagai sesama orang Vietnam, saya turut berduka. Kita harus bersatu melewati masa sulit ini," ujar seorang perempuan Vietnam berusia 37 tahun yang juga terlibat dalam penyelamatan.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan peran vital pekerja migran di Jepang, yang jumlahnya terus meningkat. Di sisi lain, insiden ini juga menyoroti kerentanan mereka, terutama dalam situasi darurat. Bagi Indonesia, yang juga memiliki banyak pekerja migran di Jepang, kisah ini relevan. Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) mencatat ribuan WNI bekerja di sektor pertanian dan perikanan Jepang. Pertanyaannya, apakah mekanisme perlindungan dan tanggap darurat bagi mereka sudah memadai? Kejadian di Kumamoto ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah Indonesia untuk memastikan keselamatan warganya di luar negeri, terutama di negara rawan gempa seperti Jepang.



