Tujuh Jurnalis Hilang Kontak di Perairan Anak Krakatau: Pencarian Terus Berlangsung
Baca dalam 60 detik
- Tujuh wartawan yang menuju lokasi erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan putus komunikasi sejak Senin sore.
- Basarnas Banten mengerahkan tim pencarian setelah sinyal terakhir diterima dari salah satu korban di Selat Sunda.
- Insiden ini menyoroti risiko tinggi peliputan bencana alam yang menuntut kesiapan dan protokol keselamatan jurnalis.

Sebanyak tujuh jurnalis yang berangkat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dilaporkan kehilangan kontak sejak Senin, 7 September 2026. Hingga Selasa siang, tim gabungan Basarnas masih menyisir perairan sekitar untuk menemukan keberadaan mereka. Insiden ini memicu kekhawatiran akan keselamatan awak media yang kerap bertugas di zona bencana.
Menurut Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, rombongan tersebut bertolak dari dermaga Pagedongan, Carita, sekitar pukul 14.00 WIB dengan menggunakan kapal. Mereka berniat mendokumentasikan secara langsung kondisi terkini Gunung Anak Krakatau yang tengah menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Namun, komunikasi terakhir dengan salah seorang jurnalis diterima kurang dari satu jam setelah keberangkatan.
Amrad menjelaskan bahwa seorang jurnalis yang berada di Lampung, bernama Abay, sempat menerima kiriman lokasi terakhir dari rekannya pada pukul 14.42 WIB. Setelah itu, tidak ada lagi kabar yang bisa diterima. "Pada pukul 15.04 terjadi hilang kontak," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima media, Selasa. Hingga berita ini diturunkan, belum ada satu pun dari ketujuh wartawan yang berhasil ditemukan.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan bahaya yang mengintai jurnalis saat meliput bencana alam. Anak Krakatau, yang terletak di Selat Sunda, memang dikenal memiliki karakter letusan yang sulit diprediksi. Pada 2018 lalu, erupsi gunung ini bahkan memicu tsunami yang menewaskan ratusan orang. Kondisi cuaca dan gelombang laut yang dinamis di sekitar kawasan tersebut kerap menjadi tantangan tambahan bagi siapa pun yang beraktivitas di sana.
Dari sisi regulasi, insiden ini menyoroti perlunya standar keselamatan yang lebih ketat bagi media yang bertugas di area rawan bencana. Sejumlah pengamat menilai, koordinasi antara awak media, otoritas pelabuhan, dan badan penanggulangan bencana perlu diperkuat. Protokol komunikasi darurat dan penggunaan alat pelacak satelit bisa menjadi langkah mitigasi untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
Bagi pembaca di Indonesia, kabar ini bukan sekadar berita duka, melainkan juga alarm akan pentingnya keselamatan kerja di sektor jurnalistik. Profesi wartawan memang menuntut keberanian untuk berada di garis depan, namun bukan berarti mengabaikan risiko. Kasus ini juga membuka diskusi tentang tanggung jawab perusahaan media dalam memastikan perlindungan bagi para jurnalis lapangannya.
Hingga saat ini, tim SAR gabungan yang melibatkan Basarnas, Polairud, dan relawan masih terus melakukan pencarian di sekitar perairan Carita hingga Selat Sunda. Pencarian difokuskan di sepanjang jalur yang biasa dilalui kapal menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Kondisi cuaca yang dilaporkan cukup bersahabat pada Selasa pagi diharapkan dapat mempercepat proses evakuasi.
Pertanyaan yang kini menggantung adalah apakah insiden ini akan mendorong perubahan kebijakan keselamatan peliputan bencana di Indonesia? Atau justru menjadi catatan kelam yang kembali terlupakan setelah operasi pencarian usai? Yang jelas, nyawa tujuh jurnalis sedang dipertaruhkan, dan seluruh negeri menanti kabar baik dari tim penyelamat.



