Pemanis Xylitol Terkait Risiko Serangan Jantung: Studi 17.710 Partisipan Beri Peringatan
Baca dalam 60 detik
- Riset observasional multi-negara mengaitkan kadar xylitol tinggi dengan peningkatan kejadian kardiovaskular hingga 57% dalam enam tahun.
- Para ahli kini mempertanyakan asumsi bahwa pemanis rendah kalori selalu lebih aman daripada gula, terutama bagi kelompok berisiko.
- Temuan ini menuntut uji klinis lebih lanjut dan mendorong konsumen Indonesia untuk lebih selektif memilih produk bebas gula.

Pemanis rendah kalori yang banyak dijumpai pada permen karet dan makanan olahan kembali menjadi sorotan setelah sebuah studi terbaru mengaitkannya dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke. Riset yang dipresentasikan dalam Kongres European Society of Cardiology (ESC) 2026 ini menganalisis data dari lebih dari 17.700 partisipan di Amerika Utara dan Eropa, menemukan bahwa kadar xylitol yang tinggi dalam darah berhubungan dengan kenaikan angka kejadian kardiovaskular fatal hingga 57 persen dalam periode pengamatan enam tahun.
Xylitol, sejenis alkohol gula yang lazim dipakai sebagai pengganti gula, selama ini dianggap sebagai pilihan sehat karena tidak memicu lonjakan gula darah maupun kerusakan gigi. Namun, temuan yang dipaparkan tim peneliti dari Charitรฉ University Hospital, Berlin, justru menunjukkan efek sebaliknya. Dr. Marco Witkowski, penulis utama studi, mengungkapkan bahwa penelitian sebelumnya telah membuktikan xylitol mampu meningkatkan kemampuan trombosit untuk membentuk gumpalan darah, dan kini bukti tersebut diperkuat dengan data jangka panjang pada populasi umum.
Studi ini menggabungkan dua riset observasional besar, yaitu Canadian Longitudinal Study on Aging (CLSA) yang memantau partisipan selama enam tahun, serta European Prospective Investigation into Cancer (EPIC)-Norfolk dengan masa tindak lanjut hingga tiga dekade. Setelah menyesuaikan faktor risiko tradisional seperti usia, diabetes, dan hipertensi, para peneliti menemukan pola yang konsisten: semakin tinggi kadar xylitol dalam plasma darah, semakin besar pula risiko mengalami serangan jantung, stroke, atau kematian akibat penyakit kardiovaskular. Pada kelompok dengan kadar xylitol tertinggi, risiko kejadian tersebut melonjak 57 persen dalam enam tahun, sementara pada studi 30 tahun angkanya mencapai 18 persen.
Yang lebih mengkhawatirkan, hubungan ini bersifat independen terhadap faktor lain seperti indeks massa tubuh, diabetes, atau tekanan darah tinggi. Artinya, efek negatif xylitol tampaknya tidak semata-mata dipicu oleh kondisi kesehatan yang menyertainya. Dr. Witkowski menekankan bahwa temuan ini menyoroti betapa minimnya pengetahuan tentang keamanan kardiovaskular xylitol, terutama karena jumlah pemanis tersebut dalam produk konsumen terus bertambah. Ia menegaskan bahwa studi lanjutan sangat diperlukan untuk memastikan hubungan sebab-akibat yang sesungguhnya.
Komentar senada disampaikan Dr. Stanley Hazen, ketua departemen riset jantung di Cleveland Clinic, yang merekomendasikan pasiennya, terutama mereka yang memiliki penyakit jantung atau berisiko tinggi, untuk menghindari pemanis non-nutritif seperti xylitol dan erythritol. Sementara itu, Dr. Cheng-Han Chen, ahli jantung intervensi dari MemorialCare Saddleback Medical Center, mengingatkan bahwa temuan ini tidak membuktikan bahwa pemanis buatan menyebabkan serangan jantung secara langsung. Namun, ia menyarankan agar masyarakat tidak lagi menganggap pemanis buatan sebagai pilihan yang otomatis lebih sehat dibanding gula.
Bagi konsumen Indonesia, temuan ini menjadi pengingat penting di tengah maraknya produk berlabel "bebas gula" atau "low calorie" yang menggunakan xylitol sebagai pemanis. Mulai dari permen karet, minuman diet, hingga produk oral care, xylitol kerap dipasarkan sebagai solusi sehat. Namun, para ahli menyarankan agar masyarakat tidak terjebak pada asumsi bahwa semua pemanis buatan aman dikonsumsi dalam jumlah besar. Seperti diungkapkan Dr. Chen, memilih makanan manis alami seperti buah utuh yang kaya serat dan nutrisi bisa menjadi alternatif yang lebih bijak.
Meski demikian, para peneliti menggarisbawahi bahwa studi ini bersifat observasional, sehingga belum bisa memastikan xylitol sebagai penyebab langsung. Dr. Hazen menambahkan bahwa penelitian pada model hewan dan manusia sejauh ini memang mendukung adanya keterkaitan antara konsumsi xylitol dengan peningkatan respons trombosit dan potensi pembentukan bekuan darah. Namun, uji klinis acak yang lebih ketat masih dinantikan untuk memberikan jawaban definitif.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah badan regulasi pangan di berbagai negara, termasuk Indonesia, akan meninjau ulang status keamanan xylitol berdasarkan bukti-bukti terbaru ini. Sementara itu, langkah paling masuk akal bagi konsumen adalah tetap waspada dan tidak mengandalkan pemanis buatan sebagai solusi tunggal untuk hidup sehat. Apakah industri pangan akan merespons temuan ini dengan mengganti formulasi produknya, atau justru menunggu konfirmasi lebih lanjut? Waktu yang akan menjawab, namun kesadaran publik kini mulai terbentuk.



