Kisah Nikita Kuwadekar, Gen Z Hong Kong yang Bangun Merek Kopi Oat Kaleng Usai Operasi Jantung
Baca dalam 60 detik
- Nikita Kuwadekar, 23 tahun, mendirikan Busy Brew, merek kopi kaleng berbasis oat pertama di Hong Kong, setelah kesulitan menemukan produk bebas laktosa.
- Perjalanan bisnisnya tidak mulus: ia menjalani operasi jantung terbuka saat SMA, menolak diet ketat, dan meninggalkan pekerjaan kantoran demi membangun merek dari nol.
- Keberhasilan Busy Brew menyoroti peluang pasar minuman nabati di Asia, termasuk Indonesia, yang diproyeksikan tumbuh pesat dalam beberapa tahun ke depan.

Seorang perempuan muda asal Hong Kong, Nikita Kuwadekar (23), membuktikan bahwa keterbatasan bisa menjadi peluang bisnis. Setelah didiagnosis intoleransi laktosa dan menjalani operasi jantung terbuka saat masih duduk di bangku SMA, ia kesulitan menemukan kopi kaleng berbahan dasar oat di pasaran. Kini, merek yang ia dirikan, Busy Brew, diklaim sebagai pelopor kopi kaleng nabati pertama di Hong Kong.
Kuwadekar lahir dengan kelainan jantung bawaan. Operasi besar yang harus dijalaninya di usia remaja memaksanya mengubah pola makan secara drastis—menghindari produk susu dan gula demi mempercepat pemulihan. Hasilnya positif: kulitnya membaik dan energinya pulih. Namun, perubahan gaya hidup ini justru mengungkap celah pasar yang belum tergarap: kopi kaleng siap saji yang ramah bagi konsumen intoleran laktosa.
“Saya tidak bisa menemukan satu pun kopi oat kaleng di rak toko,” ujar Kuwadekar, seperti dikutip dari South China Morning Post. “Saya tahu ada banyak orang seperti saya yang menginginkan pilihan lebih sehat tanpa harus mengorbankan rasa.”
Perjalanan membangun Busy Brew tidak instan. Kuwadekar harus melewati berbagai penolakan dari investor dan mitra produksi. Ia juga meninggalkan pekerjaan kantoran yang stabil untuk menekuni dunia wirausaha yang penuh ketidakpastian. Di balik unggahan Instagram yang rapi dan sejumlah penghargaan, ia mengaku sempat kewalahan mengelola produksi, distribusi, dan pemasaran sendirian.
Meski demikian, kegigihannya mulai membuahkan hasil. Busy Brew kini mendapat tempat di beberapa gerai ritel dan kafe lokal. Menurut analis industri minuman, permintaan akan produk nabati di Asia terus meningkat, terutama di kalangan konsumen muda yang peduli kesehatan dan lingkungan. “Generasi Z cenderung memilih produk yang selaras dengan nilai mereka, termasuk bebas laktosa dan minim gula,” ujar seorang pengamat pasar ritel di Hong Kong.
Fenomena Busy Brew juga relevan bagi pasar Indonesia. Data dari lembaga riset pasar menunjukkan bahwa konsumsi minuman nabati di Indonesia tumbuh dua digit dalam tiga tahun terakhir. Meski belum sebesar pasar kopi konvensional, segmen ini menarik perhatian investor karena marginnya lebih tinggi dan loyalitas konsumennya kuat. Beberapa merek lokal mulai merambah kategori serupa, meski belum ada yang secara spesifik menyasar kopi oat kaleng.
Ke depan, tantangan terbesar Kuwadekar adalah memperluas skala produksi tanpa mengorbankan kualitas dan konsistensi rasa. Ia juga berencana masuk ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam dua tahun mendatang. Jika berhasil, Busy Brew bisa menjadi contoh bagaimana bisnis yang lahir dari kebutuhan pribadi mampu mengubah lanskap industri minuman di kawasan.
Pertanyaannya, akankah merek-merek besar di Indonesia terinspirasi untuk menyediakan opsi nabati yang lebih terjangkau? Atau justru pemain kecil seperti Busy Brew yang akan mendominasi ceruk ini?



