Menggeser Peran Singapura: Perta Arun Gas Kukuhkan Diri sebagai Pusat LNG Asia
Baca dalam 60 detik
- PT Perta Arun Gas (PAG) mencatat pendapatan US$105 juta sepanjang 2025, dengan laba bersih US$25,1 juta, dari operasional 49 kegiatan bongkar muat LNG.
- Layanan unggulan Gassing Up and Cooling Down (GUCD) menjadi primadona yang menarik minat konsumen internasional seperti TotalEnergies dan Kyushu Electric.
- Posisi strategis PAG di Aceh memperkuat daya saing Indonesia sebagai hub LNG regional, menantang dominasi Singapura di pasar Asia.

PT Perta Arun Gas (PAG), anak usaha Pertamina yang mengelola terminal penerimaan dan pengiriman LNG di Aceh, menegaskan kapasitasnya kini sejajar dengan Singapura sebagai pusat distribusi gas alam cair (LNG) di Asia. Klaim ini disampaikan Direktur Finance & GS PAG, Muhammad Yudi Setiawan, di sela paparan kinerja perusahaan, Selasa (8/9/2026).
Sepanjang 2025, PAG mengelola 49 kegiatan operasional yang mencakup 27 kali proses pembongkaran (unloading), 11 kali pengiriman ulang (reloading), dan 11 kali layanan pengisian awal serta pendinginan tangki kapal atau fasilitas penyimpanan (GUCD). Volume LNG yang dibongkar mencapai 1,49 juta meter kubik, setara dengan 34,8 juta MMBTU, sementara pengiriman ulang menembus 1,16 juta meter kubik dengan nilai energi 27 juta MMBTU.
Yang menarik, layanan GUCD yang selama ini jarang menjadi sorotan justru menyumbang pendapatan signifikan. Dengan volume 176.847 meter kubik atau setara 4,1 juta MMBTU, layanan ini menjadi bukti bahwa PAG tidak hanya mengandalkan aktivitas bongkar muat konvensional. "Perta Arun sudah bisa disejajarkan dengan Singapura sebagai hub LNG di Asia," ujar Yudi, menekankan bahwa perusahaan telah berevolusi dari sekadar terminal penerima menjadi penyedia jasa bernilai tambah.
Dari sisi finansial, PAG membukukan pendapatan US$105 juta sepanjang 2025 dengan laba bersih US$25,1 juta. Capaian ini, menurut Yudi, memberikan kontribusi positif bagi laporan konsolidasi subholding gas Pertamina. Saat ini, dua konsumen utama yang memanfaatkan fasilitas PAG adalah TotalEnergies Gas & Power Asia Private Limited (TEGPA) dan Kyushu Electric Power dari Jepang. Kehadiran dua raksasa energi ini mengindikasikan kepercayaan pasar internasional terhadap infrastruktur dan keandalan operasional PAG.
Bagi Indonesia, penguatan peran PAG memiliki implikasi strategis yang luas. Di tengah upaya pemerintah mendorong hilirisasi dan pemanfaatan gas domestik, keberadaan hub LNG di Aceh dapat memperpendek rantai pasok energi untuk kawasan barat Indonesia. Lebih dari itu, posisi geografis Aceh yang berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka menjadikannya titik persinggahan ideal bagi kapal-kapal LNG yang melintas antara Timur Tengah, Asia Timur, dan Australia. Jika PAG mampu mempertahankan standar layanan dan efisiensi biaya, bukan tidak mungkin Indonesia akan semakin diperhitungkan sebagai pemain kunci dalam arsitektur perdagangan LNG regional, mengurangi ketergantungan pada hub Singapura yang selama ini dominan.
Namun, tantangan tetap ada. Persaingan dengan fasilitas serupa di Malaysia dan Singapura yang telah lebih dulu mapan menuntut PAG untuk terus berinovasi, baik dari sisi teknologi maupun skema komersial. Pertanyaan yang menggantung adalah apakah PAG dapat menarik lebih banyak konsumen jangka panjang dan memperluas kapasitasnya seiring meningkatnya permintaan LNG dari negara-negara Asia yang tengah bertransisi energi. Jawabannya akan menentukan apakah Aceh benar-benar menjelma menjadi "Singapura-nya" Indonesia di sektor gas alam cair.



