Brazil Melonjak Jadi Pembeli Mobil China Terbesar Dunia, Impor Naik 147%
Baca dalam 60 detik
- Dalam lima bulan pertama tahun ini, Brasil mengimpor mobil China senilai US$5,2 miliar, menggeser Rusia dan Belgia.
- Lonjakan ini didorong oleh kendaraan listrik dan hybrid, yang mencapai 87% dari total impor mobil China tahun lalu.
- Kebijakan tarif baru Brasil dan percepatan negosiasi dagang dengan China menandai pergeseran strategis di tengah tekanan tarif AS.

Brasil kini menjadi pasar terbesar bagi mobil buatan China di dunia, dengan nilai impor yang melonjak 146,9% menjadi US$5,2 miliar pada periode Januari–Mei tahun ini, menggeser Rusia dan Belgia yang sebelumnya menduduki peringkat teratas. Data bea cukai China menunjukkan bahwa para produsen otomotif Negeri Panda berlomba mengirimkan unit sebelum Brasil menaikkan tarif impor kendaraan listrik pada Juli lalu.
Lonjakan ini terutama ditopang oleh kendaraan elektrifikasi, yang menyumbang US$4,5 miliar dari total nilai impor. Konsentrasi pengiriman yang tinggi pada April–Mei, mencapai US$2,7 miliar, mengindikasikan aksi borong stok menjelang perubahan tarif, bukan permintaan yang berkelanjutan. Brasil juga menempati peringkat pertama dunia untuk impor mobil listrik dan hybrid, mengungguli Belgia dan Inggris.
Perubahan komposisi impor ini sangat dramatis. Pada 2021, kendaraan listrik dan hybrid hanya mencakup 33% dari impor mobil China ke Brasil, namun tahun lalu porsinya melonjak menjadi 87%. Data dari sekretariat perdagangan luar negeri Brasil yang dihimpun Dewan Bisnis Brasil-China mencatat pembelian semester pertama mencapai US$5,35 miliar, lebih dari dua kali lipat nilai impor kendaraan dari Prancis. Plug-in hybrid mendominasi dengan nilai US$2,79 miliar, dan kini kendaraan elektrifikasi mewakili sekitar 15% dari total impor Brasil dari China.
Lonjakan impor ini terjadi bersamaan dengan perubahan kebijakan perdagangan Brasil yang paling signifikan dalam satu dekade terakhir. Presiden Luiz Inacio Lula da Silva dan Presiden China Xi Jinping sepakat dalam panggilan telepon untuk mempercepat negosiasi perjanjian dagang antara China dan Mercosur, sebuah langkah yang selama bertahun-tahun dihindari Brasil. Keputusan ini muncul setelah Amerika Serikat memberlakukan tarif 25% untuk sebagian ekspor Brasil dan mengumumkan tarif tambahan 12,5% untuk 60 mitra dagang, termasuk Brasil.
Brasil kini menerapkan kebijakan dua jalur yang sulit diselaraskan. Di satu sisi, tarif impor kendaraan elektrifikasi dinaikkan menjadi 35% pada awal Juli, sebagai langkah final dari jadwal yang ditetapkan 2024. Di sisi lain, pemerintah memberikan kuota bebas tarif senilai US$463 juta untuk impor kit kendaraan semi-terurai (SKD) dan terurai penuh (CKD), yang memicu protes dari Asosiasi Produsen Kendaraan Bermotor Brasil (Anfavea). Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi menarik pabrikan China untuk membangun pabrik di dalam negeri, dengan setidaknya delapan merek China yang sudah beroperasi atau berencana melakukannya.
Dampaknya mulai terasa di pasar domestik Brasil. Harga transaksi rata-rata kendaraan ringan baru turun 3,5% secara riil menjadi 152.100 real (sekitar US$29.800) pada Juni, penurunan pertama sejak 2020. Sementara itu, harga daftar hanya turun 1,5%, menunjukkan bahwa merek-merek mapan mempertahankan harga resmi namun memperlebar diskon dan promosi untuk melawan pesaing China yang kini menguasai 16,5% pangsa pasar. Model BYD Dolphin Mini, hatchback listrik dengan harga mulai US$21.500, bahkan menjadi mobil terlaris di Brasil pada Februari, menggeser Volkswagen.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin menarik. Pasar otomotif Indonesia juga dibanjiri merek China, terutama kendaraan listrik seperti Wuling, DFSK, dan Chery. Pemerintah Indonesia tengah mendorong produksi lokal melalui insentif, namun harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam dilema serupa: melindungi industri dalam negeri sambil memenuhi kebutuhan konsumen akan mobil murah. Pengalaman Brasil menunjukkan bahwa keseimbangan itu rapuh, dan keputusan tarif yang terlalu tinggi bisa memicu aksi borong yang justru memperbesar defisit neraca dagang.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Brasil mampu mengelola transisi ini tanpa mengorbankan industri otomotif lokalnya. Dengan defisit neraca otomotif yang mencapai rekor terburuk sejak 1997, tekanan terhadap pemerintah Brasil akan semakin besar. Sementara itu, China terus memperkuat dominasinya di pasar global, dan Indonesia perlu belajar dari langkah Brasil dalam merespons gelombang mobil China.



