Vonis Bebas Yung Filly: Rapper Inggris Lolos dari Tuduhan Pemerkosaan, tapi Dua Dakwaan Penganiayaan Menghantui
Baca dalam 60 detik
- Juri di Australia membebaskan Yung Filly dari tiga dakwaan pemerkosaan, namun menyatakan ia bersalah atas dua tuduhan penyerangan.
- Kasus ini menyoroti kompleksitas hukum pidana di Australia, di mana juri yang menggantung pada tiga dakwaan lain membuka peluang penuntutan ulang.
- Putusan ini berpotensi memengaruhi karier Yung Filly di industri hiburan global, termasuk di Indonesia yang mengikuti perkembangan kasusnya.

Rapper asal Inggris, Yung Filly, yang dikenal luas melalui kanal YouTube-nya, akhirnya mendengar vonis bebas dari tuduhan pemerkosaan terhadap seorang penggemar di Australia. Namun, kebebasan itu tidak sepenuhnya utuh, karena ia tetap dinyatakan bersalah atas dua tuduhan penyerangan dalam kasus yang berlangsung di Pengadilan Distrik Perth pada Jumat lalu.
Andres Felipe Valencia Barrientos, nama asli Yung Filly, menghadapi serangkaian dakwaan terkait insiden yang terjadi pada 2024 di Hillarys, sebuah kawasan pesisir Perth. Saat itu, ia baru saja selesai tampil di sebuah klub malam dan kemudian berinteraksi dengan seorang wanita berusia 20 tahun di kamar hotelnya. Jaksa menuntutnya atas tiga tuduhan penetrasi seksual tanpa persetujuan, satu tuduhan penyerangan yang menyebabkan cedera, serta satu tuduhan pencekikan.
Setelah proses persidangan yang panjang, juri akhirnya memutuskan tidak bersalah untuk tiga tuduhan pemerkosaan, satu tuduhan penyerangan yang menyebabkan cedera, dan tuduhan pencekikan. Namun, untuk tiga tuduhan penetrasi seksual lainnya, juri gagal mencapai kata sepakat, yang berarti kasus tersebut menggantung. Sementara itu, dua tuduhan penyerangan lainnya berujung vonis bersalah.
Keputusan juri yang terbelah ini menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana sistem peradilan Australia menangani kasus-kasus kekerasan seksual. Menurut pengamat hukum di Perth, putusan seperti ini sering kali menjadi ujian bagi ketahanan mental korban dan juga bagi kredibilitas sistem peradilan. โKetika juri tidak bulat, itu menunjukkan bahwa bukti yang diajukan tidak cukup kuat untuk meyakinkan semua pihak, tetapi juga tidak cukup lemah untuk dibebaskan sepenuhnya,โ ujar seorang analis hukum yang enggan disebut namanya.
Bagi Yung Filly, yang juga dikenal sebagai presenter dan anggota kolektif YouTube Beta Squad, vonis ini menjadi babak baru dalam kariernya yang sempat redup akibat kasus ini. Ia pernah tampil di acara Bake Off selebriti di Channel 4 dan membawakan program BBC Three. Meski demikian, bayang-bayang hukuman atas dua tuduhan penyerangan masih menggantung. Pengadilan akan kembali bersidang pada 21 Agustus untuk menentukan tanggal vonis, sementara jaksa masih mempertimbangkan apakah akan menuntut ulang tiga dakwaan yang menggantung tersebut.
Di Indonesia, kasus ini menarik perhatian karena Yung Filly memiliki basis penggemar yang cukup besar di kalangan anak muda, terutama pengikut media sosial. Fenomena selebriti internet yang berhadapan dengan hukum di luar negeri sering kali menjadi sorotan publik, memicu diskusi tentang perlindungan penggemar dan batasan perilaku selebriti. Kasus ini juga mengingatkan bahwa proses hukum di negara lain bisa berbeda jauh dengan di Indonesia, terutama dalam hal penanganan kasus kekerasan seksual.
Ke depannya, pertanyaan terbesar adalah apakah jaksa akan melanjutkan tiga dakwaan yang menggantung. Jika ya, Yung Filly harus kembali menjalani persidangan, yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Sementara itu, dua vonis bersalah atas penyerangan bisa berujung pada hukuman penjara atau denda, yang akan menjadi noda permanen dalam kariernya. Apakah ini akhir dari perjalanan Yung Filly di industri hiburan, atau justru awal dari babak baru yang lebih kontroversial?



