Harimau Sundarban Terdesak: Populasi Naik Hanya Dua Ekor per Tahun
Baca dalam 60 detik
- Populasi harimau Bengal di Hutan Mangrove Sundarban meningkat sangat lambat, dari 106 ekor pada 2015 menjadi 125 ekor pada 2024, jauh dari target awal 414 ekor.
- Habitat menyusut akibat naiknya permukaan air laut, badai, dan intrusi air asin, mendorong manusia masuk ke wilayah harimau dan memicu konflik.
- Perburuan liar dan perdagangan bagian tubuh harimau masih marak, dengan jaringan pengiriman hingga ke China, Malaysia, dan Eropa.

Di tengah hutan bakau Sundarban yang membentang seluas 10.000 kilometer persegi, harimau Bengal yang menjadi penguasa ekosistem justru kini berada dalam ancaman. Populasi kucing besar ini hanya bertambah sekitar dua ekor per tahun, jauh dari target pemulihan yang dicanangkan Bangladesh satu dekade lalu.
Data sensus terbaru menggunakan kamera jebak pada 2024 mencatat hanya 125 harimau Bengal di kawasan yang masuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO itu. Angka ini naik tipis dari 114 ekor pada 2018 dan 106 ekor pada 2015—sebuah laju pemulihan yang dinilai sangat lambat. Padahal, pada 2010, Bangladesh berkomitmen menggandakan populasi harimau dari 414 ekor.
Kepala Konservator Hutan Bangladesh, Amir Hossain Chowdhury, menyebut hilangnya habitat sebagai tantangan utama. Kenaikan permukaan air laut dan badai yang semakin kuat meningkatkan salinitas tanah, merusak lahan pertanian, dan memaksa warga masuk ke wilayah harimau. “Perambahan manusia telah mendorong harimau Sundarban ke sudut yang tidak cocok bagi sebagian besar spesies, apalagi harimau,” ujarnya.
Kondisi ini diperparah oleh perubahan aliran sungai yang melebar hingga melebihi kemampuan renang harimau, sehingga membatasi wilayah jelajah mereka. Pemerintah setempat telah membangun gundukan tanah sebagai tempat perlindungan saat air pasang, namun itu belum cukup mengatasi akar masalah.
Ancaman langsung juga datang dari perburuan liar. Meskipun ada hukuman penjara 12 tahun atau denda hingga 61.296 ringgit Malaysia, pemburu dan warga masih membunuh harimau. Nasir Uddin, pakar perdagangan satwa liar, mengungkapkan bahwa harimau dibunuh berdasarkan pesanan dari dalam dan luar negeri. Bagian tubuh harimau—kulit, gigi, cakar, dan tulang—diselundupkan ke India, Myanmar, China, Malaysia, bahkan hingga Australia, Inggris, dan Jerman.
Perburuan mangsa utama harimau, yaitu rusa tutul yang mencakup 80 persen diet mereka, juga memperparah situasi. Studi 2013 memperkirakan 11.000 rusa dibunuh secara ilegal setiap tahun untuk diambil dagingnya. “Pembunuhan rusa secara sembarangan menciptakan kerawanan pangan bagi harimau dan mendorong mereka masuk ke pemukiman,” kata Mohammad Abdul Aziz, ahli zoologi dari Universitas Jahangirnagar.
Di tengah tekanan itu, ada secercah harapan. Abishek Harihar dari organisasi konservasi kucing liar Panthera menilai upaya konservasi sejak 1970-an telah mencegah keruntuhan total populasi harimau global. “Spesies ini mungkin berada dalam jalur pemulihan dan kelangsungan hidup jangka panjang,” katanya.
Namun, bagi Indonesia yang juga memiliki hutan bakau luas dan populasi harimau Sumatera yang terancam, kisah Sundarban menjadi pelajaran berharga. Konflik antara manusia dan satwa liar, degradasi habitat akibat perubahan iklim, serta lemahnya penegakan hukum terhadap perburuan adalah tantangan serupa. Pertanyaannya, apakah langkah-langkah konservasi yang ada saat ini cukup untuk mencegah nasib serupa menimpa harimau Sumatera?



