Operasi SAR Pemuda Tenggelam di Kali BKB Berlanjut: Derasnya Arus Jadi Kendala
Baca dalam 60 detik
- Basarnas kembali melanjutkan penyisiran untuk menemukan M. Tomul Adi Kurniawan (19) yang hilang di Kali BKB sejak Sabtu malam.
- Korban diduga terbawa arus saat mencoba mengambil kunci yang jatuh ke sungai, dengan upaya pertolongan warga yang gagal.
- Pencarian hari pertama belum membuahkan hasil, memaksa tim SAR mengevaluasi strategi dan memperluas area pencarian.

Tim pencarian dan pertolongan gabungan kembali melanjutkan operasi penyisiran di aliran Kali Banjir Kanal Barat (BKB), Jakarta Barat, Senin pagi, setelah upaya pertama pada hari sebelumnya gagal menemukan jejak seorang pemuda yang dilaporkan tenggelam. M. Tomul Adi Kurniawan (19), warga Grogol Petamburan, diduga kuat terseret arus deras sungai tersebut sejak Sabtu (1/8) malam, dan hingga kini keberadaannya masih belum diketahui.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta, Desiana Kartika Bahari, mengungkapkan bahwa operasi pencarian hari pertama yang berlangsung hingga Minggu petang terpaksa dihentikan sementara. Kondisi arus yang tidak bersahabat dan jarak pandang yang terbatas menjadi kendala utama bagi tim di lapangan. "Kami akan mengevaluasi kembali area dan metode pencarian sebelum melanjutkan penyisiran pada Senin," ujarnya di Jakarta, Minggu.
Peristiwa nahas ini berawal dari sebuah insiden domestik. Menurut keterangan saksi, korban nekat menceburkan diri ke sungai sekitar pukul 22.00 WIB untuk mengambil kunci yang terjatuh ke air setelah terlibat pertengkaran dengan teman wanitanya. Saat berusaha berenang kembali ke tanggul, arus Kali BKB yang sedang dalam kondisi tinggi ternyata jauh lebih kuat dari perkiraannya. Warga sekitar sempat berupaya menolong dengan melemparkan alat bantu apung, namun korban sudah lebih dulu hilang terbawa derasnya aliran.
Kejadian ini menjadi pengingat akan bahaya yang mengintai di balik aktivitas sehari-hari di sekitar saluran air perkotaan. Kali BKB, yang merupakan bagian dari sistem pengendalian banjir Jakarta, kerap memiliki arus yang tidak dapat diprediksi, terutama setelah hujan deras di kawasan hulu. Sepanjang tahun, Basarnas Jakarta mencatat puluhan kasus serupa, mulai dari warga yang terjatuh secara tidak sengaja hingga mereka yang nekat berenang di lokasi terlarang.
Operasi SAR gabungan yang melibatkan Basarnas, personel kepolisian, TNI, serta relawan, sebelumnya telah menyisir area sepanjang dua kilometer dari titik awal korban masuk ke sungai. Perahu karet dan pemantauan dari jalur darat dikerahkan untuk memperluas jangkauan pencarian. Namun, hingga Minggu petang, hasilnya masih nihil. Tim kini tengah menyusun strategi baru, termasuk kemungkinan penyelaman di titik-titik yang diduga menjadi lokasi korban tersangkut.
Di tengah upaya pencarian, perhatian publik kembali tertuju pada keselamatan warga di sekitar bantaran kali. Kepala Basarnas Jakarta mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas berisiko di aliran sungai, terutama pada malam hari atau saat arus sedang deras. "Kami mengingatkan agar warga selalu waspada dan tidak memaksakan diri jika berada di dekat saluran air," tambah Desiana.
Insiden ini juga menyoroti perlunya peningkatan kesadaran akan keselamatan di lingkungan perkotaan, di mana infrastruktur air seperti kali kerap dianggap sepele padahal menyimpan bahaya laten. Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan dapat memperkuat sosialisasi serta memasang rambu peringatan di titik-titik rawan, guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Hingga berita ini diturunkan, tim SAR gabungan masih berupaya maksimal. Pertanyaan yang menggantung adalah apakah korban akan ditemukan dalam kondisi selamat, atau justru operasi pencarian harus berakhir dengan hasil yang tidak diharapkan. Masyarakat sekitar dan keluarga korban tentu berharap yang terbaik, sementara tim SAR terus bekerja tanpa mengenal lelah.



