Kapal Feri Terbakar di Perairan Jawa Timur: 5 Tewas, 41 Orang Masih Hilang
Baca dalam 60 detik
- Insiden kebakaran menimpa KMP Mutiara Sentosa 2 di perairan Sumenep, menewaskan sedikitnya lima orang dan puluhan lainnya belum ditemukan.
- Proses evakuasi melibatkan kapal-kapal di sekitar lokasi, sementara tim SAR dari Surabaya dan kapal perang TNI AL dikerahkan untuk mempercepat pencarian.
- Kecelakaan ini kembali menyoroti lemahnya pengawasan keselamatan pelayaran di Indonesia, yang kerap menjadi sorotan setelah berbagai insiden serupa.

Sedikitnya lima orang tewas dan puluhan lainnya dinyatakan hilang setelah sebuah kapal feri penumpang terbakar di perairan utara Pulau Jawa pada Minggu pagi. Insiden yang menimpa KMP Mutiara Sentosa 2 ini memicu operasi penyelamatan besar-besaran yang melibatkan kapal-kapal niaga di sekitar lokasi serta personel Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).
Kapal yang mengangkut 271 orang—terdiri dari 232 penumpang dan 39 awak—sedang dalam pelayaran dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Makassar, Sulawesi Selatan. Api pertama kali terlihat antara pukul 06.00 dan 07.00 WIB di perairan Kabupaten Sumenep, tepatnya di dekat ujung utara Pulau Madura. Operator kapal, PT Atosim Lampung Pelayaran, melaporkan kejadian itu ke kantor SAR Surabaya sekitar satu jam kemudian, namun komunikasi dengan nakhoda sempat terputus setelahnya.
Kronologi kejadian menunjukkan bahwa upaya pemadaman dan evakuasi berlangsung di tengah kondisi sulit. Sebuah kapal kargo, Meratus Project 3, yang berada di dekat lokasi tidak dapat mendekat karena mengangkut muatan mudah terbakar. Baru sekitar pukul 09.45 WIB, posisi kapal dapat dipastikan sekitar 19 mil laut di utara Pulau Buruan Sapudi. Rekaman yang dirilis Basarnas memperlihatkan kepulan asap hitam tebal yang membumbung dari salah satu sisi kapal, sementara video yang beredar di media sosial menunjukkan penumpang berhamburan memakai jaket pelampung di dek dan bagian atas kapal, sebagian bahkan nekat melompat ke laut saat api semakin membesar.
Menjelang pukul 10.00 WIB, sebuah kapal tunda dan kapal lain yang melintas mulai mengevakuasi penumpang. Hingga Minggu sore, sebanyak 225 orang berhasil diselamatkan, lima jenazah ditemukan, dan 41 orang lainnya masih belum ditemukan. Tim SAR dari Surabaya telah mengirimkan kapal penyelamat, meski diperkirakan butuh enam jam untuk tiba di lokasi. Sementara itu, perahu karet dari pos SAR Sumenep terpaksa kembali ke darat karena gelombang tinggi. TNI Angkatan Laut juga mengerahkan kapal perang untuk membantu pencarian.
Insiden ini kembali menggarisbawahi persoalan keselamatan pelayaran di Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau yang sangat bergantung pada transportasi laut. Menurut pengamat transportasi, kecelakaan feri kerap terjadi akibat penegakan aturan keselamatan yang lemah, termasuk kelalaian dalam pemeriksaan rutin dan kurangnya pengawasan terhadap kapal-kapal yang beroperasi di jalur padat seperti Selat Madura. Data dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, insiden kebakaran kapal penumpang masih menjadi salah satu penyebab tertinggi kecelakaan laut di Indonesia.
Bagi warga yang menggunakan jasa feri antar-pulau, kejadian ini tentu menimbulkan kekhawatiran baru. Rute Surabaya–Makassar merupakan salah satu jalur tersibuk yang menghubungkan Jawa dan Sulawesi, digunakan tidak hanya oleh penumpang tetapi juga untuk pengiriman barang. Pertanyaan besar yang kini mengemuka adalah apakah standar keselamatan kapal-kapal feri di Indonesia sudah benar-benar diterapkan, atau masih sekadar formalitas di atas kertas.
Operasi pencarian terhadap 41 orang yang hilang masih berlangsung, dengan cuaca buruk menjadi tantangan utama bagi tim penyelamat. Pihak berwenang juga mulai menyelidiki penyebab pasti kebakaran, termasuk kemungkinan korsleting listrik atau kebocoran bahan bakar. Ke depannya, insiden ini diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperketat pengawasan dan memastikan setiap kapal penumpang memenuhi standar keselamatan yang layak, agar tragedi serupa tidak kembali terulang.



