Serangan Harimau di India Timur Tengah: Warga Desa Tewas Saat Tidur, Konflik Manusia-Satwa Kian Memanas
Baca dalam 60 detik
- Seorang perempuan di Madhya Pradesh, India, tewas diterkam harimau yang masuk ke gubuknya pada dini hari, menandai eskalasi konflik manusia-satwa liar di kawasan konservasi.
- Insiden di dekat Taman Nasional Kanha ini memicu kekhawatiran tentang efektivitas mitigasi konflik, terutama di zona penyangga yang padat penduduk.
- Pemerintah setempat berjanji memberikan kompensasi, namun para ahli mendesak solusi jangka panjang seperti pemetaan koridor satwa dan sistem peringatan dini.

Seorang perempuan di sebuah desa terpencil di negara bagian Madhya Pradesh, India, tewas setelah diserang harimau yang masuk ke gubuknya saat ia tertidur. Peristiwa tragis ini kembali menyoroti meningkatnya frekuensi konflik antara manusia dan satwa liar di kawasan penyangga taman nasional, sebuah isu yang juga relevan bagi Indonesia yang memiliki tantangan serupa.
Korban diidentifikasi sebagai Sugni Bai Dhurve, warga Desa Parrapur Baigatola yang berada di bawah wilayah Khapa, Taman Nasional Kanha. Serangan terjadi sekitar pukul 01.30 waktu setempat, ketika harimau dilaporkan menerobos masuk ke dalam gubuk dan menyeret korban keluar. Keluarga yang terbangun oleh teriakan minta tolong segera meminta bantuan warga, namun upaya mereka sia-sia karena harimau telah menyeret korban sejauh 300 meter sebelum akhirnya melepaskannya dan kabur ke dalam hutan.
Menurut Asisten Direktur Zona Penyangga Sijhora, Ashish Pandey, warga segera melaporkan kejadian itu kepada tim Dinas Kehutanan. Korban yang mengalami luka parah di bagian kepala sempat dilarikan ke Rumah Sakit Baihar, tetapi nyawanya tidak tertolong. Polisi setempat telah mengevakuasi jenazah dan mencatat kasus ini sebagai kematian tidak wajar untuk penyelidikan lebih lanjut.
Insiden ini menambah daftar panjang korban jiwa akibat konflik manusia-harimau di India, yang menurut laporan Kementerian Lingkungan Hidup mencapai lebih dari 200 kematian dalam lima tahun terakhir. Taman Nasional Kanha sendiri merupakan salah satu habitat harimau terpenting di India, dengan populasi sekitar 100 individu. Namun, desa-desa di zona penyangga kerap menjadi titik rawan karena aktivitas manusia yang berdekatan dengan wilayah jelajah satwa.
Dinas Kehutanan menyatakan akan memberikan bantuan finansial kepada keluarga korban sesuai aturan pemerintah, dan laporan investigasi terperinci tengah disusun. Namun, para pegiat konservasi menilai langkah tersebut tidak cukup. Mereka mendesak adanya pemetaan koridor satwa, pemasangan pagar listrik, dan sistem peringatan dini berbasis sensor untuk mencegah terulangnya tragedi serupa.
Di Indonesia, konflik serupa kerap terjadi di kawasan Sumatera dan Jawa, seperti kasus harimau sumatera yang memangsa ternak atau bahkan menyerang warga di Aceh dan Riau. Perbedaan mendasar terletak pada kepadatan populasi dan kebijakan kompensasi, namun akar masalahnya sama: penyempitan habitat akibat deforestasi dan perluasan lahan pertanian.
Para ahli mengingatkan bahwa pendekatan reaktif seperti kompensasi pasca-kejadian tidak akan menyelesaikan masalah. Diperlukan investasi dalam mitigasi non-letal, seperti pelatihan warga, penggunaan anjing penjaga, dan pengembangan mata pencaharian alternatif yang mengurangi ketergantungan pada hutan. Kolaborasi antara pemerintah, LSM, dan masyarakat lokal menjadi kunci.
Ke depannya, pertanyaan yang mengemuka adalah: akankah pemerintah India dan Indonesia belajar dari insiden ini untuk memperkuat langkah preventif? Atau akankah tragedi serupa terus berulang di tengah tekanan pembangunan yang kian masif? Jawabannya menentukan nasib harimau dan manusia yang hidup berdampingan di kawasan konservasi.



