Mahasiswa UNG Tewas Terseret Ombak di Pulau Bugisa: Wisata Pantai yang Menyimpan Bahaya Arus
Baca dalam 60 detik
- Riska Halid, 25, mahasiswa pascasarjana UNG, meninggal setelah terseret arus kencang di Pulau Bugisa, Gorontalo Utara, Minggu (2/8).
- Upaya penyelamatan oleh wisatawan asal Jerman dan Pos TNI AL Kwandang selama 20 menit tak membuahkan hasil.
- Insiden ini menyoroti minimnya kesadaran akan bahaya arus rip di pantai-pantai Indonesia yang kerap memakan korban.

Seorang mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kehilangan nyawa setelah terseret arus kencang saat mandi di pantai Pulau Bugisa, Kecamatan Ponelo Kepulauan, Gorontalo Utara, Minggu (2/8) pagi. Riska Halid, 25, yang akrab disapa Icha, ditemukan tak bernyawa sekitar pukul 09.40 WITA setelah tim penyelamat dan dua wisatawan asal Jerman berupaya melakukan resusitasi selama lebih dari 20 menit.
Peristiwa itu bermula saat Icha bersama sembilan rekannya berkemah di pulau tersebut sejak Sabtu (1/8) sore. Mereka memutuskan mandi di pantai pada pukul 06.00 WITA, lalu naik ke darat untuk sarapan. Sekitar pukul 08.00 WITA, mereka kembali turun ke pantai untuk mandi untuk kedua kalinya—saat itulah arus deras tiba-tiba menyeret mereka.
Koptu Eta Arius Tancanguru dari Pos TNI AL Kwandang menjelaskan bahwa timnya menerima laporan dan langsung meluncur ke lokasi. "Korban sempat mendapatkan pertolongan awal dari dua wisatawan asing tersebut," katanya. Salah satu rekan korban, Damai Rasida, menuturkan bahwa ia sempat menarik Icha ke tepi, namun korban pingsan sebelum mencapai daratan. Turis asing yang kebetulan berada di pulau itu kemudian memberikan bantuan, tetapi nyawa Icha tak tertolong.
Basarnas Pos Gorontalo Utara, melalui Aqun Marali, menyebutkan bahwa saat tim tiba di tengah perjalanan menuju Pulau Bugisa, korban sudah dievakuasi oleh Pos TNI AL dan wisatawan asing menggunakan perahu menuju Pelabuhan Kwandang. Jenazah kemudian dibawa ke RSUD Zainal Umar Sidiki dan dinyatakan meninggal dunia sebelum diantarkan ke pihak keluarga di Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo.
Insiden ini menjadi pengingat pahit akan bahaya arus rip di pantai-pantai Indonesia, yang kerap tidak terlihat dari permukaan. Menurut data Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), puluhan kasus tenggelam terjadi setiap tahun di kawasan wisata pantai, terutama saat musim liburan. Kurangnya rambu peringatan dan minimnya pengetahuan wisatawan tentang arus laut menjadi faktor utama yang memperbesar risiko.
Di Gorontalo, kejadian seperti ini bukan yang pertama. Beberapa pantai di kawasan Teluk Tomini dikenal memiliki arus bawah yang kuat, terutama saat pergantian cuaca. Pemerintah daerah dan pengelola wisata diharapkan dapat meningkatkan langkah mitigasi, seperti memasang papan peringatan, menyediakan alat keselamatan, dan melatih masyarakat setempat dalam teknik penyelamatan dasar.
Keluarga korban dan delapan rekannya yang turut mendampingi kini berduka. Mereka kehilangan sosok yang tengah menempuh pendidikan pascasarjana—sebuah harapan yang pupus begitu cepat. Pertanyaan yang menggantung: akankah tragedi ini mendorong perubahan nyata dalam pengelolaan keselamatan wisata pantai di Indonesia, atau hanya menjadi catatan duka yang berlalu?



