IIHF Perpanjang Larangan Rusia dan Belarus: Hoki Es Dunia Masih Tertutup
Baca dalam 60 detik
- Federasi Hoki Es Internasional (IIHF) memperpanjang larangan bagi Rusia dan Belarus untuk berpartisipasi di turnamen utama musim 2026-2027, dengan alasan keamanan dan integritas olahraga.
- Keputusan ini kontras dengan sikap Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang mulai melonggarkan sanksi terhadap atlet Rusia dan Belarusia di bawah usia 23 tahun.
- Federasi Hoki Es Rusia menyatakan akan mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), menilai langkah IIHF mengabaikan rekomendasi IOC.

Federasi Hoki Es Internasional (IIHF) kembali menegaskan sikapnya dengan memperpanjang larangan bagi Rusia dan Belarus untuk mengikuti turnamen utama musim 2026-2027, termasuk Kejuaraan Dunia Putra, Kejuaraan Dunia Junior, dan Kejuaraan Dunia U-18. Keputusan ini diumumkan pada Kamis (30/7) dengan merujuk pada kekhawatiran berkelanjutan terkait keamanan, keselamatan, dan integritas olahraga.
Larangan ini merupakan kelanjutan dari sanksi yang diberlakukan sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Belarus ikut terkena sanksi karena mendukung upaya perang Moskow. IIHF sebelumnya telah menerapkan pendekatan berbasis peristiwa (event-by-event) untuk menilai partisipasi Rusia, namun hasil penilaian untuk musim depan tetap negatif.
Meski demikian, IIHF memberikan sedikit kelonggaran bagi Belarus dengan mengizinkan partisipasi di kompetisi level bawah, seperti Kejuaraan Dunia U-18 putra dan putri serta Kejuaraan Dunia Divisi IV Putri. Sementara itu, untuk Kejuaraan Dunia Putri 2027, kelayakan Rusia akan ditinjau kembali oleh Dewan IIHF pada November 2026.
Keputusan IIHF ini kontras dengan langkah Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang mulai melonggarkan sanksi. IOC secara tentatif mencabut larangan terhadap Komite Olimpiade Rusia awal bulan ini, sebuah langkah yang dianggap sebagai sinyal kembalinya Rusia secara bertahap ke gerakan Olimpiade menjelang Los Angeles 2028. IOC juga merekomendasikan agar federasi olahraga internasional merestui partisipasi atlet Rusia dan Belarusia di bawah usia 23 tahun.
Federasi Hoki Es Rusia (FHR) menyatakan akan mengajukan banding atas keputusan IIHF ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Dalam pernyataan resmi, FHR menilai posisi IIHF picik dan mengabaikan rekomendasi IOC. "Kami tidak menerima dan tidak memahami posisi IIHF yang mengabaikan rekomendasi IOC dan bertentangan dengan gagasan olahraga yang seharusnya menyatukan orang di seluruh dunia," demikian bunyi pernyataan FHR.
Bagi Indonesia, meskipun hoki es bukan olahraga utama, keputusan ini relevan dalam konteks politik olahraga global. Indonesia sebagai negara yang aktif dalam forum olahraga internasional, seperti Asian Games dan SEA Games, perlu mencermati bagaimana sanksi olahraga digunakan sebagai alat diplomasi. Kasus ini juga menjadi pelajaran tentang pentingnya menjaga netralitas olahraga di tengah ketegangan geopolitik.
Kejuaraan Dunia Hoki Es Putra berikutnya akan digelar di Jerman pada Mei mendatang, tanpa kehadiran Rusia dan Belarus. Pertanyaannya, akankah tekanan dari IOC dan banding ke CAS mengubah sikap IIHF di masa depan? Atau justru semakin memperkuat posisi bahwa olahraga tidak bisa dipisahkan dari politik?



