Muntah di Pagi Hari, Emas di Sore Hari: Drama Tim Pursuit Inggris di Commonwealth Games
Baca dalam 60 detik
- Tim pursuit putra Inggris meraih emas setelah perubahan formasi mendadak akibat pembalap utama muntah saat kualifikasi.
- Formasi baru yang belum pernah diuji coba mampu mengalahkan Australia, juara Olimpiade, dengan rekor Commonwealth Games.
- Kemenangan ini menjadi sinyal kekuatan Inggris menjelang Olimpiade 2028, dengan potensi penggabungan atlet Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.

Kemenangan tim pursuit putra Inggris di Commonwealth Games baru saja terukir dengan cara yang dramatis. Bukan sekadar medali emas, tetapi sebuah kisah tentang adaptasi kilat di tengah tekanan: seorang pembalap muntah di pagi hari, formasi dadakan yang belum pernah diuji, dan akhirnya mengalahkan juara Olimpiade Australia dengan rekor baru.
Insiden bermula pada sesi kualifikasi pagi. Josh Charlton, juara dunia nomor individu, tiba-tiba muntah di atas sepeda rekannya, memaksanya mundur. Inggris yang sebelumnya tertinggal dua detik dari Australia harus mengambil risiko: mengganti Charlton dengan Will Tidball—yang bahkan tidak dijadwalkan turun di nomor ini—dan memasukkan Henry Hobbs, remaja 19 tahun yang baru pertama kali tampil di kejuaraan besar. Formasi baru ini belum pernah diuji coba sebelumnya, baik di lintasan maupun dalam urutan posisi.
“Saya tidak seharusnya turun di nomor ini malam hari. Masuk sebagai pengganti tanpa pernah berlatih bersama tim ini, di lintasan ini, atau dalam urutan ini, jelas sebuah perjudian,” ujar Tidball kepada BBC Sport. Namun, perjudian itu membuahkan hasil. Inggris unggul cepat di awal, meski Australia sempat membalikkan keadaan di pertengahan lomba. Kunci kemenangan ada pada Hobbs yang mampu bertahan lebih lama di depan, menjaga formasi kuartet Inggris saat Australia sudah kehilangan satu pembalapnya.
Ethan Vernon, salah satu penggawa Inggris, mengakui bahwa pertandingan berjalan sangat ketat. “Henry dan Charlie melakukan tugas di depan lebih lama dari yang seharusnya. Saya bisa melihat kami unggul, tapi juga mulai goyah. Saya melirik ke lintasan dan berusaha melakukan cukup untuk tidak menjatuhkan rekan setim, tapi juga tetap di depan Australia,” katanya. Pada akhirnya, Inggris menang dengan selisih 1,131 detik, mencatat waktu 3 menit 47,092 detik—rekor baru Commonwealth Games.
Kemenangan ini menjadi penebusan bagi Vernon dan Tanfield, yang sebelumnya menjadi bagian dari tim GB yang dikalahkan Australia di final Olimpiade Paris. “Kami tahu jika kami bisa tampil bersih, kami bisa mengalahkan mereka. Saya terus mengingatkan rekan-rekan—meski tertinggal, keadaan bisa berubah,” ujar Tanfield, yang kini mengoleksi emas Commonwealth kedua setelah delapan tahun lalu meraihnya di nomor individu.
Menariknya, Inggris mengaku tidak menggunakan perlengkapan terbaik seperti Australia. “Mereka datang dengan perlengkapan penuh, skinsuit bagus, semua peralatan terbaik. Kami punya pola pikir berbeda. Kami menyimpan yang terbaik untuk Olimpiade. Mengalahkan mereka tanpa itu terasa istimewa,” ungkap Vernon. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Inggris masih memiliki cadangan performa untuk Olimpiade mendatang.
Bagi Indonesia, prestasi ini bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya manajemen krisis dan adaptasi cepat dalam olahraga. Di tengah keterbatasan sumber daya, kemampuan untuk mengambil risiko terukur dan memaksimalkan potensi atlet muda seperti Hobbs bisa menjadi kunci. Commonwealth Games juga menjadi ajang pembuktian bahwa persaingan di level tertinggi tidak selalu ditentukan oleh perlengkapan mahal, melainkan strategi dan mentalitas.
Ke depan, Inggris berpotensi semakin kuat dengan bergabungnya atlet dari Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara pada Olimpiade 2028. Sementara itu, Charlton berharap pulih untuk nomor individu pada Jumat. “Saya tidak dalam performa terbaik hari ini, tapi kita lihat besok. Saya akan memberikan segalanya,” katanya. Pertanyaan besarnya: mampukah Inggris mempertahankan momentum ini hingga Olimpiade, atau justru Australia yang akan bangkit kembali?



