India Berambisi Lepas Ketergantungan Bibit Stroberi Impor Lewat Rekayasa Genetik dan Hidroponik
Baca dalam 60 detik
- India mengimpor 100% bibit stroberi dari AS dan Eropa karena belum memiliki varietas unggul domestik.
- Universitas di Maharashtra bekerja sama dengan pusat riset nuklir mengembangkan bibit tahan panas melalui iradiasi gamma.
- Petani kecil beralih ke media sosial dan agrowisata untuk memotong rantai tengkulak, sementara petani besar mengadopsi hidroponik dan AI.

India tengah berupaya keras memutus ketergantungan total pada bibit stroberi impor dari Amerika Serikat dan Eropa melalui riset mutasi genetik berbasis iradiasi gamma serta adopsi teknologi pertanian presisi. Langkah ini ditempuh di tengah tekanan perubahan iklim yang membuat budidaya stroberi konvensional semakin berisiko tinggi bagi petani di kawasan Mahabaleshwar, Maharashtra.
Sekitar 85 persen produksi stroberi India terkonsentrasi di dataran tinggi Mahabaleshwar yang memiliki ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut. Musim tanam berlangsung dari November hingga Maret dengan suhu sejuk dan tanah berpasir yang ringan. Namun, curah hujan yang tak menentu kerap menghancurkan tanaman dalam semalam. Sheetal Danavle, petani stroberi yang mengelola lahan seluas 1,2 hektare bersama suaminya, mengaku setiap musim harus merogoh kocek sekitar Rp38 juta untuk membeli bibit baru. “Kalau musim bagus, kami bisa untung dua kali lipat. Tapi iklim membuat ini judi besar,” ujarnya.
Ketergantungan pada varietas impor dari California, Florida, Italia, dan Spanyol membuat petani India tidak memiliki kedaulatan bibit. Proses pengembangan varietas unggul di negara asal bisa memakan waktu 10–15 tahun dan hasilnya dipatenkan. Nelson Sequeira, pendiri Tara Farms Fresh yang menjadi propagator berlisensi, menjelaskan bahwa satu tanaman induk impor bisa menghasilkan rata-rata 20 anakan melalui teknik stek. “Tanaman induk itu menjadi mesin. Kami menggunakan pipa industri sebagai wadah, bukan tanah, dan media tanam dari sabut kelapa yang dikontrol irigasi tetes,” katanya.
Untuk memutus rantai impor, Universitas Pertanian Mahatma Phule Krishi Vidyapeeth (MPKV) menggandeng Pusat Riset Atom Bhabha (BARC) dalam eksperimen pemuliaan. Dr. Darshan Shashank Kadam, asisten profesor Hortikultura di MPKV, mengungkapkan bahwa timnya menggunakan iradiasi gamma dosis rendah pada jaringan tanaman untuk memicu mutasi genetik stabil. “Targetnya adalah menciptakan varietas stroberi asli India yang tahan gelombang panas lokal, dengan ukuran buah besar dan tekstur keras seperti varietas impor,” jelasnya. Meski hasil diperkirakan baru terlihat dalam 10–15 tahun, dalam jangka pendek mereka telah menyusun paket rekomendasi pemupukan dan jadwal tanam yang disesuaikan dengan kondisi Mahabaleshwar.
Sementara itu, petani skala besar mulai beralih ke hidroponik untuk mengurangi risiko cuaca. Ketan Yashwant Sodha, CEO Berry Fresh Agrotech, mengaku gagal berkali-kali saat pertama kali mencoba hidroponik pada 2022. “Tanah itu pemaaf, hidroponik tidak. Satu kesalahan hari ini, besok pagi bencana,” katanya. Kini ia telah menguji 19 varietas, termasuk varietas langka Jepang dan Belanda. Dengan membatasi asupan air 750 ml per tanaman per hari, buah yang dihasilkan lebih manis dan aromatik. Timnya juga melakukan “tes darah” tanaman secara rutin di laboratorium untuk mengukur serapan nutrisi. Sodha tengah menjajaki pendanaan untuk memperluas fasilitas menjadi 5 hektare dengan kapasitas 200.000 tanaman.
Di sisi lain, kelompok tani yang tergabung dalam Farmer Producer Organisation (FPO) memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memonitor cuaca. Menara pemantau yang dipasang di empat titik lahan memberikan data real-time yang memungkinkan petani menunda penyemprotan jika hujan diprediksi turun. FPO juga membangun menara vertikal bertingkat lima yang mampu meningkatkan kepadatan tanam dari 25.000 menjadi 125.000 tanaman per hektare. “Kami melipatgandakan produksi di lahan yang sama,” ujar Krishan Bhilare, petani generasi ketiga yang masih ingat saat varietas Amerika pertama ditanam pada 1992.
Namun, investasi semacam itu masih sulit dijangkau petani kecil. Danavle pernah mencoba hidroponik pada 2017 dan berhasil panen organik, tetapi siklon besar menghancurkan seluruh instalasinya. “Kami tidak punya nyali untuk memulai lagi,” kenangnya. Ia kemudian beralih ke media sosial untuk mempromosikan agrowisata dan menjual stroberi langsung ke konsumen. “Saya posting video cara menanam stroberi, undang turis ke kebun, mereka petik sendiri dan beli langsung. Sekarang saya jadi influencer sekaligus pengusaha,” katanya. Strategi ini memotong rantai tengkulak dan meningkatkan margin keuntungan.
Ke depan, India menghadapi pilihan sulit: menunggu satu dekade lebih untuk varietas unggul buatan sendiri, atau terus bergantung pada impor sambil mengadopsi teknologi mahal yang hanya terjangkau petani kaya. Pertanyaannya, akankah terobosan iradiasi gamma mampu mempercepat lahirnya stroberi lokal yang kompetitif, atau justru memperlebar kesenjangan antara petani besar dan kecil?



