Serangan Udara Israel Tewaskan Empat Warga Gaza, Termasuk Dua Anak-anak
Baca dalam 60 detik
- Empat warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel di Gaza, dengan dua korban jiwa anak-anak, meskipun gencatan senjata masih berlaku.
- Serangan terjadi saat delegasi Hamas berunding di Kairo untuk memperkuat kesepakatan gencatan senjata, menunjukkan kerapuhan situasi.
- Sejak gencatan senjata Oktober lalu, lebih dari 1.200 warga Palestina tewas, sementara Israel mengklaim menarget infrastruktur militan.

Empat warga Palestina, termasuk dua anak-anak, tewas dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza pada Kamis (30/7), menurut badan pertahanan sipil Gaza dan dua rumah sakit setempat. Insiden ini terjadi di tengah gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas, yang gagal menghentikan kekerasan di lapangan.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menyatakan bahwa korban jiwa dan sejumlah luka-luka diangkut setelah serangan udara Israel di berbagai titik di Gaza. Satu orang tewas dan sepuluh lainnya terluka dalam serangan di dekat kamp pengungsi di samping Stadion Yarmouk, Kota Gaza. Sementara itu, Rumah Sakit Nasser di Khan Younis menerima dua jenazah, termasuk seorang gadis berusia delapan tahun, serta tiga korban luka akibat serangan helikopter Israel yang menyasar tenda keluarga Balawi di barat kota tersebut.
Serangan terpisah dilaporkan oleh unit gawat darurat Rumah Sakit Al-Aqsa di Gaza tengah, yang menerima seorang anak syahid dan sejumlah korban luka setelah sebuah apartemen di dekat gedung kotamadya di kamp pengungsi Bureij dihantam rudal. Militer Israel tidak mengonfirmasi serangan individu tersebut, tetapi menyatakan telah menyerang sejumlah infrastruktur teror Hamas pada Kamis malam.
Serangan ini berlangsung saat delegasi Hamas mengadakan pembicaraan di Kairo dengan mediator Mesir, Qatar, dan Turki untuk memperkuat kesepakatan gencatan senjata. Dua sumber yang mengetahui jalannya perundingan mengatakan kepada AFP bahwa upaya untuk mencapai kesepakatan jangka panjang masih terhambat. Sejak gencatan senjata diumumkan, kekerasan terus berlanjut, dan puluhan ribu warga Gaza masih tinggal di tenda-tenda setelah hampir tiga tahun serangan Israel menghancurkan sebagian besar bangunan permanen.
Bagi Indonesia, eskalasi di Gaza kembali mengingatkan pada pentingnya peran diplomasi regional. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dan anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, Indonesia kerap menyuarakan perlunya solusi dua negara. Namun, ketidakmampuan komunitas internasional menghentikan siklus kekerasan menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas tekanan diplomatik. Dengan perundingan yang masih berlangsung di Kairo, apakah gencatan senjata yang ada mampu bertahan, atau justru akan runtuh sepenuhnya?



