Naira Melemah di Tengah Ketatnya Likuiditas Dolar dan Penurunan Cadangan Devisa Nigeria
Baca dalam 60 detik
- Naira melemah tipis ke N1.366,73 per dolar AS di pasar valas resmi Nigeria, dipicu ketatnya likuiditas dolar dan turunnya cadangan devisa.
- Volume transaksi antar bank turun 4,2% menjadi $58,4 juta, sementara jumlah deal berkurang dari 86 menjadi 71, menandakan tekanan likuiditas.
- Penurunan harga minyak global memperburuk tekanan pada naira, dengan Brent turun 1,2% ke $87,05 per barel, mengurangi pemasukan devisa Nigeria.

Naira Nigeria kembali tertekan di pasar valuta asing resmi, ditutup melemah ke level N1.366,73 per dolar AS pada perdagangan Kamis (18/4), seiring ketatnya likuiditas dolar dan penurunan cadangan devisa negara. Pelemahan tipis ini terjadi di tengah tekanan tambahan dari anjloknya harga minyak mentah global, yang menjadi sumber utama pemasukan devisa Nigeria.
Data harian dari Nigerian Foreign Exchange Market (NFEM) menunjukkan bahwa likuiditas dolar AS masih belum mencukupi untuk memenuhi permintaan yang diajukan oleh institusi keuangan atas nama berbagai nasabah. Akibatnya, nilai tukar spot mengalami penurunan meskipun ada aliran masuk dolar dari investor portofolio asing yang berpartisipasi dalam lelang Open Market Operation (OMO) Bank Sentral Nigeria (CBN).
Volume transaksi antar bank di NFEM tercatat turun 4,2% menjadi $58,423 juta, dibandingkan $61,034 juta pada hari sebelumnya. Jumlah kesepakatan yang dieksekusi oleh lembaga keuangan yang bertindak sebagai market maker juga menurun drastis, dari 86 menjadi 71 transaksi. Angka ini mengindikasikan bahwa likuiditas di pasar valas semakin terbatas, meskipun CBN telah menginjeksikan dolar melalui intervensi pekan lalu.
Pekan lalu, CBN menjadi penggerak utama total aliran masuk valas senilai lebih dari $1 miliar, menyumbang sekitar 50% dari total tersebut melalui penjualan dolar ke bank-bank. Namun, efek dari intervensi itu tampaknya mulai memudar, tercermin dari penurunan volume transaksi dan jumlah deal pada perdagangan Kamis.
Di sisi cadangan devisa, data terbaru CBN menunjukkan penurunan lebih lanjut menjadi $51,922 miliar, dibandingkan $51,938 miliar pada hari sebelumnya. Meskipun penurunannya tipis, tren penurunan ini menambah kekhawatiran akan kemampuan Nigeria mempertahankan stabilitas nilai tukar di tengah berkurangnya pemasukan dari minyak.
Tekanan pada naira juga diperburuk oleh pelemahan harga minyak mentah global. Brent crude turun 1,2% ke sekitar $87,05 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,55% ke $84,85 per barel. Penurunan ini dipicu oleh meredanya premi risiko geopolitik di Timur Tengah, setelah ada indikasi negosiasi de-eskalasi yang meningkatkan ekspektasi pasokan stabil. Bagi Nigeria, yang sangat bergantung pada ekspor minyak, penurunan harga ini berarti berkurangnya aliran dolar masuk ke kas negara.
Menurut analis pasar, kondisi likuiditas yang ketat dan cadangan devisa yang menipis membuat naira rentan terhadap tekanan lebih lanjut, terutama jika harga minyak terus melemah. โIntervensi CBN hanya memberikan bantuan sementara. Tanpa peningkatan signifikan dalam pasokan dolar dari sektor riil atau investasi asing, naira berpotensi terus terdepresiasi,โ ujar seorang pengamat pasar valas di Lagos.
Bagi Indonesia, kondisi serupa pernah dialami saat cadangan devisa menipis dan nilai tukar rupiah tertekan. Pengalaman Nigeria menjadi pengingat pentingnya diversifikasi sumber devisa dan pengelolaan likuiditas valas yang hati-hati, terutama bagi negara berkembang yang bergantung pada komoditas. Meski fundamental ekonomi Indonesia lebih kuat, volatilitas harga minyak global tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai.
Ke depan, pergerakan naira akan sangat bergantung pada kebijakan CBN dalam mengelola likuiditas dolar, perkembangan harga minyak, serta aliran modal asing. Apakah intervensi lebih lanjut akan dilakukan, atau justru membiarkan naira menemukan keseimbangan baru di pasar?



