Kebakaran Landa Situs Warisan Dunia Gokayama di Jepang, Bangunan Bersejarah Nyaris Ludes
Baca dalam 60 detik
- Sebuah rumah tradisional gassho di kawasan Warisan Dunia UNESCO Gokayama, Jepang, terbakar pada Kamis siang dan berhasil dipadamkan dalam waktu kurang dari satu jam tanpa korban jiwa.
- Bangunan yang berfungsi sebagai museum produksi bahan bubuk mesiu itu merupakan bagian dari Desa Bersejarah Shirakawa-go dan Gokayama yang terkenal dengan arsitektur atap jerami curam.
- Insiden ini menyoroti kerentanan situs warisan budaya terhadap kebakaran, mengingatkan pentingnya sistem proteksi kebakaran di kawasan serupa di Indonesia seperti desa adat.

Kebakaran melanda sebuah bangunan tradisional Jepang di kawasan Warisan Dunia UNESCO Gokayama, Prefektur Toyama, pada Kamis siang. Api dilaporkan muncul sekitar pukul 13.00 waktu setempat di sebuah rumah pertanian berbentuk segitiga bergaya gassho yang kini difungsikan sebagai museum produksi bahan baku bubuk mesiu. Beruntung, petugas pemadam kebakaran berhasil mengendalikan situasi dalam waktu sekitar 50 menit dan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Bangunan yang terbakar merupakan bagian dari Desa Bersejarah Shirakawa-go dan Gokayama, sebuah kawasan yang membentang di Prefektur Gifu dan Toyama. Kawasan ini terkenal dengan rumah-rumah tradisionalnya yang memiliki atap jerami curam, dirancang untuk menahan salju lebat di musim dingin. Gaya arsitektur gassho, yang berarti "tangan berdoa", merujuk pada bentuk atap yang menyerupai dua telapak tangan yang bertemu. Rumah-rumah ini telah diakui UNESCO sejak 1995 sebagai contoh luar biasa dari pemukiman tradisional yang beradaptasi dengan lingkungan alam.
Kebakaran tersebut memicu kekhawatiran akan kerentanan situs warisan budaya terhadap bencana, terutama karena material bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu dan jerami. Meskipun petugas berhasil memadamkan api dengan cepat, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya sistem pencegahan kebakaran yang ketat di kawasan serupa. Di Jepang, beberapa situs warisan telah dilengkapi dengan alat deteksi dini dan sprinkler, namun tantangan tetap ada karena keterbatasan akses dan kebutuhan menjaga keaslian arsitektur.
Bagi Indonesia, insiden ini relevan mengingat banyaknya desa adat dan situs warisan budaya yang juga rentan terhadap kebakaran, seperti Kampung Naga di Jawa Barat atau Desa Wae Rebo di Nusa Tenggara Timur. Rumah-rumah tradisional di Indonesia, yang seringkali terbuat dari kayu, bambu, dan alang-alang, menghadapi risiko serupa. Pemerintah daerah dan pengelola situs warisan di Indonesia dapat belajar dari respons cepat di Gokayama, termasuk pentingnya pelatihan pemadam kebakaran lokal dan penyediaan peralatan pemadam yang mudah dijangkau.
Menurut analis kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Andi Prasetyo, "Kebakaran di situs warisan dunia tidak hanya mengancam nilai sejarah, tetapi juga potensi pariwisata dan ekonomi lokal. Diperlukan pendekatan terpadu antara konservasi dan mitigasi bencana, termasuk penggunaan teknologi modern tanpa mengorbankan keaslian arsitektur." Pernyataan ini menekankan perlunya keseimbangan antara pelestarian dan keselamatan.
Ke depan, otoritas setempat di Jepang kemungkinan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem proteksi kebakaran di seluruh kawasan Shirakawa-go dan Gokayama. Pertanyaan yang muncul adalah apakah langkah-langkah tambahan seperti pembatasan akses atau pemasangan alat pemadam otomatis akan diterapkan, dan bagaimana hal itu akan memengaruhi pengalaman wisatawan. Bagi Indonesia, insiden ini menjadi momentum untuk meninjau kembali kesiapsiagaan bencana di destinasi wisata budaya yang rentan.



