IG Group Caplok Underdog Senilai Rp20 Triliun, Garap Pasar Prediksi AS
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan investasi asal Inggris, IG Group, mengakuisisi operator pasar prediksi Underdog dengan nilai hingga 1,3 miliar dolar AS.
- Akuisisi ini menandai ekspansi agresif IG Group di sektor pasar prediksi AS yang tumbuh pesat namun diawasi ketat regulator.
- Langkah ini berpotensi memicu persaingan baru di industri keuangan digital dan berdampak pada regulasi global, termasuk di Indonesia.

IG Group, raksasa investasi asal Inggris, mengakuisisi Underdog—operator pasar prediksi dan olahraga fantasi harian asal Amerika Serikat—dengan nilai mencapai 1,3 miliar dolar AS (sekitar Rp20 triliun). Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan tersebut serius menguasai sektor pasar prediksi yang tengah berkembang pesat di Negeri Paman Sam.
Dalam pengumuman resmi pada Kamis (30/7), IG Group menyebutkan nilai awal transaksi mencapai 1,1 miliar dolar AS, ditambah pembayaran tambahan sebesar 200 juta dolar AS kepada pemegang saham Underdog. Pendanaan akuisisi ini akan menggunakan 24,1 juta saham baru IG Group dan sekitar 380 juta dolar AS tunai, serta pelunasan utang Underdog senilai 160 juta dolar AS.
Chief Executive Officer IG Group, Breon Corcoran, menegaskan bahwa akuisisi ini menempatkan perusahaannya sebagai pemimpin di pasar prediksi AS. Menurutnya, sektor ini merupakan peluang terbesar di persimpangan antara perdagangan dan hiburan. "Ini mempercepat pertumbuhan kami di pasar ritel terbesar dan tercepat di dunia," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Pasar prediksi, yang memungkinkan pengguna memperdagangkan kontrak berdasarkan hasil peristiwa nyata, telah tumbuh pesat di AS. Namun, sektor ini juga mendapat sorotan tajam dari regulator dan anggota parlemen karena potensi risiko manipulasi dan perjudian. Meski demikian, IG Group optimistis dapat menavigasi tantangan tersebut dengan pengalaman dan kepatuhan yang dimilikinya.
Akuisisi ini merupakan puncak dari tinjauan strategis yang dimulai IG Group pada Maret lalu. Sebagai bagian dari restrukturisasi, perusahaan juga mengumumkan rencana untuk memindahkan domisili ke Jersey dan menghentikan sementara program pembelian kembali saham. Program tersebut diperkirakan akan dilanjutkan pada 2027, tergantung pada penyelesaian relokasi, kinerja harga saham, dan kebutuhan modal lainnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Meskipun pasar prediksi belum diatur secara eksplisit oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tren global menunjukkan bahwa instrumen keuangan berbasis kontrak prediksi mulai menarik minat investor ritel. OJK dan regulator lain perlu mengantisipasi potensi masuknya platform serupa ke Indonesia, mengingat tingginya minat masyarakat terhadap perdagangan daring dan investasi alternatif. Langkah IG Group juga bisa menjadi preseden bagi perusahaan keuangan global lainnya untuk merambah sektor ini, yang pada akhirnya memengaruhi dinamika pasar modal dan perlindungan konsumen di tanah air.
Secara terpisah, IG Group melaporkan pendapatan semester pertama naik 18 persen menjadi 642,8 juta poundsterling, dengan laba inti meningkat 4 persen menjadi 282 juta poundsterling. Saham perusahaan ditutup naik 1 persen pada level 17,06 poundsterling pada hari pengumuman. Dengan akuisisi ini, IG Group menargetkan pertumbuhan double-digit dalam tiga tahun ke depan. Pertanyaannya, apakah regulator AS akan memberikan lampu hijau penuh, atau justru memperketat aturan yang bisa menghambat ekspansi ini?



