BOJ Diprediksi Tahan Suku Bunga, Sinyal Hawkish Menguat di Tengah Tekanan Inflasi
Baca dalam 60 detik
- Bank of Japan diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di 1% pada akhir pekan ini, namun sinyal kenaikan lanjutan akan disampaikan.
- Tekanan harga dari yen lemah dan konflik Timur Tengah mendorong BOJ untuk tetap waspada, meskipun inflasi inti masih di bawah target 2%.
- Keputusan ini berdampak pada nilai tukar yen dan dapat mempengaruhi arus modal ke pasar emerging market, termasuk Indonesia.

Bank of Japan (BOJ) diproyeksikan akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 1% dalam pertemuan dua hari yang berakhir Jumat ini, namun sinyal hawkish tetap akan dikirimkan seiring meningkatnya tekanan harga dari pelemahan yen dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Keputusan ini menjadi sorotan pasar global karena dapat mempengaruhi arah kebijakan moneter di kawasan Asia.
Meskipun baru menaikkan suku bunga pada Juni lalu—yang merupakan level tertinggi dalam 31 tahun—BOJ diyakini belum akan mengubah suku bunga dalam pertemuan kali ini. Namun, anggota dewan yang cenderung hawkish, Hajime Takata, dikabarkan dapat mengajukan usulan kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%. Perbedaan pendapat di internal BOJ ini mencerminkan ketegangan antara kebutuhan untuk menekan inflasi dan risiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Pertemuan BOJ ini mengikuti langkah Federal Reserve AS yang pekan lalu juga menahan suku bunga, meskipun tiga anggota dewan memilih untuk menaikkan seperempat poin. Kesamaan sikap hati-hati dari dua bank sentral utama ini menunjukkan kekhawatiran bersama terhadap inflasi yang masih tinggi, terutama akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik Iran.
Pasar kini menanti laporan proyeksi ekonomi triwulanan BOJ dan konferensi pers Gubernur Kazuo Ueda untuk mencari petunjuk mengenai waktu kenaikan suku bunga berikutnya. Sumber Reuters menyebutkan, dewan kemungkinan akan merevisi naik proyeksi pertumbuhan fiskal 2026 seiring meredanya kekhawatiran dampak konflik Timur Tengah. Di sisi lain, proyeksi inflasi mungkin dipangkas karena efek subsidi dan penurunan harga minyak, meskipun pelemahan yen dan ketidakpastian harga energi dapat membatasi besaran revisi.
Kei Fujimoto, ekonom senior di SuMi Trust, menilai bahwa meskipun proyeksi inflasi mungkin turun, pertumbuhan yang lebih kuat akan memperkuat keyakinan bahwa ekonomi Jepang mampu menahan normalisasi kebijakan lebih lanjut. Ia memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga sekitar sekali setiap enam bulan, namun tidak menutup kemungkinan percepatan jika tekanan harga impor terus meningkat.
Pelemahan yen yang mencapai titik terendah dalam 40 tahun menjadi perhatian utama. Nilai tukar yang rendah mendorong kenaikan biaya impor, memberatkan rumah tangga dan peritel. Gubernur Ueda menghadapi tantangan untuk meredam spekulasi yen melalui komunikasi hawkish, terutama dengan prospek kenaikan suku bunga AS yang semakin membebani yen. Namun, tekanan dari pemerintahan yang cenderung dovish dan potensi dampak ekonomi dari gempa bumi berkekuatan 7,1 SR di Prefektur Kumamoto—pusat industri manufaktur dan semikonduktor—dapat meredam nada hawkish tersebut.
Bagi Indonesia, kebijakan BOJ memiliki implikasi penting. Suku bunga Jepang yang tetap rendah dapat mendorong aliran modal investor Jepang ke pasar emerging market seperti Indonesia, mencari imbal hasil lebih tinggi. Namun, jika BOJ akhirnya menaikkan suku bunga lebih cepat, hal ini berpotensi memicu arus balik modal dan menekan nilai tukar rupiah. Bank Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dalam merumuskan kebijakan moneter ke depan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa cepat BOJ akan bergerak menuju normalisasi kebijakan. Dengan inflasi inti yang diperkirakan kembali di atas 2% pada akhir tahun, tekanan untuk menaikkan suku bunga akan semakin kuat. Namun, ketidakpastian global dan risiko domestik dapat membuat bank sentral Jepang tetap berhati-hati. Keputusan pada pertemuan ini akan menjadi sinyal awal bagi arah kebijakan moneter Jepang dalam beberapa bulan mendatang.



