Yen Tembus 158 per Dolar AS, Spekulasi Intervensi Pemerintah Jepang Menguat
Baca dalam 60 detik
- Yen Jepang menguat tajam ke level 158 per dolar AS, memicu dugaan intervensi otoritas moneter.
- Pelemahan yen sebelumnya dipicu kekhawatiran fiskal usai rencana pemotongan pajak konsumsi tanpa sumber dana jelas.
- Keputusan The Fed menahan suku bunga menjadi momentum yang dimanfaatkan Jepang untuk menopang mata uangnya.

Nilai tukar yen Jepang terhadap dolar AS tiba-tiba meroket menembus level 158 pada perdagangan Kamis malam di Tokyo, memicu spekulasi luas bahwa pemerintah Negeri Sakura telah turun tangan secara diam-diam untuk menyelamatkan mata uangnya yang terpuruk. Pergerakan dramatis ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap kebijakan fiskal Perdana Menteri Sanae Takaichi yang dinilai agresif.
Sebelum lonjakan tersebut, yen telah terperosok ke titik terlemahnya dalam 40 tahun terakhir, diperdagangkan di kisaran 163,73โ163,74 per dolar AS pada pukul 17.00 waktu setempat. Tekanan jual terhadap yen kian deras setelah Takaichi mengumumkan rencana pemotongan tarif pajak konsumsi untuk makanan dan minuman dari 8 persen menjadi hanya 1 persen selama dua tahun mulai April mendatang. Langkah ini merupakan pemotongan pertama sejak sistem pajak konsumsi diperkenalkan pada 1989.
Pelaku pasar menilai kebijakan populis tersebut berisiko memperburuk kesehatan fiskal Jepang yang sudah menjadi yang terburuk di antara negara-negara maju. Tanpa sumber pendanaan yang jelas, pemotongan pajak justru dikhawatirkan akan memperlebar defisit anggaran dan meningkatkan utang publik yang telah mencapai 250 persen dari PDB. Kekhawatiran inilah yang mendorong aksi jual besar-besaran terhadap yen dalam beberapa pekan terakhir.
Lonjakan yen yang mendadak membuat banyak partisipan pasar terkejut. Seorang trader di Tokyo mengaku tidak memiliki penjelasan jelas mengapa yen dibeli secara tiba-tiba. Namun, ia menduga bahwa keputusan Federal Reserve pada 29 Juli untuk menahan suku bunga acuan telah mendorong aksi jual dolar terhadap yen, dan pemerintah Jepang memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan intervensi. Bank of Japan sendiri dijadwalkan mengumumkan hasil pertemuan kebijakan moneternya beberapa jam setelah pergerakan yen tersebut.
Otoritas Jepang sebelumnya diperkirakan telah melakukan intervensi pada April hingga Mei lalu dengan menjual dolar AS untuk mendukung yen. Kali ini, jika intervensi benar-benar terjadi, ini akan menjadi yang pertama dalam dua bulan terakhir. Pasar kini menanti konfirmasi resmi dari Kementerian Keuangan Jepang yang biasanya enggan mengonfirmasi intervensi secara langsung.
Bagi Indonesia, fluktuasi yen memiliki dampak signifikan. Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama dan investor terbesar di Indonesia. Pelemahan yen sebelumnya telah membuat produk ekspor Indonesia lebih mahal di pasar Jepang, sementara utang dalam yen menjadi lebih berat. Jika yen terus menguat, hal ini dapat meredakan tekanan pada neraca perdagangan Indonesia dan mengurangi beban pembayaran utang luar negeri yang didenominasi dalam yen. Namun, jika intervensi hanya bersifat sementara, volatilitas yen tetap menjadi risiko bagi stabilitas nilai tukar rupiah.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Bank of Japan akan menaikkan suku bunga untuk memperkuat yen secara fundamental, atau justru mempertahankan kebijakan longgar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Keputusan BOJ dalam beberapa jam mendatang akan menjadi penentu arah yen selanjutnya. Pasar juga akan mencermati apakah pemotongan pajak konsumsi benar-benar akan diimplementasikan tanpa mengganggu kredibilitas fiskal Jepang.



