Ancaman Boikot UEFA: Infantino Terpojok, Masa Depan Piala Dunia Dipertaruhkan
Baca dalam 60 detik
- UEFA dan 55 asosiasinya mengancam boikot total semua kompetisi FIFA jika rencana penjualan 20% saham anak perusahaan FIFA disetujui.
- Rencana pendanaan yang melibatkan investor swasta, termasuk kerabat menantu Trump, memicu kemarahan karena minim konsultasi dan dianggap menguntungkan kroni.
- Krisis ini berpotensi memicu perpecahan terbesar dalam sejarah sepak bola, dengan dampak komersial dan politis yang luas, termasuk bagi Indonesia sebagai anggota FIFA.

Ketegangan antara UEFA dan FIFA mencapai titik didih setelah badan sepak bola Eropa secara resmi mengancam akan memboikot semua turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia, sebagai respons terhadap rencana Presiden Gianni Infantino menjual 20% saham anak perusahaan yang mengelola kompetisi induk organisasi tersebut. Ancaman yang disampaikan Kamis (30/7) waktu setempat itu langsung mengguncang jagat sepak bola global.
Dalam pernyataan singkat namun bernada keras, UEFA dan 55 asosiasi anggotanya menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam ajang FIFA jika skema investasi yang melibatkan Joshua Kushner—saudara ipar Presiden AS Donald Trump—diresmikan. Rencana ini dinilai sebagai langkah nekat Infantino untuk mendatangkan dana segar, tetapi justru memicu kemarahan karena dianggap mengabaikan tata kelola yang baik dan hanya menguntungkan segelintir pihak.
Kekhawatiran terbesar adalah dampaknya terhadap turnamen yang sudah berjalan. Deadline 19 September bagi negara-negara untuk menerima tawaran dana $20 juta (£15 juta) dari FIFA berpotensi membuat tim-tim Eropa menarik diri di tengah kompetisi, seperti Piala Dunia Wanita U-20 yang akan dimulai 5 September di Polandia. “Kami tidak yakin detailnya sudah dipertimbangkan saat kebijakan ini diambil,” ujar seorang sumber senior sepak bola Eropa kepada BBC.
Wakil Presiden UEFA dan mantan pemain timnas Wales, Laura McAllister, menyebut situasi ini sebagai “pemerasan” oleh FIFA. “Wales akan bertanding di play-off Piala Dunia Wanita musim gugur ini—itu pertama kalinya kami lolos. Tak seorang pun bisa membayangkan tidak ikut serta. Tapi ini bukan masalah yang kami buat. FIFA yang mendorong kami ke sudut ini,” tegasnya dalam wawancara dengan BBC Radio 5 Live.
Dukungan terhadap sikap UEFA datang dari berbagai pihak. Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf) menyatakan 41 anggotanya menolak proposal tersebut. Ketua FA Inggris Debbie Hewitt, yang juga menjabat wakil presiden FIFA, angkat bicara menentang rencana itu dalam pertemuan darurat UEFA. FA Skotlandia melalui presidennya Mike Mulraney—yang juga ketua komite keuangan FIFA—menyatakan “setuju sepenuhnya” dengan sikap UEFA. Sumber menyebutkan kemarahan melanda pertemuan darurat UEFA, bukan hanya karena isi proposal, tetapi juga karena Infantino dinilai tidak melakukan konsultasi yang memadai, bahkan dengan koleganya di FIFA.
Krisis ini membuka peluang langka: tantangan terhadap kursi presiden FIFA. Infantino, yang menjabat sejak 2016, diperkirakan akan kembali mencalonkan diri pada Maret 2026 tanpa lawan. Namun, sumber di Concacaf menyebut mayoritas anggotanya mulai kehilangan kepercayaan pada kemampuan Infantino memimpin. Nama Nasser Al-Khelaifi, presiden Paris Saint-Germain dan ketua Asosiasi Klub Eropa, muncul sebagai calon potensial. Namun, sumber dekat Al-Khelaifi menegaskan ia “sama sekali tidak menginginkan pekerjaan itu.” Mantan ketua FA Inggris David Bernstein menilai Infantino harus mundur jika rencana ini gagal, meski ia meragukan FIFA akan bertindak seperti organisasi normal.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi langsung. Sebagai anggota FIFA, PSSI harus menentukan sikap di tengah tekanan politik dan komersial. Jika boikot UEFA benar-benar terjadi, Piala Dunia tanpa tim-tim Eropa akan kehilangan daya tarik dan pendapatan siaran yang signifikan, yang pada akhirnya berdampak pada distribusi dana pengembangan ke negara-negara seperti Indonesia. Pertanyaan besarnya: akankah Infantino mundur atau justru memecah belah sepak bola dunia? Atau akankah solusi kompromi ditemukan sebelum batas waktu September?



