Worldline Kembali Pangkas Proyeksi Pendapatan, Bank Masih Ragu Beri Kontrak
Baca dalam 60 detik
- Worldline merevisi turun target pertumbuhan pendapatan 2026 menjadi flat atau sedikit positif, dari sebelumnya rendah satu digit.
- Keputusan bank untuk memberikan kontrak baru tertunda akibat kekhawatiran atas masalah hukum dan kinerja perusahaan pada 2025.
- Perusahaan mengandalkan bisnis merchant services untuk mendorong pemulihan di semester kedua, meski prospek jangka panjang masih diragukan.

Penyedia jasa pembayaran digital asal Prancis, Worldline, kembali merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan pendapatannya untuk tahun 2026. Langkah ini diambil setelah pemulihan bisnis baru berjalan lebih lambat dari perkiraan, terutama karena bank-bank mitra menunda pemberian kontrak pascamasalah yang membelit perusahaan sepanjang 2025.
Dalam keterangan resmi, Kamis (30/7), Worldline menyatakan kini memperkirakan pertumbuhan pendapatan 2026 akan flat hingga sedikit positif, turun dari target awal yang sebesar pertumbuhan rendah satu digit. Keputusan ini menandai babak baru tekanan bagi perusahaan yang sudah berjuang memulihkan kepercayaan investor sejak akhir 2024.
Pendapatan kuartal kedua tercatat tidak berubah secara tahunan, setelah tujuh kuartal berturut-turut mengalami kontraksi. Chief Executive Pierre-Antoine Vacheron mengakui bahwa pemulihan aktivitas komersial dan pengakuan pendapatan berjalan lebih lambat dari antisipasi. "Alasannya sederhana: terjadi penundaan dalam keputusan bank untuk mengalokasikan kontrak baru ke Worldline karena apa yang kami alami pada 2025, yang membuat bank-bank mempertanyakan," ujar Vacheron kepada wartawan.
Worldline belum mencatat pertumbuhan pendapatan organik sejak akhir 2024. Rentetan masalah, termasuk tuduhan pencucian uang dan serangkaian peringatan laba, telah menyebabkan hilangnya sejumlah besar pelanggan dan anjloknya harga saham. Perusahaan yang didukung oleh pemegang saham utama seperti Credit Agricole, BNP Paribas, dan Bpifrance ini sebelumnya telah menerima suntikan modal sebesar 500 juta euro dan melakukan divestasi aset untuk menopang keuangan.
Meskipun demikian, Vacheron optimistis bahwa semester kedua akan "sedikit lebih baik" dibandingkan paruh pertama, didorong oleh momentum bisnis merchant services. Worldline juga mengonfirmasi prospek EBITDA setahun penuh dan meningkatkan target arus kas bebas menjadi minus 60-40 juta euro, dari sebelumnya minus 80-70 juta euro.
Bagi pelaku industri pembayaran di Indonesia, perkembangan Worldline menjadi pengingat bahwa kepercayaan mitra perbankan sangat rentan terhadap isu kepatuhan dan reputasi. Di tengah maraknya digitalisasi pembayaran di Tanah Air, perusahaan fintech lokal perlu mencermati pentingnya tata kelola dan transparansi untuk menjaga hubungan dengan bank sebagai mitra strategis. Jika tidak, risiko penundaan kontrak seperti yang dialami Worldline bisa menghambat pertumbuhan.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah Worldline mampu memulihkan kepercayaan bank-bank besar dan kembali ke jalur pertumbuhan. Dengan tekanan dari investor dan pasar yang masih skeptis, setiap langkah perusahaan akan diawasi ketat. Akankah strategi fokus pada merchant services cukup untuk membalikkan keadaan, atau justru diperlukan transformasi yang lebih fundamental?



