Kisah Survivor Hiroshima: 'Kalian Bisa Ubah Dunia' untuk Perdamaian
Baca dalam 60 detik
- Seorang penyintas bom atom Hiroshima, Keiko Ogura, menyampaikan pesan perdamaian kepada 15 siswa AS yang berkunjung ke Taman Perdamaian Hiroshima.
- Para siswa dari program AIG High School Diplomats mengaku tersentuh dan berkomitmen menggunakan diplomasi untuk mencegah perang nuklir.
- Kisah ini mengingatkan Indonesia akan pentingnya peran aktif dalam diplomasi global dan pelucutan senjata nuklir.

Di tengah hiruk-pikuk politik global yang kian panas, seorang perempuan berusia 88 tahun bernama Keiko Ogura menyampaikan pesan yang menggugah kepada 15 siswa sekolah menengah atas asal Amerika Serikat di Taman Perdamaian Hiroshima, Jepang, pada 23 Juli lalu. Ogura, yang selamat dari bom atom yang dijatuhkan AS pada 1945, berkata, “Sekarang kalian telah belajar tentang Hiroshima, kalian bisa mengubah dunia.”
Para siswa berusia 16 hingga 18 tahun itu berasal dari tujuh negara bagian AS dan mengikuti Program AIG High School Diplomats. Mereka datang untuk mempelajari sejarah dan diplomasi. Salah satu siswa menyatakan keinginannya untuk memperoleh keterampilan diplomatik demi perdamaian. Ogura, yang fasih berbahasa Inggris, menunjukkan foto-foto Hiroshima pasca-pengeboman dan gambar-gambar yang dibuat siswa Jepang berdasarkan pengalamannya.
“Kalian bisa melakukan sesuatu untuk perdamaian, misalnya melalui gambar dan musik,” ujar Ogura kepada para siswa. “Negara kalian memiliki senjata nuklir. Aku ingin kalian menjadi pemimpin yang hebat dan bijaksana.” Pesan ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab untuk mencegah bencana serupa tidak hanya ada di tangan para pemimpin, tetapi juga generasi muda.
Salah satu siswa, Aashna Gupta (17), mengungkapkan rasa terima kasihnya. “Seperti banyak orang Amerika yang Anda sebutkan, saya hanya melihat sejarah dari perspektif Amerika selama ini,” katanya. “Saya juga sangat tersentuh oleh kenyataan bahwa Ogura-san dan penyintas bom atom lainnya terus berbagi pengalaman mereka. Itu mengingatkan saya pada kekuatan diplomasi—pentingnya upaya berkelanjutan untuk mempromosikan perdamaian dan saling pengertian.”
Kisah ini relevan bagi Indonesia, yang sejak lama konsisten mendukung pelucutan senjata nuklir dan perdamaian dunia. Sebagai negara non-blok dan anggota aktif Gerakan Non-Blok, Indonesia memiliki kepentingan strategis dalam mencegah proliferasi nuklir. Pengalaman Hiroshima menjadi pengingat bahwa dampak perang nuklir tidak mengenal batas negara. Generasi muda Indonesia pun dapat belajar dari semangat Ogura untuk menjadi agen perdamaian melalui jalur diplomasi, seni, dan pendidikan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: akankah pesan Ogura mampu menginspirasi lebih banyak pemimpin muda global untuk mengambil tindakan nyata? Atau justru ancaman nuklir akan semakin nyata di tengah ketegangan geopolitik? Yang jelas, suara para penyintas seperti Ogura terus menjadi alarm bagi dunia agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu.



