Brescia Bubar, Dana Solidaritas Tonali Rp 68 Miliar Melayang ke FIFA
Baca dalam 60 detik
- Klub Serie B Brescia resmi dilikuidasi pengadilan pada 28 Juli, mengakhiri 114 tahun sejarah, setelah gagal memenuhi tenggat keuangan dan menumpuk utang €20 juta.
- Akibat likuidasi, hak Brescia atas dana solidaritas FIFA sekitar €4 juta dari transfer Sandro Tonali ke Tottenham—yang sengaja diupayakan Cellino dengan mendaftarkan tim U-16—kini jatuh ke kas FIFA.
- Pemilik Massimo Cellino berencana mengajukan banding, mengklaim ada kesalahan interpretasi dalam proses hukum yang merugikan kreditor.

Keputusan pengadilan di Brescia pada 28 Juli lalu—tepat di hari ulang tahun ke-70 pemilik klub, Massimo Cellino—menjadi pukulan telak bagi salah satu klub bersejarah Italia. Brescia Calcio, yang telah malang melintang antara Serie A dan Serie B selama 114 tahun, resmi memasuki likuidasi yudisial. Lebih menyakitkan lagi, dana solidaritas FIFA senilai sekitar €4 juta (sekitar Rp 68 miliar) yang seharusnya diterima klub dari transfer Sandro Tonali ke Tottenham Hotspur, kini harus melayang ke FIFA.
Dana tersebut merupakan bagian dari mekanisme solidaritas FIFA yang mewajibkan klub pembeli (Tottenham) menyisihkan sebagian biaya transfer untuk klub-klub yang berjasa dalam pengembangan pemain muda. Brescia, sebagai salah satu klub yang membesarkan Tonali sebelum ia pindah ke AC Milan dan kemudian ke Spurs, berhak atas bagian tersebut. Cellino sendiri telah bergerak cerdik dengan mengaktifkan kembali registrasi klub yang sempat mati pada 30 Juni, bahkan mendaftarkan tim U-16 di liga provinsi, semata-mata agar Brescia tetap memenuhi syarat untuk menerima dana itu.
Namun, upaya itu kandas oleh realitas hukum. Likuidasi dipicu oleh eksklusi Brescia dari liga profesional karena gagal memenuhi tenggat keuangan dan akumulasi utang yang mencapai €20 juta. Dengan status likuidasi, seluruh aset dan hak finansial klub—termasuk piutang dana solidaritas—beralih ke kurator untuk disetorkan ke FIFA sebagai bagian dari proses penyelesaian utang.
Cellino, yang dikenal sebagai pengusaha kontroversial di sepak bola Italia, tidak tinggal diam. Ia mengumumkan niat untuk mengajukan banding atas putusan likuidasi. Dalam wawancara dengan Italpress, ia menyebut adanya “kesalahan interpretasi besar” dan “bahaya yang harus dihindari demi kepentingan para kreditor.” Ia juga menyoroti adanya kesalahan komunikasi dalam penanganan kasus yang belum pernah diklarifikasi sepenuhnya.
Bagi pengamat sepak bola, kasus Brescia menjadi pengingat betapa rentannya klub-klub historis di Italia terhadap mismanajemen keuangan. Di Indonesia, fenomena serupa juga pernah terjadi—misalnya pada klub-klub Liga 1 yang gulung tikar atau terancam degradasi karena tunggakan gaji dan utang. Pelajaran dari Brescia adalah bahwa celah regulasi seperti dana solidaritas FIFA pun bisa lenyap jika klub tidak sehat secara finansial. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Cellino membalikkan keputusan pengadilan, ataukah Brescia akan bernasib sama seperti klub-klub Italia lain yang bangkrut dan harus memulai dari divisi amatir?



