Bencana Longsor Chongqing: 51 Tewas, 10 Hilang, Operasi Pencarian Berakhir
Baca dalam 60 detik
- Longsor di Chongqing pada 17 Juli menewaskan 51 orang dan 10 lainnya masih dinyatakan hilang setelah operasi pencarian selama 325 jam.
- Lebih dari 1.100 warga berhasil dievakuasi, sementara 1.080 personel dikerahkan dengan tantangan medan berat dan suhu tinggi.
- Bencana ini terjadi hanya dua pekan setelah longsor di Gansu yang menewaskan 21 orang, memicu kekhawatiran akan kesiapsiagaan bencana di China.

Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas akibat longsor dahsyat di Chongqing, China barat daya, mencapai 51 orang, dengan 10 lainnya masih belum ditemukan. Bencana yang terjadi pada 17 Juli lalu ini menyapu permukiman di kaki gunung dan tepi sungai di Kabupaten Pengshui, memicu operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran yang berlangsung selama 325 jam.
Dalam pernyataan yang dirilis Kamis (30/7) malam, pejabat Pengshui mengungkapkan bahwa total lebih dari 1.100 warga telah dievakuasi ke tempat aman. Sepuluh orang berhasil diselamatkan, tiga di antaranya sempat dirawat di rumah sakit. Operasi pencarian melibatkan lebih dari 1.080 personel, termasuk tim penyelamat, penyelam bawah air, dan robot yang menyisir sungai di dekat lokasi longsor.
Proses evakuasi dan pencarian menghadapi tantangan berat. Material longsoran berupa batu raksasa, perubahan elevasi, ruang sempit, dan suhu tinggi menjadi kendala utama. Tim penjinak bom bahkan harus meledakkan bongkahan batu besar untuk mempercepat akses. Total lebih dari 330.000 meter kubik material puing berhasil dipindahkan selama operasi.
Pekan sebelumnya, tim penyelamat sempat menyatakan tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di area terdampak. Meski demikian, upaya pencarian tetap dilanjutkan hingga batas waktu yang ditentukan. Pemerintah setempat menyatakan bahwa penanganan pascabencana, termasuk dukungan bagi keluarga korban, bantuan, dan relokasi, berjalan tertib.
Bencana ini terjadi kurang dari dua pekan setelah longsor di Provinsi Gansu, China barat laut, yang mengubur 33 orang dan menewaskan 21 jiwa. Rentetan bencana ini menyoroti kerentanan wilayah pegunungan China terhadap longsor, terutama saat musim hujan. Para ahli memperkirakan perubahan iklim dan aktivitas manusia, seperti pembangunan di lereng curam, meningkatkan risiko bencana serupa.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya sistem peringatan dini dan tata ruang yang ketat di daerah rawan longsor. Dengan topografi yang mirip di beberapa wilayah seperti Jawa Barat dan Sumatera, mitigasi bencana harus terus diperkuat. Pertanyaan yang muncul: apakah infrastruktur dan kesiapsiagaan kita cukup untuk menghadapi bencana hidrometeorologi yang semakin ekstrem?



