UEFA dan 55 Negara Anggota Sepakat Boikot Piala Dunia, FIFA Didesak Batalkan Rencana Investasi Swasta
Baca dalam 60 detik
- UEFA dan 55 asosiasi sepak bola Eropa memboikot turnamen FIFA sebagai protes terhadap rencana penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta.
- CONCACAF, yang mewadahi federasi sepak bola Amerika Utara dan Tengah, juga menolak proposal tersebut karena dianggap melanggar tata kelola yang baik.
- Langkah ini memicu pertanyaan tentang masa depan hubungan FIFA dengan anggota dan potensi dampak bagi sepak bola global, termasuk Indonesia.

UEFA bersama 55 negara anggotanya memutuskan untuk memboikot seluruh turnamen FIFA sebagai bentuk penolakan terhadap rencana induk organisasi sepak bola dunia itu yang hendak menjual sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta. Keputusan bersejarah ini diambil dalam sebuah pemungutan suara pada Kamis (30/7) dan langsung mendapat dukungan dari Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF).
Rencana FIFA yang digagas Presiden Gianni Infantino itu dinilai telah melampaui batas. Para kritikus menyebut langkah tersebut mengancam esensi sepak bola sebagai olahraga rakyat dan mengubahnya menjadi instrumen profit semata. Asosiasi Sepak Bola Skotlandia, misalnya, mengecam proses pengambilan keputusan yang dianggap tidak transparan dan terburu-buru. โKami dengan tegas menolak proposal ini karena tidak melalui konsultasi penuh dan tidak mempertimbangkan tata kelola yang baik,โ demikian pernyataan resmi mereka.
Kritik paling pedas datang dari Alexander Wehrle, Ketua Dewan Pengawas anak perusahaan ekonomi dan digital Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) yang juga CEO VfB Stuttgart. Ia mempertanyakan apakah Infantino pernah benar-benar merasakan atmosfer sepak bola sebagai suporter. โSaya ragu dia tahu apa arti sepak bola sebagai permainan yang menyatukan. FIFA seharusnya mengatur turnamen, bukan mengejar keuntungan maksimal. Sesuatu telah melenceng dan harus dihentikan,โ ujarnya.
Asosiasi Sepak Bola Swedia (SvFF) dan Norwegia (NFF) juga menyuarakan penolakan serupa. Mereka menekankan bahwa proposal dengan konsekuensi sebesar itu harus dibahas secara terbuka dan melibatkan semua pemangku kepentingan. โTidak boleh ada proyek yang mengubah inti model bersama ini dikembangkan secara rahasia di luar badan terpilih dan disajikan sebagai keputusan final tanpa konsultasi,โ tegas perwakilan Norwegia. Mereka bahkan mengancam akan mundur dari kompetisi FIFA jika proyek ini terus berjalan.
Dari kubu Amerika, Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (U.S. Soccer) dan Kanada (Canada Soccer) menyatakan solidaritas dengan CONCACAF. Mereka menyebut keputusan ini sebagai langkah berprinsip untuk melindungi sepak bola dari kepentingan investor miliarder. โSepak bola milik para penggemar, bukan investor kaya. Sudah cukup. Saatnya mengambil sikap,โ demikian pernyataan bersama dari beberapa asosiasi.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi strategis. Sebagai anggota FIFA, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) perlu mencermati perkembangan ini. Jika boikot meluas, Indonesia bisa kehilangan kesempatan berpartisipasi dalam turnamen FIFA atau justru terpaksa memihak. Lebih jauh lagi, isu tata kelola yang diangkat oleh UEFA dan CONCACAF relevan dengan reformasi sepak bola Indonesia yang tengah berjalan. Keputusan FIFA untuk mengakomodasi investor swasta juga berpotensi mengubah pola pendanaan klub dan kompetisi di Tanah Air.
Pertanyaan besarnya kini: akankah FIFA menarik kembali rencananya atau justru berkonfrontasi dengan anggota-anggota utamanya? Jika Infantino tetap ngotot, bukan tidak mungkin kita akan menyaksikan perpecahan terbesar dalam sejarah sepak bola modern, di mana turnamen seperti Piala Dunia kehilangan legitimasi dari benua Eropa dan Amerika.



