Polisi Kamboja Kepung Perbatasan Buru Putri Konglomerat Terlibat Tabrak Lari Fatal
Baca dalam 60 detik
- Polisi Kamboja menutup seluruh pos perbatasan untuk memburu Sam Meiju, 27, putri seorang taipan bergelar Oknha, yang diduga menabrak pejabat hingga tewas dan melarikan diri.
- Kasus ini memicu kemarahan publik di media sosial, dengan banyak warga mendesak penegakan hukum tanpa pandang bulu terhadap pelaku dari kalangan elite.
- Menteri Kehakiman Kamboja menegaskan bahwa melarikan diri setelah kecelakaan fatal merupakan pelanggaran terpisah yang harus ditindak tegas.

Polisi Kamboja menyegel seluruh jalur perbatasan darat dan udara dalam perburuan terhadap Sam Meiju, 27, putri seorang pengusaha bergelar Oknha yang diduga menjadi pelaku tabrak lari hingga menewaskan seorang pejabat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perhubungan di Phnom Penh. Langkah pengepungan ini diambil setelah tersangka diduga melarikan diri usai insiden pada 28 Juli lalu.
Wakil Komisaris Jenderal Polisi Nasional sekaligus Kepala Kepolisian Phnom Penh, Letnan Jenderal Choun Narin, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah memblokade semua titik keluar masuk negara untuk mencegah Sam Meiju kabur ke luar negeri. Dalam unggahan media sosial pada Kamis (30/7) dini hari, ia secara terbuka meminta tersangka menyerahkan diri. “Berhentilah melarikan diri. Serahkan dirimu ke unit polisi mana pun. Tunjukkan keberanian,” tulisnya.
Choun Narin menambahkan bahwa aparat tidak hanya memburu tersangka, tetapi juga siapa pun yang diduga membantu menyembunyikan atau memfasilitasi pelariannya. Pada 29 Juli, ia telah memerintahkan penyidik untuk segera menangkap perempuan tersebut setelah bukti awal menunjukkan bahwa kendaraan yang dikemudikannya menabrak seorang pejabat laboratorium konstruksi hingga tewas di tempat.
Insiden ini memicu perhatian luas di media sosial Kamboja. Banyak warganet mendesak aparat untuk memproses hukum tersangka secara transparan, mengingat latar belakang keluarganya yang berada. Ayah Sam Meiju, Oknha Tong Hok Seng, seorang konglomerat yang disegani, telah menemui polisi untuk membahas kasus ini, namun hingga kini putrinya belum juga menyerahkan diri.
Menteri Kehakiman Koeut Rith sebelumnya menekankan bahwa pengemudi yang melarikan diri setelah menyebabkan kecelakaan fatal melakukan dua pelanggaran sekaligus. “Menabrak orang dan melarikan diri bukan satu pelanggaran, melainkan dua. Apakah pengemudi bersalah atau tidak itu satu hal, tetapi melarikan diri dari tempat kejadian adalah tindak pidana terpisah. Kami harus bertindak tegas. Kasus kecelakaan lalu lintas serius tetap menjadi prioritas,” ujarnya dalam pernyataan terpisah.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya penegakan hukum yang setara tanpa memandang status sosial. Praktik tabrak lari yang melibatkan keluarga elite kerap memicu krisis kepercayaan publik terhadap institusi hukum. Di Kamboja, gelar Oknha—setara dengan taipan yang dihormati—sering kali memberikan pengaruh politik dan ekonomi, sehingga kasus ini menjadi ujian bagi komitmen pemerintah dalam memberantas impunitas.
Polisi terus mengembangkan penyelidikan, termasuk memeriksa rekaman kamera pengawas dan saksi di lokasi kejadian. Sementara itu, publik menanti apakah tersangka akan tertangkap atau justru berhasil meloloskan diri ke negara tetangga. Pertanyaan besarnya: akankah sistem peradilan Kamboja mampu menahan tekanan elite dan memproses kasus ini secara adil?



