Pakistan Masih Mediasi AS-Iran, Selat Hormuz Kembali Membara
Baca dalam 60 detik
- Pakistan mengklaim negosiasi AS-Iran masih berlangsung meski kedua pihak saling melancarkan serangan militer dalam beberapa hari terakhir.
- Selat Hormuz kembali menjadi titik panas setelah Iran menutup jalur tersebut dan menyerang dua kapal tanker minyak.
- Eskalasi ini berpotensi mengganggu pasokan energi global dan memicu kenaikan harga minyak yang berdampak pada Indonesia.

Pakistan, yang selama ini menjadi penengah antara Amerika Serikat dan Iran, bersikeras bahwa perundingan damai masih berlangsung meskipun kedua negara kembali saling serang dalam eskalasi terbaru yang melibatkan Selat Hormuz dan beberapa negara Timur Tengah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, menyatakan di Islamabad bahwa negosiasi teknis masih berjalan, terutama terkait Selat Hormuz dan upaya de-eskalasi. "Kami melakukan segala upaya untuk membawa semua pihak kembali ke meja perundingan," ujarnya. Namun, klaim ini kontras dengan fakta di lapangan: AS melancarkan "gelombang serangan berat" ke Iran sebagai balasan atas serangan rudal Tehran ke Yordania, sementara Iran kembali menutup Selat Hormuz—jalur vital bagi minyak dan gas bumi.
Dalam dua hari terakhir, Arab Saudi bergabung dengan AS menyerang kelompok militan di Irak, dan Mesir untuk pertama kalinya menjadi sasaran serangan drone di pelabuhan Mediterania. Kuwait melaporkan satu pekerja tewas akibat serangan Iran yang menghantam gedung milik perusahaan China di utara negara itu. Yordania juga mengonfirmasi intersepsi rudal Iran untuk hari kedua berturut-turut.
Eskalasi ini terjadi setelah gencatan senjata singkat yang bertujuan memberi ruang bagi perundingan. Sebelumnya, kesepakatan April lalu gagal setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz awal bulan ini. Garda Revolusi Iran mengklaim dua kapal tanker minyak yang mencoba melintasi selat dengan dukungan AS berbalik arah setelah salah satunya terbakar. Sementara itu, militer AS menyatakan berhasil menghantam puluhan target Garda Revolusi, termasuk pusat komando militer.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi menaikkan harga energi domestik dan memperburuk defisit neraca perdagangan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) perlu mewaspadai fluktuasi pasokan, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah dari kawasan Teluk. Selain itu, risiko terhadap keselamatan pelayaran dan warga negara Indonesia di zona konflik juga meningkat.
Menurut analis geopolitik dari Universitas Indonesia, eskalasi ini menunjukkan bahwa diplomasi Pakistan belum membuahkan hasil signifikan. "Pakistan memang memiliki hubungan baik dengan kedua pihak, tetapi kepentingan domestik AS dan Iran terlalu besar untuk diredam lewat mediasi saja," ujarnya. Ia menambahkan bahwa keterlibatan aktor lain seperti Arab Saudi dan Mesir memperluas cakupan konflik, membuat solusi damai semakin rumit.
Di sisi lain, serangan drone di Mesir menandai perluasan teater perang. Mesir yang sebelumnya relatif aman kini harus mengamankan infrastruktur energinya. Kapal penyimpanan dan regasifikasi Energos Winter serta tanker GasLog Salem rusak dan telah dipindahkan ke lepas pantai. Otoritas pelabuhan setempat memastikan operasi tetap normal, tetapi insiden ini menunjukkan kerentanan rantai pasok energi global.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah gencatan senjata baru dapat dicapai sebelum konflik semakin meluas. Pakistan mungkin terus mendorong perundingan teknis, tetapi tanpa komitmen nyata dari Washington dan Tehran, Selat Hormuz akan tetap menjadi barometer ketegangan yang memengaruhi harga minyak dan stabilitas kawasan. Indonesia, sebagai bagian dari komunitas global yang terdampak, harus bersiap menghadapi skenario terburuk.



