Yen Meroket 3% dalam Sehari, Kekhawatiran Intervensi Jepang Menguat
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar yen melonjak hingga 3% terhadap dolar AS pada Kamis, menandai kenaikan harian terbesar sejak 2022, diduga akibat intervensi langsung Bank of Japan.
- Langkah ini dilakukan di tengah tekanan inflasi impor energi yang membebani perekonomian Jepang, setelah pelemahan yen berkepanjangan ke level terendah dalam 40 tahun.
- Pelaku pasar kini menanti keputusan suku bunga Bank of Japan pada Jumat, yang akan menentukan arah yen selanjutnya dan potensi intervensi lebih lanjut.

Yen Jepang mencatat lonjakan terbesar dalam satu hari sejak akhir 2022 pada Kamis (30/7), mendorong spekulasi luas bahwa Tokyo telah turun tangan secara langsung untuk menopang mata uang yang terpuruk ke titik terendah dalam empat dekade. Dolar AS ambrol hingga 3% ke level 158,34 yen, turun drastis dari posisi tertinggi 40 tahun di kisaran 164 yen yang sempat disentuh awal pekan ini.
Meskipun Kementerian Keuangan Jepang belum memberikan konfirmasi resmi, sejumlah bank mencatat volume perdagangan valuta asing yang melonjak tidak wajar. Analis menilai besarnya pergerakan yen hampir mustahil terjadi tanpa intervensi langsung. "Sulit membayangkan faktor lain selain intervensi yang mampu mendorong yen menguat hingga 5 yen dalam waktu sesingkat itu," ujar Daisaku Ueno, kepala strategi FX di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities.
Langkah ini terjadi di saat yang tidak terduga. Banyak pelaku pasar memperkirakan intervensi baru akan dilakukan setelah pertemuan Bank of Japan (BOJ) pada Jumat. Namun, pemerintah Jepang tampaknya sengaja mengejutkan pasar untuk membasmi posisi spekulatif terhadap yen. "Ada niat untuk menangkap pasar lengah," tambah Ueno.
Pelemahan yen yang berkepanjangan telah menjadi momok bagi perekonomian Jepang. Nilai tukar yang rendah membuat biaya impor energi dan bahan pangan melonjak, memperburuk tekanan biaya hidup masyarakat. Pemerintah Perdana Menteri Sanae Takaichi telah berulang kali memperingatkan bahwa yen yang lemah mulai merugikan ekonomi. Intervensi serupa sebelumnya menghabiskan lebih dari 70 miliar dolar AS pada April dan Mei lalu, meskipun dampaknya hanya bertahan sementara.
Konteks global turut mendukung langkah Tokyo. Federal Reserve AS mempertahankan suku bunga tanpa perubahan pada Rabu, yang justru melemahkan dolar karena pasar meragukan keseriusan The Fed dalam mengendalikan inflasi. Data ekonomi AS yang lemah dan posisi akhir bulan juga memberikan momen yang tepat bagi Jepang untuk bertindak. "Latar belakang ini memberi Jepang kesempatan emas untuk mendukung mata uangnya yang terpuruk," kata seorang analis valas.
Bagi Indonesia, pergerakan yen yang volatil patut dicermati. Jepang merupakan mitra dagang utama dan investor signifikan di sektor manufaktur serta infrastruktur. Penguatan yen dapat meningkatkan biaya impor dari Jepang, tetapi juga berpotensi memperkuat daya beli investor Jepang di Indonesia. Di sisi lain, pelemahan dolar AS secara umum bisa meredakan tekanan pada rupiah, meskipun Bank Indonesia tetap waspada terhadap gejolak pasar keuangan global.
Perhatian kini tertuju pada keputusan suku bunga BOJ pada Jumat. Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, tetapi memberi sinyal hawkish untuk membuka peluang kenaikan di masa depan. Namun, jika komunikasi BOJ dianggap terlalu dovish, yen berpotensi kehilangan kembali keuntungannya. "Pertanyaan kuncinya adalah sejauh mana pemerintah serius mempertahankan yen. Apakah mereka akan terus mendorong hingga dolar turun di bawah 155 yen?" ujar Yuji Saito, penasihat eksekutif SBI FX Trade di Tokyo.
Intervensi kali ini menjadi ujian kredibilitas bagi pemerintah Takaichi. Kegagalan mempertahankan level yen bisa memicu spekulasi lebih besar dan memperlemah kepercayaan pasar. Sebaliknya, keberhasilan menjaga stabilitas yen akan memberi ruang bagi BOJ untuk menormalisasi kebijakan moneter secara bertahap. Akankah intervensi ini berbeda dari sebelumnya, atau hanya menjadi solusi sementara?



