Ekonomi AS Melambat di Kuartal II, Perang Iran dan Inflasi Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- PDB AS tumbuh 1,5% (yoy) pada kuartal II, di bawah ekspektasi analis 2,0%, dipicu penurunan belanja pemerintah dan investasi.
- Konflik Iran yang berkepanjangan mendongkrak harga energi dan pupuk, menekan konsumsi rumah tangga meski belanja AI tetap kuat.
- Data inflasi PCE melandai ke 3,7% memberi ruang The Fed menahan suku bunga, namun tiga anggota FOMC mendesak kenaikan segera.

Perekonomian Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang lebih dalam dari perkiraan pada kuartal kedua tahun ini, saat dampak perang Iran terus menggerus daya beli dan belanja pemerintah. Biro Analisis Ekonomi (BEA) melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) hanya tumbuh 1,5 persen secara tahunan, jauh di bawah proyeksi pasar yang mencapai 2,0 persen.
Angka ini menandai penurunan signifikan dibandingkan pertumbuhan 2,1 persen pada kuartal pertama. BEA dalam pernyataannya menyebut perlambatan terjadi akibat penurunan belanja pemerintah, investasi, dan ekspor, yang sebagian diimbangi oleh akselerasi belanja konsumen. Namun, lonjakan impor—yang menjadi faktor pengurang PDB—turut menekan angka akhir.
Ekonomi AS sebenarnya sempat menunjukkan ketahanan dalam beberapa kuartal terakhir, didorong oleh investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI). Namun, tekanan harga energi dan pupuk akibat eskalasi konflik Iran telah menggerus pendapatan riil rumah tangga. Perang yang dimulai kembali oleh Presiden Donald Trump pada pertengahan tahun lalu membuat harga minyak dan gas melonjak, memicu inflasi yang terus berada di atas target Federal Reserve.
Di sisi inflasi, ada secercah kabar baik. Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE)—ukuran favorit The Fed—melambat menjadi 3,7 persen pada Juni, dari 4,1 persen bulan sebelumnya. Meski demikian, angka itu masih jauh di atas target jangka panjang bank sentral sebesar 2 persen. PCE inti yang tidak memasukkan harga pangan dan energi berada di 3,3 persen. Para analis memperingatkan bahwa inflasi diperkirakan akan kembali naik pada Juli setelah Trump kembali melancarkan serangan militer ke Iran, yang mendorong harga energi naik lagi.
Keputusan The Fed pada Rabu lalu untuk menahan suku bunga tidak bulat. Tiga anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menyatakan dissenting opinion dan mendesak kenaikan suku bunga segera. Chris Zaccarelli dari Northlight Asset Management menilai data inflasi yang lebih rendah mungkin memberi ruang bagi The Fed untuk tetap menahan suku bunga, namun angka PDB yang lemah lebih mengkhawatirkan. "Data PDB yang lebih rendah dari perkiraan pagi ini bisa menjadi alasan untuk khawatir bahwa ekonomi melambat terlalu cepat," ujarnya.
Namun, tidak semua ekonom pesimistis. Michael Pearce, ekonom utama Oxford Economics untuk AS, mencatat bahwa investasi non-AI mencatat kenaikan terbesar dalam tiga tahun. "Kami memperkirakan pemulihan akan meluas dalam beberapa kuartal mendatang, didorong oleh pemotongan pajak dan inventaris yang ramping," katanya. Ia menambahkan bahwa pertumbuhan PDB kuartal II yang rendah sebenarnya mengecilkan kekuatan ekonomi karena dipengaruhi oleh impor yang meningkat dan penurunan inventaris yang tidak akan bertahan lama.
Kathy Bostjancic, ekonom utama di Nationwide, sepakat bahwa angka PDB kuartal II yang lemah menutupi kekuatan di sektor domestik swasta inti yang tumbuh 3,9 persen. "Ini menegaskan ketahanan ekonomi di tengah guncangan harga energi akibat perang di Timur Tengah," jelasnya.
Perlambatan ekonomi AS menjadi isu sentral menjelang pemilu paruh waktu November mendatang, di mana Partai Demokrat berupaya merebut kendali Kongres dari Partai Republik pimpinan Trump. Bagi Indonesia, perlambatan ini berpotensi menekan permintaan ekspor, terutama komoditas non-migas, serta mempengaruhi arus modal asing. Investor perlu mencermati langkah The Fed ke depan: jika inflasi kembali meninggi dan suku bunga dinaikkan, tekanan pada nilai tukar rupiah dan pasar obligasi domestik bisa meningkat. Sebaliknya, jika The Fed mempertahankan sikap akomodatif, aliran modal ke pasar negara berkembang berpotensi berlanjut.
Pertanyaan besarnya kini: akankah The Fed mempertahankan sikap wait-and-see atau justru terpaksa menaikkan suku bunga di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi? Jawabannya akan sangat menentukan arah ekonomi global, termasuk Indonesia, dalam enam bulan ke depan.



