Rusia Hantam Ukraina dengan 70 Rudal dan 280 Drone, 9 Tewas Termasuk Anak-anak
Baca dalam 60 detik
- Serangan udara Rusia pada Kamis malam menewaskan sembilan warga sipil, termasuk tiga anak di Dnipropetrovsk, dengan lebih dari 70 rudal dan 280 drone diluncurkan.
- Ukraina hanya mampu mencegat satu dari sembilan rudal balistik, menyoroti kelangkaan sistem pertahanan Patriot yang menjadi andalan.
- Serangan ini menandai penggunaan rudal balistik Korea Utara oleh Rusia untuk pertama kalinya dalam hampir setahun, meningkatkan eskalasi konflik.

Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran ke Ukraina pada Kamis malam (30 Juli 2026), menewaskan sembilan orang dan melukai puluhan lainnya, sementara Presiden Volodymyr Zelenskyy kembali mengecam keterlambatan pasokan rudal pertahanan udara dari sekutu. Serangan yang melibatkan lebih dari 70 rudal dan sekitar 280 drone itu menjadikan Kyiv dan Lviv sebagai sasaran utama, memaksa Polandia mengerahkan jet tempur untuk mengamankan wilayah udaranya setelah sebuah rudal jelajah Rusia dilaporkan jatuh di ladang Polandia timur.
Menurut keterangan Angkatan Udara Ukraina, sistem pertahanan udara berhasil menembak jatuh 55 rudal dan 265 drone, namun hanya satu dari sembilan rudal balistik yang berhasil dihentikan. Sebanyak 11 rudal dan 17 drone lainnya mencapai target di 20 lokasi berbeda. Zelenskyy menegaskan bahwa sistem Patriot buatan Amerika Serikat merupakan satu-satunya alat yang mampu menghadapi rudal balistik Rusia, namun pasokannya sangat terbatas secara global. "Perlindungan terhadap ancaman rudal Rusia adalah tugas terpenting untuk menjaga nyawa rakyat kami. Bantuan yang tidak tepat waktu dan keterlambatan pasokan rudal anti-balistik mengakibatkan kehancuran dan korban jiwa seperti yang kita saksikan hari ini," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Wilayah Dnipropetrovsk menjadi lokasi paling memilukan, di mana enam orang tewas, termasuk tiga anak-anak, akibat serangan rudal yang menghancurkan sebuah rumah. Zelenskyy mengungkapkan bahwa lima anak masih hilang di bawah reruntuhan. Dua sumber menyebut rudal tersebut kemungkinan adalah rudal balistik Korea Utara, menandai penggunaan pertama senjata dari negara sekutu Rusia itu dalam hampir setahun. Sementara itu, satu orang tewas di Kyiv, satu di Lviv, dan satu lagi di Poltava. Di ibu kota, ribuan warga berlindung di stasiun metro selama lebih dari lima jam, dan kelangkaan tempat perlindungan yang memadai memicu kemarahan warga.
Di Lviv, sebuah rudal Rusia menghantam gedung apartemen namun tidak meledak, menyebabkan kerusakan pada atap dan lantai atas. Sekitar 30 orang, termasuk tiga anak, terluka akibat serangan yang juga merusak dua gedung hunian, sebuah sekolah, dan dua taman kanak-kanak. Seorang warga bernama Marko menyaksikan petugas penyelamat menarik seorang anak laki-laki dari bangunan yang rusak. "Saya bangga memiliki penyelamat yang tidak takut masuk ke situasi di mana lempengan beton bisa runtuh menimpa mereka," katanya kepada Reuters.
Di sisi lain, Ukraina juga melancarkan serangan balasan dengan drone ke wilayah Rusia. Sebuah gudang perusahaan ritel daring terbesar Rusia, Wildberries, terbakar di kota Penza setelah serangan drone Ukraina. Gubernur regional Oleg Melnichenko melaporkan satu orang terluka dan sekitar 200 orang dievakuasi. Sehari sebelumnya, fasilitas Wildberries lain di Sarapul, Udmurtia, juga terbakar akibat serangan serupa. Pejabat Ukraina menyatakan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi dan kilang minyak Rusia bertujuan mengurangi pendapatan anggaran Rusia dan kemampuan ekonominya untuk melanjutkan perang.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menembak jatuh total 258 drone, termasuk di wilayah Ukraina yang diduduki. Baik Rusia maupun Ukraina saling menuduh menargetkan warga sipil, sementara perang yang telah memasuki tahun kelima ini menunjukkan pergerakan garis depan yang stagnan, dengan dominasi drone udara membuat terobosan militer besar sulit dicapai. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah sekutu Barat mempercepat pengiriman sistem pertahanan udara sebelum serangan berikutnya merenggut lebih banyak korban jiwa?



