Chad le Clos Kukuhkan Diri sebagai Atlet Terhebat dalam Sejarah Commonwealth Games
Baca dalam 60 detik
- Perenang Afrika Selatan, Chad le Clos, memecahkan rekor perolehan medali terbanyak sepanjang sejarah Commonwealth Games dengan raihan 21 medali.
- Medali ke-21 diraih melalui nomor estafet 4x100 meter gaya ganti putra, menggeser posisi perenang Australia Emma McKeon.
- Prestasi ini menegaskan dominasi le Clos di panggung olahraga Persemakmuran, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu ikon renang dunia.

Perenang veteran asal Afrika Selatan, Chad le Clos, resmi mencatatkan namanya dalam buku sejarah Commonwealth Games setelah meraih medali ke-21 pada Rabu malam (30 Juli 2026). Capaian tersebut melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh perenang Australia, Emma McKeon, sekaligus menjadikan le Clos sebagai atlet paling sukses dalam perhelatan multicabang negara-negara Persemakmuran itu.
Medali bersejarah itu ia persembahkan melalui nomor estafet 4x100 meter gaya ganti putra, di mana ia berenang sebagai perenang gaya kupu-kupu. Tim Afrika Selatan berhasil merebut medali perunggu di nomor tersebut. Tambahan satu medali ini melengkapi koleksinya di Glasgow 2026 yang sebelumnya ia raih dari perak di nomor estafet campuran 4x100 meter gaya ganti dan perunggu di estafet 4x100 meter gaya bebas putra.
Le Clos, yang kini berusia 34 tahun, memulai perjalanannya di Commonwealth Games pada 2010 di Delhi saat ia masih berusia 18 tahun. Kala itu, ia langsung memborong lima medali. Dua tahun berselang, ia mengejutkan dunia dengan mengalahkan legenda renang Amerika Serikat, Michael Phelps, di nomor 200 meter gaya kupu-kupu Olimpiade London 2012. Kemenangan dengan selisih 0,05 detik itu menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah renang modern.
Konsistensinya terus berlanjut. Pada edisi Glasgow 2014, le Clos menambah tujuh medali. Empat tahun kemudian di Gold Coast 2018, ia kembali membawa pulang lima medali. Sementara di Birmingham 2022, ia menyumbang satu medali. Total koleksinya kini terdiri dari tujuh emas, lima perak, dan sembilan perunggu.
Usai pertandingan, le Clos mengaku emosional. "Dua medali pertama di Glasgow 2026 terasa lebih berat karena saya harus melewati masa sulit. Malam ini saya hanya harus tetap tenang dan menyelesaikan tugas," ujarnya. Ia juga memuji rekan-rekan setimnya yang berenang dengan sepenuh hati. "Mereka terus berkata 'kami melakukan ini untuk Chad' sebelum turun ke kolam. Itu sangat berarti bagi saya."
Di luar Commonwealth Games, le Clos juga merupakan peraih medali Olimpiade. Setelah emas di London 2012, ia menambah medali di Rio 2016, serta tampil di Tokyo 2020 dan Paris 2024. Ia telah menyatakan keinginannya untuk lolos ke Olimpiade kelima di Los Angeles pada 2028.
Pencapaian le Clos menjadi pengingat akan pentingnya dedikasi dan konsistensi dalam olahraga. Bagi atlet Indonesia, prestasi ini bisa menjadi inspirasi bahwa kerja keras dan ketekunan dapat mengantarkan seseorang ke puncak sejarah. Meskipun Indonesia tidak tergabung dalam Commonwealth Games, semangat juang le Clos relevan untuk diteladani oleh para atlet Tanah Air yang berkiprah di ajang SEA Games, Asian Games, maupun Olimpiade.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah le Clos masih mampu menambah koleksi medalinya di edisi mendatang. Dengan usia yang tidak lagi muda, tantangan fisik dan regenerasi atlet muda akan menjadi ujian tersendiri. Namun, jika melihat rekam jejaknya, mustahil untuk meremehkan kemampuan perenang asal Durban ini.



