Stassi Schroeder Menyebut Vanderpump Rules Lindungi Aktor Pria, Trauma Masa Lalu
Baca dalam 60 detik
- Mantan bintang Vanderpump Rules, Stassi Schroeder, menuduh produser sengaja mengedit agar perempuan terlihat bermasalah.
- Ia mengaku mengalami trauma psikologis akibat pengalaman di reality show tersebut, meski tetap bersyukur atas kesempatan yang didapat.
- Lisa Vanderpump, sang kreator, justru memuji kedalaman karakter para pemain baru di musim reboot 2025.

Stassi Schroeder, yang namanya melambung lewat Vanderpump Rules, kini angkat bicara tentang sisi gelap di balik layar reality show yang membesarkan namanya. Dalam wawancara terbaru, perempuan 38 tahun itu menuding para produser sengaja memberikan perlakuan istimewa kepada para pemain pria, sementara para perempuan dibuat tampak tidak stabil secara emosional.
“Mereka selalu membuat para gadis terlihat gila, seolah kami punya masalah. Sementara para lelaki selalu dilindungi,” ujar Schroeder dalam episode perdana acara House of Stassi yang tayang di Freeform dan Hulu. Tuduhan ini menambah daftar panjang kritik terhadap industri reality TV yang kerap dituduh mengorbankan kesehatan mental partisipannya demi rating.
Schroeder, yang menjadi bagian dari Vanderpump Rules sejak 2013 hingga 2020, mengaku memiliki perasaan campur aduk terhadap acara yang membuatnya terkenal. “Saya sangat berterima kasih, karena memberi saya banyak kesempatan. Tapi di sisi lain, acara itu menormalisasi begitu banyak kegelapan,” katanya. Ia bahkan menyebut pengalamannya di acara tersebut meninggalkan trauma yang membuatnya harus berkonsultasi dengan terapis.
Kritik Schroeder menyoroti praktik editing yang dinilai bias gender. Menurutnya, produser Bravo kerap memotong adegan sedemikian rupa sehingga perempuan terlihat sebagai pihak yang bermasalah, sementara kesalahan pria diminimalkan. “Mereka menutupi kesalahan para lelaki,” tegasnya. Pernyataan ini memicu diskusi tentang bagaimana reality show sering mengorbankan narasi perempuan demi melindungi citra pemain pria yang lebih populer.
Di sisi lain, Lisa Vanderpump, kreator acara tersebut, memberikan pandangan berbeda. Dalam panel Watch Party by Bravo, ia menyebut para pemain baru di musim reboot 2025 memiliki “kedalaman yang lebih besar”. “Mereka tidak hanya nakal dan suka bersenang-senang, tapi juga punya sisi sensitif dan kisah hidup yang kompleks,” ujar Vanderpump. Ia mencontohkan bagaimana para pemain baru terbuka tentang hubungan dengan orang tua dan perjuangan pribadi mereka.
Bagi penonton Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap reality show, ada risiko kesehatan mental yang serius. Industri hiburan Tanah Air pun tak luput dari praktik serupa, di mana kontestan kerap diedit secara dramatis untuk menciptakan konflik. Pertanyaan besarnya: akankah para kreator acara reality di Indonesia mulai lebih memperhatikan kesejahteraan partisipan mereka, atau rating tetap menjadi prioritas utama?



