Gempa Jepang: Rumah Sakit Hewan Ini Buka Pintu bagi Pengungsi dan Hewan Peliharaan
Baca dalam 60 detik
- Rumah sakit hewan di Kumamoto, Jepang, menyediakan tempat penampungan khusus bagi pengungsi gempa yang membawa hewan peliharaan, menyusul gempa berkekuatan besar yang menewaskan puluhan orang.
- Kebijakan ini lahir dari pengalaman pahit gempa Kumamoto 2016, di mana banyak pengungsi terpaksa memilih antara keselamatan diri atau tetap bersama hewan kesayangan mereka.
- Langkah ini menyoroti pentingnya inklusivitas dalam penanggulangan bencana, dan dapat menjadi contoh bagi negara rawan gempa seperti Indonesia untuk mengakomodasi kebutuhan penyintas yang memiliki hewan peliharaan.

Gempa berkekuatan besar yang mengguncang Kumamoto, Jepang, pekan ini tidak hanya merenggut puluhan nyawa dan melumpuhkan infrastruktur, tetapi juga memunculkan dilema pelik bagi para penyintas: menyelamatkan diri atau tetap bersama hewan peliharaan kesayangan. Di tengah keterbatasan tempat penampungan yang umumnya menolak kehadiran hewan, sebuah rumah sakit hewan di pusat kota Kumamoto tampil sebagai oase dengan membuka pintunya bagi para pengungsi dan hewan peliharaan mereka.
Tomoko Takaoka, seorang pekerja pabrik berusia 31 tahun, menjadi salah satu yang merasakan langsung kepahitan situasi ini. Setelah gempa meluluhlantakkan rumahnya dan memutus akses air serta listrik, ia bergegas menuju pusat evakuasi terdekat. Namun, harapannya sirna ketika ia mengetahui bahwa dua anjing kesayangannya, Ku yang merupakan chihuahua dan Sheri yang merupakan campuran chihuahua-poodle, tidak diizinkan masuk. Terpaksa, ia menghabiskan malam pertama yang gerah dengan berdesakan di dalam mobil bersama kedua anjingnya, sebuah pilihan yang mencerminkan ikatan batin yang kuat antara manusia dan hewan peliharaannya.
Kabar tentang rumah sakit hewan Ryunosuke yang menyediakan tempat penampungan ramah hewan menyebar melalui media sosial, membawa secercah harapan bagi Takaoka dan puluhan pengungsi lainnya. Rumah sakit tersebut, yang juga memiliki sekolah pelatihan perawat hewan, telah mengubah ruang kelasnya menjadi tempat tinggal sementara yang terpisah untuk pemilik kucing dan anjing. Direktur rumah sakit, Ryunosuke Tokuda, menjelaskan bahwa kebijakan ini lahir dari keprihatinan mendalam akan stigma negatif terhadap hewan peliharaan di tempat penampungan umum. "Kekhawatiran akan kutu, bau, alergi, dan kebisingan sering kali membuat hewan dipandang negatif, sehingga banyak tempat evakuasi melarang mereka tinggal bersama pemiliknya," ujarnya, seperti dikutip Reuters.
Keputusan ini bukan tanpa dasar. Rumah sakit tersebut pernah merasakan pahitnya kegagalan dalam menangani pengungsi dengan hewan peliharaan saat gempa dahsyat Kumamoto 2016. Pelajaran berharga itu kemudian diwujudkan dalam komitmen untuk selalu membuka pintu bagi penyintas bencana yang membawa hewan peliharaan, setiap kali bencana melanda. Kini, setelah gempa Selasa lalu yang menewaskan sedikitnya 36 orang dan membuat ribuan warga kehilangan aliran listrik dan air bersih, rumah sakit ini kembali menjadi tempat berlindung bagi 26 pengungsi beserta hewan peliharaan mereka.
Bagi Takaoka, berada di tempat penampungan ini adalah anugerah. Meski sesekali kedua anjingnya bersemangat saat bertemu 'teman' baru di ruang khusus anjing, ia berusaha menenangkan mereka. Ia berharap dapat segera kembali ke rumah, namun yang terpenting baginya adalah kebersamaan dengan keluarganya yang berbulu itu. "Mereka seperti keluarga bagiku. Aku ingin tetap bersama mereka selama mungkin," tuturnya.
Kisah dari Kumamoto ini membuka mata akan pentingnya perencanaan penanggulangan bencana yang inklusif, tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi hewan peliharaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga. Di Indonesia, yang juga rawan gempa dan bencana alam, kebijakan serupa masih jarang ditemui. Padahal, banyak penyintas yang enggan meninggalkan hewan peliharaannya, yang berujung pada risiko keselamatan yang lebih besar. Langkah rumah sakit Ryunosuke dapat menjadi model bagi pengembangan tempat penampungan ramah hewan di Indonesia, yang tidak hanya menyelamatkan nyawa manusia tetapi juga menjaga kesejahteraan psikologis mereka melalui ikatan dengan hewan kesayangan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah pemerintah dan lembaga kemanusiaan di negara-negara rawan bencana akan mengadopsi pendekatan serupa? Atau, mungkinkah kita akan melihat lebih banyak inisiatif akar rumput seperti yang dilakukan Rumah Sakit Ryunosuke, yang lahir dari kepedulian dan pengalaman langsung? Yang jelas, bencana selalu mengajarkan kita untuk lebih siap dan lebih manusiawi, termasuk dalam memperlakukan mereka yang tidak bisa bersuara.



