Kriket dan Panahan Berpeluang Kembali ke Panggung Commonwealth Games 2030
Baca dalam 60 detik
- India, sebagai tuan rumah Commonwealth Games 2030, mendorong masuknya kembali cabang olahraga seperti kriket, panahan, dan menembak yang sempat absen di edisi Glasgow.
- Program olahraga edisi Glasgow hanya memuat 10 cabang karena persiapan yang terburu-buru, namun untuk 2030 direncanakan 17 cabang dengan tambahan dua olahraga tim.
- Langkah ini dipandang sebagai batu loncatan India menuju ambisi menjadi tuan rumah Olimpiade 2036, sekaligus menguji model penyelenggaraan yang lebih efisien.

India bersiap memanfaatkan statusnya sebagai tuan rumah Commonwealth Games 2030 untuk mengembalikan sejumlah cabang olahraga unggulan ke dalam program pertandingan, termasuk kriket, panahan, dan menembak. Keputusan ini muncul setelah edisi Glasgow 2026 hanya menampilkan sepuluh cabang akibat mundurnya Victoria, Australia, sebagai tuan rumah.
Pembahasan mengenai komposisi cabang olahraga masih berlangsung antara Commonwealth Sport, federasi internasional, dan panitia penyelenggara India. Raghu Iyer, perwakilan Komite Olimpiade India, mengakui bahwa banyak cabang olahraga merasa dirugikan dengan penyusutan program di Glasgow. "Ada cabang-cabang di mana India berprestasi sangat baik, seperti menembak, panahan, dan lainnya," ujarnya kepada BBC Sport.
Kriket, yang terakhir kali dipertandingkan di Birmingham 2022 sebagai turnamen T20 putri, menjadi salah satu kandidat kuat. Iyer mengisyaratkan bahwa India ingin mengakomodasi olahraga yang memiliki basis prestasi dan popularitas tinggi di dalam negeri. Selain itu, setidaknya dua cabang olahraga tim akan ditambahkan untuk edisi 2030, dengan hoki dan rugbi tujuh sebagai opsi lain.
Selain kriket, panahan, dan menembak, cabang lain yang masuk daftar pertimbangan adalah bulu tangkis, bola basket 3ร3 dan bola basket kursi roda 3ร3, bola voli pantai, bersepeda, loncat indah, judo, senam ritmik, squash, triatlon, para triatlon, dan gulat. India juga memiliki keleluasaan untuk mengusulkan dua cabang baru yang memiliki signifikansi lokal.
Kepala Eksekutif Commonwealth Sport, Katie Sadlier, menegaskan bahwa angka 17 cabang adalah jumlah yang ideal. "Kami menyadari perlunya mengatur ulang dan membuat pertandingan ini terjangkau di seluruh negara Persemakmuran. Apa yang kami lakukan di Glasgow sangat baik, tetapi kami akan mengembalikan beberapa cabang. Tidak akan melebihi angka itu," jelasnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat posisi India sebagai kekuatan olahraga Asia yang kerap menjadi tolok ukur. Jika India sukses menggelar Commonwealth Games dengan model yang lebih ramping namun tetap kompetitif, hal itu bisa menjadi contoh bagi negara berkembang lain, termasuk Indonesia, dalam mengelola hajatan multi-cabang. Apalagi Indonesia sendiri tengah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah Olimpiade 2036 bersama India dan beberapa negara lain.
Sadlier juga membantah kekhawatiran tentang minimnya liputan televisi di Inggris untuk Glasgow 2026. Menurutnya, jumlah kesepakatan siaran global justru lebih banyak dari edisi sebelumnya, dan jangkauan media sosial melampaui target. "Ini adalah pertandingan yang dilipat secara luar biasa," katanya.
Dengan ambisi India yang semakin nyata, pertanyaan besarnya adalah apakah model penyelenggaraan yang lebih efisien ini mampu mempertahankan kualitas kompetisi sekaligus membuka peluang bagi lebih banyak negara untuk menjadi tuan rumah di masa depan.



