Jordyn Woods Bicara Fluktuasi Berat Badan di Era Ozempic: 'Saya Manusia'
Baca dalam 60 detik
- Model Jordyn Woods menolak tren Ozempic yang dianggapnya sebagai kemunduran sosial, menegaskan berat badannya akan terus berubah secara alami.
- Ia mengkritik budaya 'semua orang kurus' yang didorong obat penurun berat badan, dan memilih fokus pada penerimaan diri serta dampak positif bagi komunitas.
- Pernyataan ini memicu diskusi global tentang tekanan citra tubuh, termasuk di Indonesia di mana standar kecantikan seringkali tidak realistis.

Model dan tokoh realitas Jordyn Woods, 28 tahun, dengan tegas menyatakan bahwa berat badannya akan selalu berfluktuasi dan ia tidak tertarik mengikuti tren penggunaan Ozempic—obat diabetes yang kini populer sebagai alat penurun berat badan. Dalam wawancara dengan Bustle, Woods menyebut era Ozempic sebagai langkah mundur bagi masyarakat, di mana tekanan untuk menjadi kurus kembali menguat.
“Kami sudah maju beberapa langkah, dan sekarang di era Ozempic saya rasa kami mundur beberapa langkah. Semua orang jadi kurus. ‘Virus’ itu belum menular ke saya,” ujar Woods. Ia menegaskan bahwa menjadi advokat penerimaan tubuh di tengah tren ini tidak sulit baginya karena ia menerima bahwa berat badannya akan naik-turun. “Saya akan lebih kurus kadang-kadang. Saya manusia,” tambahnya.
Pernyataan Woods muncul di tengah meningkatnya penggunaan obat-obatan seperti Ozempic dan Wegovy untuk menurunkan berat badan secara instan, yang memicu perdebatan tentang dampaknya terhadap citra tubuh dan kesehatan mental. Woods, yang dikenal sebagai model plus-size dan sahabat Kylie Jenner, telah lama menjadi figur yang mendorong penerimaan diri. Namun, ia mengakui bahwa perjuangannya tidak berhenti di situ.
Woods mengungkapkan bahwa tujuan hidupnya lebih besar dari sekadar penampilan. “Saya selalu merasa tujuan saya di sini adalah membantu orang, entah itu membuat mereka lebih percaya diri atau menciptakan sesuatu yang berdampak,” katanya. Ia mengkritik kurangnya panutan yang realistis saat ia tumbuh dewasa, dan berharap dalam lima tahun ke depan ia bisa bangga dengan kontribusinya pada komunitas.
Menurut psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Djuwita, tekanan untuk memiliki tubuh kurus di Indonesia semakin kuat seiring maraknya media sosial dan tren kecantikan global. “Fenomena seperti Ozempic bisa memperparah gangguan makan dan body dysmorphia, terutama pada remaja,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya edukasi tentang penerimaan tubuh dan pola hidup sehat yang berkelanjutan.
Woods sendiri memiliki cara tersendiri menghadapi tekanan hidup. Ia percaya bahwa pola pikir adalah segalanya. “Jaga orang-orang kuat di sekitar Anda. Menulis jurnal sangat membantu saya. Berolahraga dan menciptakan kebiasaan sehat juga penting,” paparnya. Baginya, melakukan sesuatu untuk menjadi lebih baik setiap hari adalah kunci, meskipun hidup terasa berat.
Pernyataan Woods mengingatkan publik bahwa fluktuasi berat badan adalah hal yang normal, dan bahwa kesehatan mental tidak boleh dikorbankan demi standar kecantikan yang sempit. Di tengah gempuran iklan obat penurun berat badan dan filter media sosial, suara seperti Woods menjadi penting untuk menjaga kewarasan kolektif.
Ke depannya, Woods berharap bisa terus terhubung dengan orang lain secara autentik dan membuat perbedaan nyata di komunitas. “Ini bukan tentang memiliki barang terbaik. Lebih tentang bagaimana saya membuat orang merasa dan apa yang saya lakukan selama saya di sini,” tutupnya. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah tren Ozempic meredam gerakan body positivity yang sudah susah payah dibangun?



