Joe Root Kembali Pimpin Timnas Inggris, Stephen Fleming Jadi Pelatih Baru
Baca dalam 60 detik
- Joe Root ditunjuk kembali sebagai kapten tim tes Inggris setelah Ben Stokes pensiun pada Juni lalu.
- Mantan kapten Selandia Baru Stephen Fleming akan menangani tim tes Inggris mulai setelah seri melawan Pakistan.
- Kombinasi Root-Fleming diharapkan membawa stabilitas dan pembaruan bagi skuad yang tengah dalam masa transisi.

Joe Root kembali memegang ban kapten tim tes Inggris setelah jeda tiga tahun, menggantikan Ben Stokes yang memutuskan pensiun dari kriket internasional pada Juni lalu. Bersamanya, mantan pemukul Selandia Baru Stephen Fleming resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala untuk membangun kembali skuad yang tengah terpuruk akibat hasil buruk dan serangkaian insiden di luar lapangan.
Root, yang kini berusia 35 tahun, merupakan pencetak skor terbanyak sepanjang masa Inggris dalam format tes. Ia memimpin tim dalam rekor 64 pertandingan antara 2017 dan 2022, dengan 27 kemenangan. Pengalaman itu menjadi modal berharga ketika ia kembali dipercaya memimpin tim pada seri tiga pertandingan kandang melawan Pakistan yang dimulai 19 Agustus mendatang.
"Menjadi kapten Inggris lagi adalah kehormatan besar. Tugas ini memang berat tetapi sangat memuaskan. Setelah merasakan sedikit lagi bekerja sama dengan Brendon McCullum bulan lalu, saya antusias memimpin generasi pemain berikutnya," ujar Root dalam pernyataan resmi. Ia juga menyambut baik kedatangan Fleming yang dinilainya sebagai pemimpin luar biasa dengan pengetahuan mendalam tentang permainan.
Fleming, 53 tahun, mengambil alih tim yang sedang dalam masa pembangunan setelah serangkaian hasil mengecewakan dan insiden di luar lapangan yang berujung pada pemecatan McCullum. McCullum sendiri tetap menjadi pelatih tim putih Inggris. Fleming akan mulai menjabat setelah seri melawan Pakistan, dengan asisten pelatih Marcus Trescothick memimpin tim sementara hingga saat itu.
"Saya sangat bersemangat bergabung dengan Inggris sebagai pelatih tes. Ini adalah salah satu posisi kepelatihan paling prestisius di dunia kriket. Bekerja dengan Joe Root, seorang talenta lintas generasi yang telah mencapai begitu banyak hal, adalah kesempatan luar biasa. Saya yakin masih banyak potensi yang bisa digali darinya," kata Fleming.
Keputusan ini menarik perhatian pengamat kriket global, termasuk di Indonesia. Meski kriket belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, perkembangan tim-tim besar seperti Inggris kerap menjadi barometer bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang tengah giat membangun infrastruktur kriket. Kehadiran figur seperti Root dan Fleming bisa menjadi inspirasi bagi pemain muda di Asia Tenggara.
Langkah ini juga menandai era baru bagi kriket Inggris yang berusaha bangkit setelah kegagalan di seri Ashes dan turnamen besar lainnya. Pertanyaan besarnya, mampukah duet Root-Fleming mengembalikan kejayaan tim yang sempat mendominasi di era sebelumnya?



