Nilai Bisnis IPL Tembus Rp 320 Triliun, Daya Pikat Investor Global Makin Kuat
Baca dalam 60 detik
- Nilai bisnis Indian Premier League (IPL) mencapai 20,6 miliar dolar AS, tumbuh 11 persen dalam setahun.
- Dua akuisisi franchise mencetak rekor: Royal Challengers Bengaluru dijual 1,78 miliar dolar AS dan Rajasthan Royals 1,65 miliar dolar AS.
- Brand value IPL naik 10,3 persen menjadi 4,3 miliar dolar AS, dengan Royal Challengers Bengaluru sebagai franchise termahal.

Nilai bisnis Indian Premier League (IPL) melesat 11 persen menjadi 20,6 miliar dolar AS pada tahun ini, menurut laporan Houlihan Lokey, bank investasi asal Amerika Serikat. Angka ini menandai pertumbuhan dua digit kedua berturut-turut bagi liga kriket paling kaya di dunia tersebut, sekaligus mempertegas statusnya sebagai mesin uang olahraga global.
Sejak digelar pertama kali pada 2008, IPL berhasil membangun model komersial yang memadukan pendapatan hak siar, sponsor, penjualan merchandise, dan investasi waralaba. Kini, liga berisi sepuluh tim itu tak hanya menjadi ajang unjuk gigi para pemain kriket top dunia, tetapi juga lahan subur bagi investor kelas kakap.
Dua transaksi kepemilikan yang terjadi pada awal 2024 menjadi bukti nyata daya tarik IPL. Royal Challengers Bengaluru diakuisisi oleh konsorsium yang mencakup Blackstone, Bolt Ventures, Aditya Birla Group, dan Times of India Group dengan nilai 1,78 miliar dolar AS—rekor tertinggi dalam sejarah liga. Tak lama berselang, keluarga Mittal bersama Adar Poonawalla mengakuisisi Rajasthan Royals seharga 1,65 miliar dolar AS. Kedua transaksi ini menunjukkan bahwa waralaba IPL dianggap sebagai aset premium dengan prospek jangka panjang.
Menurut Harsh Talikoti, direktur di Houlihan Lokey, valuasi waralaba IPL kini berada di titik tertinggi, partisipasi modal swasta semakin deras, dan ekosistem komersial liga terus terdiversifikasi. Ia menyebut IPL sebagai konvergensi unik antara olahraga, media, dan peluang konsumen, ditopang oleh visibilitas pendapatan yang kuat, struktur biaya yang disiplin, serta perluasan basis penonton global.
Kenaikan nilai bisnis IPL juga membawa implikasi bagi industri olahraga di Indonesia. Meskipun kriket belum sepopuler sepak bola atau bulu tangkis di Tanah Air, keberhasilan IPL membuktikan bahwa liga olahraga profesional mampu menjadi magnet investasi besar jika dikelola dengan strategi komersial yang matang. Pengalaman IPL dapat menjadi referensi bagi pengelola liga domestik seperti BRI Liga 1 atau Proliga dalam mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan, termasuk dalam hal penjualan hak siar dan kemitraan korporat.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah IPL masih memiliki ruang untuk tumbuh lebih tinggi lagi, atau akan mencapai titik jenuh. Dengan basis penggemar yang terus meluas di luar India—termasuk melalui platform digital—dan minat investor yang tak kunjung surut, IPL tampaknya masih jauh dari puncaknya.



