Ancelotti Buka Suara soal Tawaran Timnas Italia: Bukan Soal Kontrak
Baca dalam 60 detik
- Carlo Ancelotti menegaskan penolakannya terhadap tawaran menukangi Italia murni karena komitmen terhadap Brasil, bukan masalah finansial.
- Paolo Maldini, mantan rekan setim Ancelotti di Milan, menghubunginya untuk mengisi kursi pelatih Italia, namun akhirnya beralih ke Andrea Pirlo.
- Keputusan Ancelotti bertahan di Brasil hingga 2030 memberikan kepastian bagi proyek jangka panjang Selecao menjelang Piala Dunia.

Carlo Ancelotti akhirnya angkat bicara mengenai tawaran menukangi Timnas Italia yang sempat membuat gempar jagat sepak bola. Pelatih asal Italia itu menegaskan bahwa penolakannya tidak ada kaitannya dengan persoalan kontrak atau gaji, melainkan semata-mata karena ia merasa memiliki ikatan moral dengan Federasi Sepak Bola Brasil (CBF) dan negara yang telah menyambutnya dengan hangat.
Dalam wawancara eksklusif dengan ESPN, Ancelotti mengungkapkan bahwa ia dihubungi langsung oleh Paolo Maldini, mantan rekan setimnya di AC Milan yang saat itu menjabat sebagai direktur teknis Italia. Maldini, yang pernah meraih dua gelar Liga Champions bersama Ancelotti, menawarkan posisi pelatih kepala Gli Azzurri. Namun, tawaran itu ditolak dengan tegas. โIni bukan soal kontrak, bukan itu alasannya,โ ujar Ancelotti. โSaya memiliki komitmen terhadap CBF dan negara ini, karena negara ini telah menyambut saya dengan sangat hangat selama tahun pertama saya.โ
Ancelotti baru setahun menjabat sebagai pelatih Brasil dan telah menandatangani perpanjangan kontrak hingga 2030 sebelum Piala Dunia dimulai. Keputusan ini menunjukkan keseriusan pelatih berusia 65 tahun itu dalam membangun proyek jangka panjang Selecao. Bagi Brasil, mempertahankan Ancelotti adalah langkah strategis mengingat pengalamannya menangani klub-klub besar Eropa seperti Real Madrid, Bayern Munich, dan Chelsea.
Di sisi lain, kegagalan FIGC mengamankan Ancelotti memicu kekacauan internal. Setelah Maldini menghubungi Ancelotti dan Pep Guardiola, ia akhirnya merekomendasikan Andrea Pirlo. Namun, Presiden FIGC Giovanni Malagรฒ menolak mengonfirmasi penunjukan Pirlo karena keterkaitannya dengan perusahaan taruhan Rusia. Akibatnya, Maldiri mengundurkan diri bersama penasihatnya Leonardo. Sebagai gantinya, Malagรฒ menunjuk Roberto Mancini sebagai pelatih baru Italia dan Claudio Ranieri sebagai direktur teknis.
Kisruh ini menjadi pelajaran berharga bagi federasi sepak bola di berbagai negara, termasuk Indonesia. PSSI, misalnya, kerap menghadapi dinamika serupa dalam memilih pelatih timnas. Keputusan Ancelotti yang mengutamakan komitmen jangka panjang di atas tawaran menggiurkan bisa menjadi contoh bahwa stabilitas proyek lebih penting daripada sekadar nama besar. Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini juga mengingatkan bahwa hubungan personal dan rasa hormat sering kali menjadi faktor penentu dalam dunia kepelatihan.
Ke depan, Brasil di bawah Ancelotti diprediksi akan menjadi salah satu kekuatan dominan di Piala Dunia mendatang. Sementara Italia harus memulai lagi dari awal dengan Mancini. Pertanyaan besarnya: mampukah Mancini membawa Gli Azzurri kembali ke puncak seperti yang ia lakukan saat menjuarai Euro 2020? Atau justru Ancelotti yang akan menuai sukses bersama Selecao?



