Singapura Genjot Talenta MICE demi Target Pariwisata Rp 500 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Singapura memprioritaskan pengembangan sumber daya manusia di sektor MICE untuk mempertahankan daya saing sebagai destinasi bisnis global.
- Target pendapatan pariwisata 2040 mencapai S$50 miliar, dengan kontribusi signifikan dari sektor konvensi dan pameran yang ditopang digitalisasi dan keberlanjutan.
- Mantan Ketua Parlemen Tan Chuan-Jin menekankan pentingnya 'heartware'โnilai kebersamaan dan kepercayaanโdalam membangun tim industri acara bisnis.

Singapura tidak bisa lagi hanya mengandalkan infrastruktur mewah untuk menarik penyelenggaraan konvensi dan pameran internasional. Negeri tersebut kini berfokus pada penguatan rantai pasok talenta industri MICE (meetings, incentives, conferences, exhibitions) agar tetap menjadi destinasi unggulan di tengah persaingan global yang kian ketat. Demikian disampaikan Menteri Negara Perdagangan dan Industri Gan Siow Huang dalam pidatonya di Singapore MICE Forum, Kamis (30/7).
Menurut Gan, transformasi industri acara bisnis menuntut investasi tidak hanya pada teknologi dan inovasi, tetapi juga pada manusia. Singapore Tourism Board (STB) bersama Infocomm Media Development Authority telah menyusun rencana digital yang mencakup panduan penggunaan alat perencanaan berbasis kecerdasan buatan. Namun, Gan mengingatkan bahwa teknologi hanya efektif jika dioperasikan oleh sumber daya manusia yang kompeten. Ia mencontohkan program sertifikasi Singapore Association of Convention and Exhibition Organisers and Suppliers (SACEOS) yang tahun lalu berhasil melatih sekitar 600 profesional MICE.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar Tourism 2040 yang diluncurkan pada 2025. Rencana tersebut menargetkan pendapatan pariwisata mencapai S$47โ50 miliar (sekitar Rp 500โ532 triliun) pada 2040, naik dari S$29,8 miliar pada 2024. Sektor MICE diharapkan menjadi motor utama pertumbuhan, dengan STB sebelumnya menyatakan target melipatgandakan pendapatan dari segmen ini tiga kali lipat pada 2040. Untuk mewujudkannya, STB akan membuka lelang proyek pusat MICE di pusat kota tahun depan. Kawasan terpadu yang dilengkapi akomodasi, ritel, dan tempat hiburan itu akan berlokasi dekat terminal kapal pesiar baru, memperluas kapasitas Singapura menyelenggarakan event berskala besar.
Gan juga mengumumkan peluncuran fase berikutnya dari Peta Jalan Keberlanjutan MICE, yang pertama kali dirilis 2022. Kali ini, cakupannya diperluas dari lingkungan menjadi dimensi sosial dan ekonomi. Langkah ini sejalan dengan tren global di mana penyelenggara event semakin dituntut menerapkan prinsip ramah lingkungan dan inklusif. Bagi Indonesia, yang juga gencar mengembangkan sektor MICE di Bali, Jakarta, dan Mandalika, strategi Singapura bisa menjadi tolok ukur dalam memadukan digitalisasi, keberlanjutan, dan pengembangan SDM.
Dalam forum yang sama, mantan Ketua Parlemen Tan Chuan-Jin tampil sebagai pembicara kunci. Ini merupakan salah satu penampilan publik pertamanya sejak mengundurkan diri pada 2023. Kini menjabat pendiri perusahaan solusi pembayaran APG Pay dan penasihat sejumlah organisasi, Tan menyampaikan pandangan bahwa kesuksesan industri acara tidak hanya ditentukan oleh "perangkat keras" (infrastruktur) dan "perangkat lunak" (prosedur), melainkan juga "heartware"โyaitu manusia dan nilai-nilai kebersamaan. Ia mengibaratkan pengalamannya di militer: pesawat dan taktik tidak berarti tanpa kesediaan prajurit untuk berkorban.
Tan mengingatkan bahwa membangun fondasi tim yang solid harus dilakukan sejak masa tenang, bukan saat krisis. "Jika dinamika tidak positif, kepercayaan akan hilang," ujarnya. Ia juga menekankan bahwa nilai-nilai dasar seperti rasa dipercaya dan dihargai bersifat universal lintas generasi. Moderator sesi, Wakil Presiden Komunitas SACEOS Jasmine Ho, menambahkan bahwa industri MICE kerap menghadapi situasi tak terduga di lapangan, sehingga kepercayaan dan fondasi tim yang kuat menjadi krusial.
Pertanyaan besar yang kini mengemuka: mampukah Singapura mempertahankan posisinya sebagai pusat MICE Asia saat negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia terus meningkatkan daya saing dengan biaya lebih rendah? Jawabannya mungkin terletak pada sejauh mana investasi di bidang talenta dan keberlanjutan mampu memberikan nilai tambah yang tidak bisa ditiru oleh pesaing.



