Arthur Masuaku Tinggalkan Sunderland: Gagal Bersinar, Dilepas Gratis ke Konyaspor
Baca dalam 60 detik
- Mantan kapten Selandia Baru Stephen Fleming ditunjuk sebagai pelatih tim tes Inggris, menggantikan Brendon McCullum yang dipecat.
- Joe Root kembali memegang ban kapten setelah sebelumnya sukses memimpin Inggris meraih 27 kemenangan tes dalam 65 laga.
- Fleming akan memulai tugasnya pada tur Afrika Selatan Desember mendatang, sementara laga melawan Pakistan ditangani pelatih sementara.

Arthur Masuaku dipastikan meninggalkan Sunderland setelah tak mampu memenuhi ekspektasi. Klub asal Inggris itu setuju melepas bek kiri asal Kongo tersebut secara gratis ke Klub Turki, Konyaspor, meski kontraknya masih tersisa satu tahun. Keputusan ini diambil setelah sang pemain gagal mendapatkan tempat reguler sepanjang musim lalu.
Masuaku tiba di Sunderland pada awal musim 2024/2025 dengan status bebas transfer dari Besiktas. Saat itu, kedatangannya dianggap langkah cerdas bagi tim yang baru promosi ke Premier League. Dengan pengalaman tujuh tahun bersama West Ham United dan karier yang pulih di Turki, ia diharapkan menjadi pemimpin bagi skuad muda asuhan Regis Le Bris. Namun, realitas berkata lain: Masuaku hanya mencatat tiga penampilan di Premier League dengan total 127 menit sepanjang paruh pertama musim.
Manchester Biru—julukan Sunderland—akhirnya meminjamkannya ke Lens pada Januari 2025. Namun, nasib serupa kembali menghampiri. Bek kiri 32 tahun itu hanya tampil empat kali di Ligue 1 (229 menit) karena cedera dan ketatnya persaingan. Kegagalan ini mendorong Sunderland untuk mengambil langkah tegas di bursa transfer musim panas.
Le Bris, yang tengah membangun ulang tim dengan mengandalkan pemain muda, menilai Masuaku tak lagi masuk dalam rencana jangka panjang. Dengan kontrak memasuki tahun terakhir, opsi terbaik adalah melepasnya. Menurut laporan dari Sport Witness yang mengutip media Turki Konya'nın Sesi, Sunderland telah mencapai kesepakatan prinsip untuk membebaskan Masuaku secara gratis. Konyaspor—klub yang berbasis di kota Konya—dilaporkan telah menyodori kontrak dua tahun dan sang pemain menyetujuinya. Tinggal menunggu detail akhir sebelum ia terbang ke Turki untuk menjalani tes medis.
Keputusan Sunderland melepas Masuaku tanpa biaya memang terlihat merugikan secara finansial. Namun, langkah ini memberi keuntungan lain: klub menghemat gaji besar yang seharusnya dibayarkan untuk satu musim ke depan. Dengan begitu, Le Bris memiliki fleksibilitas lebih dalam membangun skuad yang lebih kompetitif. Bagi Masuaku, kepulangan ke Turki menjadi kesempatan emas. Ia sebelumnya menikmati tiga musim gemilang bersama Besiktas, mencatat lebih dari 100 penampilan serta meraih Piala Turki dan Piala Super Turki.
Karier Masuaku di Inggris dan Prancis memang tidak sesuai harapan, tetapi kemampuan teknisnya diyakini masih mumpuni untuk level Süper Lig. Konyaspor, yang musim lalu finis di papan tengah, membutuhkan pemain berpengalaman di sisi kiri pertahanan. Dengan status bebas transfer, risiko klub sangat kecil. Jika Masuaku mampu kembali ke performa terbaiknya, ini bisa menjadi transfer yang saling menguntungkan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus Masuaku menjadi pengingat bahwa pemain yang gagal di liga top Eropa masih bisa bersinar di kompetisi lain. Klub-klub Asia, termasuk Indonesia, kerap memantau pemain seperti ini. Namun, dengan kembalinya Masuaku ke Turki, peluang itu sirna. Pertanyaan selanjutnya: akankah Konyaspor menjadi tempat kebangkitan terakhir Masuaku, atau hanya menjadi babak penutup karier yang penuh pasang surut?



