Piala Eropa 2032: Italia Suntik €4,5 Miliar untuk Wajah Baru Stadion
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Italia mengalokasikan €4,5 miliar investasi swasta untuk 16 proyek stadion di 13 kota sebagai persiapan Piala Eropa 2032.
- Sebagian besar arena yang diusulkan, termasuk dua di Roma, masih dalam tahap perencanaan dan perizinan, menunjukkan tantangan birokrasi yang besar.
- Pengecualian Bergamo dan Udine dari daftar calon tuan rumah memicu pertanyaan tentang kriteria seleksi, sementara Palermo muncul sebagai kandidat kuat berkat dukungan investor asing.

Pemerintah Italia berkomitmen menggelontorkan €4,5 miliar dana swasta untuk merombak total infrastruktur stadion nasional, sebuah langkah yang diyakini Menteri Olahraga Andrea Abodi akan mengubah wajah sepak bola Italia secara fundamental menjelang perhelatan Piala Eropa 2032 yang akan digelar bersama Turki.
Abodi, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa proyek ini merupakan yang terbesar dalam sejarah sepak bola Italia, melibatkan 13 kota dan 16 proyek stadion. Namun, di balik ambisi besar tersebut, banyak dari proyek itu masih berada di atas kertas. Dari tiga stadion yang diusulkan di Roma, hanya satu yang sudah berdiri; dua lainnya bahkan belum memiliki izin perencanaan. Situasi serupa terjadi di Cagliari dan Milan, di mana stadion baru untuk Inter dan AC Milan yang akan menggantikan San Siro pun masih dalam tahap awal.
Pemerintah di bawah kepemimpinan Giorgia Meloni telah berupaya memangkas birokrasi yang selama ini menjadi momok pembangunan stadion di Italia, termasuk dengan menunjuk komisaris khusus untuk mempercepat proses perizinan. Abodi menekankan bahwa targetnya adalah menghadirkan stadion yang modern, fungsional, dan berkelanjutan pada 2032, sekaligus memperbaiki wajah kota-kota penyelenggara. FIGC dijadwalkan menyerahkan daftar final calon tuan rumah, termasuk cadangan, kepada UEFA pada Oktober mendatang.
Yang menarik, daftar 13 kota tersebut tidak mencakup Bergamo dan Udine, dua kota yang justru memiliki stadion paling modern dan siap pakai. Keputusan ini memicu spekulasi bahwa UEFA mungkin mempertimbangkan faktor lain, seperti potensi komersial dan daya tarik wisata, daripada sekadar kesiapan infrastruktur. Sementara itu, Palermo muncul sebagai kandidat kuat, didukung oleh pemilik klub yang juga menaungi Manchester City, yang berambisi merevitalisasi Stadio Barbera.
Bagi Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran berharga. Investasi besar dalam infrastruktur olahraga, jika dikelola dengan transparan dan efisien, dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi dan pariwisata. Namun, tanpa perencanaan matang dan komitmen politik yang kuat, proyek semacam ini berisiko mangkrak, seperti yang terjadi pada beberapa proyek stadion di tanah air. Keberhasilan Italia dalam mengejar target 2032 akan menjadi studi kasus menarik bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang tengah giat membangun infrastruktur olahraga.
Abodi menyebut transformasi ini sebagai 'perubahan yang mengubah wajah sepak bola Italia', dan pemerintahannya siap mengambil peran sebagai promotor dan koordinator. Namun, pertanyaan besarnya adalah: akankah semua proyek ini selesai tepat waktu? Dengan pengalaman masa lalu yang seringkali tertunda, publik Italia pun menanti bukti nyata di lapangan. Jika berhasil, Piala Eropa 2032 bukan hanya akan menjadi ajang olahraga, tetapi juga tonggak kebangkitan infrastruktur Italia.



