Jaissle Gantikan Howe di Newcastle: Era Baru dengan Filosofi Red Bull
Baca dalam 60 detik
- Pemerintahan Trump merilis laporan setebal 100 halaman yang menuding Kuba sebagai pusat komunisme global dan dalang gerakan kiri radikal di AS.
- Laporan tersebut dinilai sebagai alat politik untuk membenarkan sanksi ekonomi, blokade minyak, hingga potensi intervensi militer AS ke Kuba.
- Kampanye ini didorong oleh kebutuhan Trump akan kemenangan diplomatik pasca perang Iran dan upaya menggalang suara pemilih sayap kanan pada pemilu paruh waktu November.

Newcastle United memasuki babak baru setelah Eddie Howe secara mengejutkan memutuskan mundur dari kursi pelatih. Manajemen klub yang didanai konsorsium Arab Saudi itu pun bergerak cepat dengan menunjuk Matthias Jaissle, pelatih muda Jerman berusia 38 tahun yang dikenal lewat kiprahnya di RB Salzburg dan Al Ahli.
Howe meninggalkan warisan yang sulit ditandingi. Ia mengangkat Newcastle dari jurang degradasi menjadi juara Carabao Cup, mengakhiri paceklik trofi selama puluhan tahun, serta dua kali membawa The Magpies ke Liga Champions. Namun, performa tim pada musim 25/26 yang berakhir di peringkat ke-12, ditambah hengkangnya Anthony Gordon dan Sandro Tonali serta kemungkinan perginya Bruno Guimarães, membuat suasana di Tyneside berubah drastis.
Jaissle bukan nama asing di Eropa. Ia membangun reputasi di jaringan pelatih Red Bull sebelum menjuarai Liga Austria dua kali bersama Salzburg. Kepindahannya ke Al Ahli pada 2023 sempat dianggap langkah mundur, tetapi ia membuktikan diri dengan menjuarai Liga Champions Asia, sekaligus menunjukkan kemampuannya menangani pemain bintang seperti Ivan Toney, Riyad Mahrez, dan Franck Kessié.
Sky Sports pundit Kevin Hatchard memuji langkah Newcastle. “Mereka berhasil mendapatkan Jaissle setelah kerja luar biasanya di Arab Saudi dan Salzburg. Gaya sepak bolanya cepat, vertikal, dan berakar pada filosofi Red Bull yang populer oleh Ralf Rangnick,” ujarnya. Rangnick sendiri pernah menjadi pelatih interim Manchester United dan dikenal sebagai arsitek sepak bola pressing.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia yang menggemari Premier League, gaya Jaissle menjanjikan tontonan atraktif. Filsafat Red Bull yang mengedepankan pressing tinggi, transisi cepat, dan serangan langsung kerap menjadi kiblat klub-klub Asia, termasuk beberapa klub di Liga 1. Jaissle juga diyakini akan memberikan lebih banyak peluang kepada pemain muda yang memiliki stamina dan kecepatan tinggi.
Tantangan terbesar Jaissle adalah waktu. Ia datang hanya beberapa pekan sebelum musim baru Premier League bergulir, dengan skuad yang masih dalam proses perombakan. Mempertahankan standar permainan sambil menerapkan pendekatan baru menjadi ujian awal yang krusial. Namun, optimisme tetap ada karena gaya bermain Jaissle tidak sepenuhnya asing bagi pemain Newcastle yang terbiasa dengan energi dan agresivitas di era Howe.
Ke depan, publik St. James’ Park menanti apakah Jaissle mampu menuliskan babak sukses baru. Dengan fondasi filosofi yang jelas dan keberanian manajemen mengambil risiko, Newcastle mungkin tidak perlu menunggu lama untuk kembali bersaing di papan atas.



