Aturan Sekolah 'Hitam' di Jepang: Memeriksa Warna Rambut Alami Bisa Dianggap Pelecehan
Baca dalam 60 detik
- Seorang pengacara pendidikan di Jepang menyatakan bahwa aturan sekolah yang mewajibkan siswa mengecat rambut hitam alami dapat dikategorikan sebagai pelecehan ilegal jika dilakukan pemeriksaan ketat.
- Aturan 'hitam' atau overly strict ini menjadi sorotan setelah banyak siswa melaporkan tekanan psikologis akibat harus mengubah penampilan alami mereka.
- Kasus ini memicu diskusi tentang batasan wewenang sekolah di Jepang dan relevansinya dengan kebijakan serupa di Indonesia yang kerap mengatur penampilan siswa secara ketat.

Aturan sekolah yang mewajibkan siswa mengecat rambut hitam alami mereka—dikenal sebagai 'black school rules'—kini berpotensi digugat sebagai bentuk pelecehan ilegal di Jepang. Seorang pengacara spesialis pendidikan menyatakan bahwa pemeriksaan ketat terhadap kepatuhan aturan ini dapat masuk kategori perundungan atau pelecehan yang melanggar hukum.
Pernyataan tersebut muncul dalam kuis berita harian The Mainichi pada 30 Juli, yang menguji pengetahuan publik tentang isu-isu terkini di Jepang. Pertanyaan yang diajukan adalah: jenis aturan sekolah 'hitam' apa yang bisa dianggap sebagai pelecehan jika diperiksa pelanggarannya? Jawabannya adalah aturan yang mewajibkan siswa dengan rambut alami bukan hitam untuk mewarnainya menjadi hitam.
Aturan semacam ini bukanlah hal baru di Jepang. Banyak sekolah menengah pertama dan atas masih menerapkan kebijakan ketat yang mengatur penampilan siswa, termasuk warna rambut, panjang rok, dan bahkan warna pakaian dalam. Namun, kritik terhadap aturan-aturan ini semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah sejumlah siswa melaporkan tekanan psikologis dan diskriminasi akibat kebijakan tersebut.
Dalam konteks Indonesia, aturan sekolah yang ketat juga bukan hal asing. Banyak sekolah mewajibkan siswa memiliki rambut pendek bagi laki-laki dan tidak boleh dicat bagi perempuan. Bahkan, beberapa sekolah pernah melarang siswa menggunakan jilbab atau aksesori tertentu. Meskipun tujuannya adalah menciptakan disiplin, kebijakan semacam ini kerap menuai kritik karena dianggap melanggar hak individu dan keberagaman.
Menurut analis pendidikan, kasus di Jepang ini bisa menjadi preseden bagi negara lain, termasuk Indonesia, untuk mengevaluasi kembali aturan-aturan sekolah yang terlalu ketat. “Aturan harusnya mendukung perkembangan siswa, bukan menjadi beban psikologis,” ujar seorang pengamat pendidikan. Ia menambahkan bahwa sekolah perlu lebih fleksibel dalam menghadapi perbedaan alami siswa, seperti warna rambut atau bentuk fisik.
Ke depannya, apakah Jepang akan merevisi aturan-aturan 'hitam' ini? Atau justru Indonesia yang akan lebih dulu melonggarkan kebijakan serupa? Pertanyaan ini layak dijawab oleh para pemangku kebijakan pendidikan di kedua negara.



