Mengapa Odysseus Tak Langsung Pulang? Trauma Perang dan Cedera Moral dalam The Odyssey
Baca dalam 60 detik
- Interpretasi baru The Odyssey versi Nolan menyoroti keengganan Odysseus mengakui identitasnya sebagai bentuk trauma perang, bukan sekadar strategi.
- Konsep cedera moral, yang berfokus pada rasa bersalah akibat tindakan melanggar nilai, lebih relevan daripada PTSD untuk memahami karakter Odysseus.
- Kisah klasik ini masih digunakan dalam program terapi veteran, menunjukkan bahwa trauma sering tak bisa diceritakan langsung, melainkan perlu diselipkan secara perlahan.

Odysseus, pahlawan Yunani yang legendaris, menghabiskan dua dekade berjuang pulang ke Ithaca setelah Perang Troya. Namun, ketika akhirnya tiba, ia tak langsung mengumumkan siapa dirinya. Ia justru menyamar sebagai pengemis, mengarang kisah hidup palsu, dan menguji kesetiaan istrinya, Penelope. Bagi banyak orang, ini mungkin tampak sebagai strategi atau naluri bertahan. Namun, interpretasi modern, termasuk yang diusung sutradara Christopher Nolan dalam film terbarunya, menawarkan perspektif yang lebih gelap: Odysseus mungkin menderita trauma perang yang mendalam, yang membuatnya tak sanggup menceritakan kisahnya sendiri.
Psikiater Jonathan Shay, dalam bukunya Odysseus in America (2002), adalah salah satu yang pertama menghubungkan perilaku Odysseus dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang dialami veteran Perang Vietnam. Ia mencatat bahwa sikap Odysseus—kehilangan kepercayaan, mati rasa emosional, dan kewaspadaan berlebihan—sangat mirip dengan kondisi para veteran. Namun, pertanyaan apakah Odysseus mengidap PTSD kini sudah terlalu sering diulang hingga kehilangan ketajamannya. Pertanyaan yang lebih menarik, menurut para akademisi, adalah mengapa puisi epik Homer sendiri enggan membiarkan Odysseus mengakui penderitaannya secara terbuka.
Sejak era 1990-an, teori trauma yang dipelopori kritikus sastra Cathy Caruth menekankan bahwa trauma bukan ditentukan oleh peristiwa itu sendiri, melainkan oleh ketidakmampuan seseorang untuk menghayatinya secara utuh saat terjadi. Akibatnya, peristiwa traumatis tak bisa diceritakan secara langsung; ia muncul kembali dalam bentuk pengulangan, penyamaran, dan pecahan ingatan. Sigmund Freud sebelumnya juga menggambarkan fenomena serupa: pengalaman traumatis berulang dalam bentuk aksi, bukan ingatan yang lugas. Jika dibaca dengan kacamata ini, paruh kedua The Odyssey bukan lagi sekadar kisah kepulangan, melainkan sebuah pertunjukan penghindaran yang sistematis.
Alih-alih PTSD, konsep yang lebih produktif untuk memahami Odysseus adalah cedera moral. Istilah ini, yang bukan diagnosis medis, menggambarkan dampak psikologis akibat melakukan, membiarkan, atau gagal mencegah sesuatu yang melanggar nilai moral seseorang. Jika PTSD berpusat pada rasa takut, cedera moral berpusat pada rasa bersalah. Odysseus kehilangan semua anak buahnya dalam perjalanan pulang, dan ia terus-menerus menuturkan kembali kematian mereka—seolah narasi itu adalah urusan yang tak kunjung usai. Kecerdasannya yang terkenal berubah menjadi perenungan obsesif, penyesalan tanpa henti atas keputusan yang berujung pada tewasnya para kru.
Film Nolan, yang dibintangi Matt Damon sebagai Odysseus dan Anne Hathaway sebagai Penelope, mendorong interpretasi ini lebih jauh. Dalam film, sosok Athena yang muncul di akhir cerita lebih mirip manifestasi ingatan Odysseus tentang seorang pendeta perempuan yang tewas di Troya—rasa bersalah yang menjelma dalam wajah familier, bukan rasa takut. Dengan kata lain, Odysseus tidak bersembunyi dari warga Ithaca; ia bersembunyi dari keharusan mengakui secara terbuka apa yang telah dan gagal ia lakukan selama perang.
Penafsiran ini bukan sekadar keingintahuan akademis. Program seperti Theater of War karya Bryan Doerries telah lama menggunakan tragedi Yunani Kuno untuk membantu para veteran perang mengekspresikan pengalaman mereka. Premisnya: kisah-kisah klasik menyediakan wadah yang sah untuk menyuarakan hal-hal yang sulit diungkapkan secara langsung. Kebenaran tentang kekerasan dan kehilangan jarang bisa disampaikan secara gamblang; ia harus diselipkan secara perlahan. Homer sendiri tidak pernah menyelesaikan kisah Odysseus secara tuntas—epik berakhir dengan Odysseus bersiap meninggalkan rumah lagi, sementara kisahnya tetap tak terucapkan.
Bagi pembaca di Indonesia, relevansi kisah ini terletak pada pemahaman bahwa trauma perang dan cedera moral bukanlah monopoli budaya Barat. Konflik di berbagai daerah, dari Aceh hingga Papua, meninggalkan luka yang tak kalah dalam pada para kombatan dan masyarakat sipil. Program serupa Theater of War bisa menjadi inspirasi untuk pendekatan terapi berbasis seni dan sastra yang lebih kontekstual. Pertanyaan yang tersisa: mampukah kita, seperti Argos, mengenali penderitaan tanpa perlu bukti dan penjelasan?



